Dalam doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”


Advertisements

Tik Tok Tik Tok

“Tik tok tik tok” (sumber: Pinterest)

Tik tok tik tok.

Suara detik jam itu menemaniku malam ini. Oh tidak, lebih tepatnya menggangguku yang tengah berkontemplasi dengan bayanganmu.

Tik tok tik tok.

Suara itu lagi. Apakah dia tidak tahu bahwa itu mengganggu?

Tidak bisakah aku hanya berdua dengan bayanganmu di kepalaku. Berdansa. Tertawa.

Tik tok tik tok.

Sial! Suara itu kembali membuyarkan imajinasiku.

Semakin sulit bagiku menggambarkan dirimu. Jangankan senyummu, wajahmu saja sudah tak tergambar di kepalaku.

Sudah berapa lama? 1 bulan, 2 bulan? Rasanya belum lama. Mengapa menyiksa bagai 1 dekade. De-ka-de. 10 tahun.

Aku rindu.

Tik tok tik tok.

Suara detik jam itu semakin melambat. Detak jantungku sebaliknya. Berdegup semakin cepat.

Apa kabarmu?

Aku resah.

Tik tok tik tok.

Tetiba terdengar suara Gajah. Telepon genggamku berbunyi. Kamu.

“Hai!” sapamu.

“Halo!”

“Apa kabar?”

“Baik. Kamu?”

“Aku juga baik.”

Tik tok tik tok.

Hening.

Aku rindu.

“Bagaimana dengan kekasihmu?” ucap bibirku.

“Baik. Dia rindu kamu. Pesannya kapan kita bisa bertemu?”

Kamu tidak rindu? Aku mau bertemu tapi cuma sama kamu.

“Boleh! Nanti jadwalkan ya. Pekan ini aku agak sibuk. Mungkin pekan depan,” jawabku.

Thanks sudah selalu mengimbangi dia dan menjadi teman baik kami ya!”

Teman baik. Pahit. Tapi aku tertawa.

No problem, mate!

Dalam diam hatiku masih penuh karenamu.

*Jakarta, 11 Februari 2017. Diselesaikan pukul 00.58

Sore dan Secangkir Kopi

“Secangkir kopi di sisi jendela.” (source: Pinterest)

Sore ini aku kembali melamun sembari menanti pesananku datang.

Semuanya sama seperti biasa. Meja di sudut dengan akses ke jendela, secangkir kopi tanpa gula yang kupesan, pelayan yang mengelap meja dengan ritme kanan-kiri-kanan-kiri.

Tempat ini cukup ramai di jam-jam seperti ini. Tetap saja, keramaian itu tidak mampu menembus kepalaku. Seperti biasa.

Kepalaku selalu dipenuhi keriuhannya sendiri.

Deadline, pekerjaan, anak kelaparan di Afrika, gaji yang belum setengah bulan sudah menipis, Gajah yang ditembak mati untuk diambil gadingnya, sahabatku yang akan menikah bulan depan, adikku yang nilainya merosot semester ini. Apapun.

Acak.

Namun di keriuhan kali ini muncul sesuatu yang tidak kuduga-duga, kau.

Tetiba aku kesulitan bernafas.

Bahkan ketika pesananku datang, aku tidak melemparkan senyum dan mengucapkan terima kasih seperti biasanya.

Mungkin pelayan itu heran. Biasanya aku meluangkan waktu barang sejenak untuk menyapa dan menanyakan kabarnya.

Tapi aku tidak peduli.

Aku sibuk menenangkan kepalaku yang semakin riuh.

Sesak.

Menghimpit.

Kemudian wajahmu di kepalaku.

Kau tertawa. Matamu berbinar. Mengejek.

Aku hanya ingin melihatmu tertawa di hadapanku. Di depan mataku.

Kuraih cangkir kopi lalu kusesap perlahan. Kopi ini kesukaanku. Apa kesukaanmu?

Lalu kau yang ada di kepalaku menjawab, “Kau.”

Aku tertawa terpingkal. Kepala-kepala menoleh. Berpasang mata menatap. Ingin tahu apa yang lucu.

Aku memasang wajah minta maaf lalu kembali menyelami ruang-ruang di kepalaku.

Tidak apa jika tidak hari ini, mungkin besok atau lusa. Kucoba menenangkan hatiku.

Sebab mereka bilang apa yang diciptakan untukku tidak akan melewatkanku.

Begitupun kau.