Hari ini…

Hari ini…
“Kau selalu bisa memilih untuk lupa…” Source: Flickr

Hari ini satu Gajah mati di Gayo Lues. Jantan. Jika kata peribahasa, harusnya dia meninggalkan gading. Sayangnya tidak. Justru dia tinggalkan seekor Gajah kecil.

Gajah kecil kini sendiri. Tanpa Ayah, tanpa kawan. Aku bertanya-tanya, bagaimana perasaan Gajah kecil. Apakah dia sedih? Apakah dia bingung? Yang terpenting, apakah dia merindukan Ayahnya?

Ayah Gajah mati, tergeletak. Diracun! Membengkak saat ditemukan di kebun milik si A. Belalai terpotong. Gadingnya hilang. Mungkin Gajah kecil sudah menangis sejak Ayahnya mengejang, melawan, saat nafas terakhir ditarik bersama jiwa. Meratap. Tak ada yang mendengar.

Siapa bilang kehilangan itu enak? Apalagi jika kehilangan itu mendadak. Tanpa aba-aba. Siapa bilang ditinggalkan itu biasa saja? Sakit tahu! Coba kau rasakan.

Belum lagi kalau dipisahkannya bukan oleh kematian. Ditinggalkan. Sendirian. Kau meratap semalaman, tapi tak seorangpun mendengar. Esoknya kau lihat yang kau ratapi tertawa. Baik-baik saja. Sementara kau tidur tanpa membersihkan make-up hingga maskara rontok di atas bantal. Kan sial.

Untunglah kau manusia. Kau bukan Gajah yang ingatannya luar biasa panjang. Kau selalu bisa memilih untuk lupa setelah kenyang meratap. Sama seperti kau selalu lupa dimana kau taruh kunci, dimana kau letakkan ponselmu. Yah kau kan pelupa.

Jika tidak, kau bisa simpan ingatan itu baik-baik dalam peti yang terkunci di sudut. Lalu melenggang melanjutkan hidup. Nanti juga lupa.

Tenang, manusia itu makhluk pelupa kok!

Salam,

Advertisements

Sore dan Secangkir Kopi

“Secangkir kopi di sisi jendela.” (source: Pinterest)

Sore ini aku kembali melamun sembari menanti pesananku datang.

Semuanya sama seperti biasa. Meja di sudut dengan akses ke jendela, secangkir kopi tanpa gula yang kupesan, pelayan yang mengelap meja dengan ritme kanan-kiri-kanan-kiri.

Tempat ini cukup ramai di jam-jam seperti ini. Tetap saja, keramaian itu tidak mampu menembus kepalaku. Seperti biasa.

Kepalaku selalu dipenuhi keriuhannya sendiri.

Deadline, pekerjaan, anak kelaparan di Afrika, gaji yang belum setengah bulan sudah menipis, Gajah yang ditembak mati untuk diambil gadingnya, sahabatku yang akan menikah bulan depan, adikku yang nilainya merosot semester ini. Apapun.

Acak.

Namun di keriuhan kali ini muncul sesuatu yang tidak kuduga-duga, kau.

Tetiba aku kesulitan bernafas.

Bahkan ketika pesananku datang, aku tidak melemparkan senyum dan mengucapkan terima kasih seperti biasanya.

Mungkin pelayan itu heran. Biasanya aku meluangkan waktu barang sejenak untuk menyapa dan menanyakan kabarnya.

Tapi aku tidak peduli.

Aku sibuk menenangkan kepalaku yang semakin riuh.

Sesak.

Menghimpit.

Kemudian wajahmu di kepalaku.

Kau tertawa. Matamu berbinar. Mengejek.

Aku hanya ingin melihatmu tertawa di hadapanku. Di depan mataku.

Kuraih cangkir kopi lalu kusesap perlahan. Kopi ini kesukaanku. Apa kesukaanmu?

Lalu kau yang ada di kepalaku menjawab, “Kau.”

Aku tertawa terpingkal. Kepala-kepala menoleh. Berpasang mata menatap. Ingin tahu apa yang lucu.

Aku memasang wajah minta maaf lalu kembali menyelami ruang-ruang di kepalaku.

Tidak apa jika tidak hari ini, mungkin besok atau lusa. Kucoba menenangkan hatiku.

Sebab mereka bilang apa yang diciptakan untukku tidak akan melewatkanku.

Begitupun kau.