Just unfollow, please!

“Fkin socmed phenomenon.” Source: wheelie good guys

Kadang suka bingung when someone says, “Ih ngapain sih lo post mulu. Tiap gue buka home pasti ada post lo.”

Hellaw my dear friend! I never begging you to follow me. You should know it better. To follow is your right, to post is mine. But then if you find my feed are extremely annoying to the level that you feel ‘omg-lolagi-lolagi’ just unfollow, please! Really i will never question you ‘why-you-have-to-unfoll-me’ then sulking all day long. We’re adult, don’t make a little unimportant thing looks big. Will you?

Salam,

Tik Tok Tik Tok

“Tik tok tik tok” (sumber: Pinterest)

Tik tok tik tok.

Suara detik jam itu menemaniku malam ini. Oh tidak, lebih tepatnya menggangguku yang tengah berkontemplasi dengan bayanganmu.

Tik tok tik tok.

Suara itu lagi. Apakah dia tidak tahu bahwa itu mengganggu?

Tidak bisakah aku hanya berdua dengan bayanganmu di kepalaku. Berdansa. Tertawa.

Tik tok tik tok.

Sial! Suara itu kembali membuyarkan imajinasiku.

Semakin sulit bagiku menggambarkan dirimu. Jangankan senyummu, wajahmu saja sudah tak tergambar di kepalaku.

Sudah berapa lama? 1 bulan, 2 bulan? Rasanya belum lama. Mengapa menyiksa bagai 1 dekade. De-ka-de. 10 tahun.

Aku rindu.

Tik tok tik tok.

Suara detik jam itu semakin melambat. Detak jantungku sebaliknya. Berdegup semakin cepat.

Apa kabarmu?

Aku resah.

Tik tok tik tok.

Tetiba terdengar suara Gajah. Telepon genggamku berbunyi. Kamu.

“Hai!” sapamu.

“Halo!”

“Apa kabar?”

“Baik. Kamu?”

“Aku juga baik.”

Tik tok tik tok.

Hening.

Aku rindu.

“Bagaimana dengan kekasihmu?” ucap bibirku.

“Baik. Dia rindu kamu. Pesannya kapan kita bisa bertemu?”

Kamu tidak rindu? Aku mau bertemu tapi cuma sama kamu.

“Boleh! Nanti jadwalkan ya. Pekan ini aku agak sibuk. Mungkin pekan depan,” jawabku.

Thanks sudah selalu mengimbangi dia dan menjadi teman baik kami ya!”

Teman baik. Pahit. Tapi aku tertawa.

No problem, mate!

Dalam diam hatiku masih penuh karenamu.

*Jakarta, 11 Februari 2017. Diselesaikan pukul 00.58

Menuju 1675mdpl yang Gagal

“W lcome, w lcome!” (source: pribadi)

Start dari rumah kesiangan, jam 09.30 saya baru berangkat menuju Terminal Rambutan dengan harapan saya akan dapat duduk dengan nyaman sampai pertigaan Cibodas. Harapan palsu! Apa mau dikata, saat saya sampai pas sekali ada Bus Marita. Sudah naik, eh ternyata tak lewat Ciawi. “Macet!” kata si Bapak kernet. Ya sudah, saya memutuskan untuk turun di Jalan Baru dan naik angkot ke stasiun Tg. Barat. Kita coba jalur lain wkwkwk.

Hujan mengiringi perjalanan saya ke stasiun. Jam 10.26 akhirnya saya tiba di Stasiun Tg. Barat dan setelah 10 menit menanti, kereta tujuan Bogor pun datang. Pintu kereta dibuka, alhamdulillah saya tak dapat kursi tapi dapat gerbong yang lumayan lowong.

Sampai Depok, eh banyak yang turun. Yay! Dapat duduk!!! Fufufu. Since dahulu kala relasi Jakarta-Bogor adalah favorit saya. Karena lumayan panjang untuk berkontemplasi tapi juga tidak cukup panjang untuk membuat kaki (kala berdiri) atau pantat (kala duduk) pegal.

11.34 sy keluar dari stasiun. Tetiba hujan deras. Akhirnya saya menggunakan jas hujan walau telat, sudah terlanjur sayang. Eh maksudnya terlanjur basah wkwk. Saya berjalan dan menepi untuk berteduh bersama sekian kepala di BJB Kapten Muslihat. Saat hujan mereda saya memutuskan naik Gojek ke Mal Eka Lokasari. Kenapa ga naik angkot 02 rute Bubulak-Sukasari? Karena saya bermaksud mengonfirmasi rute yang akan saya ambil untuk menuju Cibodas. Toh ongkosnya pun beda tipis.

12.19 saya tiba di Sukasari dan tidak lama angkot tujuan Cisarua pun datang. Sebetulnya ada opsi naik Gojek atau naik L300, tapi untuk alasan berhemat waktu dan uang saya memutuskan keep on the track. Lagipula saya berniat untuk mencoba juga ke Cibodas by angkot haha.

Oh ya pas di Rancamaya seorang pengamen naik, eh suaranya lumayan. Tapi bete banget pas dia bilang, “Makasih Kakak Fatin.” saat dikasih selembar rupiah. Fuhhh. Wajah saya kurang authentic sepertinya. Dari zaman kuliah dan Fatin booming, sampai sekarang masih saja sering dimirip-miripin sama Fatin.

Jam 13.32 baru saja angkot jurusan Cisarua yang saya naiki melakukan u-turn untuk ambil arah Puncak dan Gadog. Tua di jalan? Nah, it’s fine. Cuma deg-degan abis karena sisa cuma saya dan seorang penumpang lain dengan anaknya. Semoga tak diturunkan di tengah jalan sebelum Pasar Cisarua.

Saya sampai di Pasar Cisarua pukul 14.33. Jadi berapa ongkosnya dari Elos? 15ribu saja. Biasanya 10ribu kata Supir angkot tsb tapi karena macet jadi dimarkup. “Gapapa.” ujar saya sambil tertawa. 15ribu aja rasanya sudah murah sekali kok karena macet totals dan angkotnya kosong. Saya serasa naik taksi hanya tanpa AC dan sedikit kurang nyaman karena tanpa sandaran kursi. Sandaran bahu apalagi. Alamak!

Kemudian saya naik angkot L300 jurusan Cipanas-Cianjur. Kosong pulak. Semoga tidak ngetem-ngetem karena Cibeureum tutup jam 17.00, batin saya.

16.05 akhirnya saya sampai di pertigaan cibodas. Fuhhh macet bukan main. Langsung saya ke Alfamart untuk membeli beberapa cemilan. Setelah itu saya menyeberang dan mulai berjalan karena belum terlihat ada angkot kuning yang ke arah Cibodas. Sekitar 200m berjalan, ada yang klakson-klakson. Saya sudah mau marah, eh ternyata angkot. Akhirnya saya naik angkot, lumayan lah 3km-an.

Saya sampai di balai sekitar jam 16.30. Segera saya hampiri para Bapak dekat gerbang. Benar saja, saya sudah tidak diperbolehkan naik ke Cibeureum. Tutup jam 15.00 katanya. Damn! Bapak-bapak tersebut menyarankan saya untuk ke Canopy Bridge saja. Tapi saya bersikeras, cuma mau ke pos pemeriksaan kok, gapapa kalau nanti disuruh turun lagi. Akhirnya setelah berbincang-bincang dan saya meminta untuk difoto di dekat tulisan balai, saya berjalan ke pos pemeriksaan (resort) dengan diiringi teriakan, “Lagian sendiri sih. Jones.” dari Bapak-Bapak tersebut. Wk!

Jones kata Bapak-Bapak di Balai (source: pribadi)

Saya sampai di pos pemeriksaan setelah berjalan sekitar 15 menit. Bertemulah saya dengan Pak Iwan salah seorang staf resort yang sudah tentu melarang saya naik. Akhirnya saya bercakap-cakap dengan beliau. Agak lama datang 2 orang Abang-Abang yang habis mengantar tamu. Ternyata Abang bernama Bang Kemi dan Bang Ifan tersebut adalah salah dua volunteer Montana.

Dat view! (source: pribadi)

Kami mengobrol sampai ada panggilan untuk makan di basecamp. Asik makan gratis hahaha. Di basecamp saya berkenalan dengan volunteer yang lain, yakni Bang Benito, Bang Mutardi, Bang Oyot, Bang Iyan, Balunk, Bang Lukman, Bang Mursidi, Bang Jamal, eh udah disebut semua belum ya. Duh kebiasaan jelek suka lupa nama orang. Saya juga berkenalan dengan dua tamu yang sebelumnya diantar Bang Ke (panggilan Bang Kemi) untuk ke Canopy Bridge yaitu Novi dan kawannya (lupa namanya).

Mereka juga tidak boleh naik karena kesorean (source: pribadi)

Untuk dinner menunya sayur asem, ikan asin, dan sambal buatan Bang Oyot yang duhh enak banget. Sayang saya lagi konsisten diet jadi makannya porsi extra terbatas. Setelah makan, saya dan Novi mencuci piring. Really, for the sake of humanity kalau numpang makan atau tidur di tempat orang minimal bantu kerjaan kecil yaa (Tips traveling 101).

Lampu-lampu dangdut di Basecamp Montana (source: pribadi)

Sesudahnya ya biasa bercengkrama, ngopi, nyanyi-nyanyi, sampai akhirnya saya memutuskan untuk pulang jam 21.15. Saya memang gagal ke Cibeureum karena hal teknis, kesorean. Tapi saya dapat lebih dari sekedar swafoto di air terjun, yakni kawan baru. Thanks a lot untuk jamuan, obrolan, dan penerimaannya ya Bang-Abangs!

Prinsip saya, kemanapun saya pergi minimal harus mendapat kawan baru. Sepele tapi penting untuk make sure kamu menambah jaringan saat berpergian. We’re social creatures kan? Nggak rugi deh kenalan sama orang dan tukaran kontak. You don’t know if someday it will benefits you, right? At least saya bisa ikut beberapa kegiatan mereka yang agaknya menarik daaan tadi saya sudah dijanjiin mau diajak panjat sih. Wk. Don’t underestimate the power of networking!

Last but not least, tujuan saya traveling singkat dalam sehari ini tercapai sih. Kalau kata Pak Terry Pratchett, “Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”

Salam!

Five Weeks in a Balloon

“This is Africa!” (source: http://www.maps.com)

So, saya merasa sangat buntu padahal sudah 2 hari menyepi dan bekerja di luar. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca salah satu novel dari seorang Sci-Fi Writer andalangue dan idolaqu sepanjang masa, Jules Verne. 

Sama seperti semua novelnya yang lain, novel ini bisa membawa saya berjalan-jalan tanpa harus berjalan-jalan *apasih.

But seriously, you’ll be amazed dengan fakta bahwa Pak Verne itu adalah orang yang nggak pernah kemana-mana karena Bapaknya pernah minta beliau untuk janji cuma akan traveling in his imagination. Dan voila, anak lawyer yang disuruh jadi lawyer tapi gamau ini ended jadi “pencerita” berbagai destinasi yang gila banget.

Bahkan kalau kamu googling Jules Verne Tour and/or Journey banyak banget penyedia layanan perjalanan untuk menelusuri jejak-jejak dari novel Verne.

And he kept his promise. Bahkan dia ga cuma traveling dalam pikirannya doang tapi ngajak kita untuk mengunjungi berbagai destinasi yang oh you can really imagine berpergian sesuai dengan alur bukunya.

This one is oke beraaat! Karena doi memang agak surrealis jadi yaa ceritanya memang cenderung fantasi berbalut data dan fakta. Bapak Sci-Fi gitu. Agaknya ini menjadi my second fav after 20.000 Leagues Under the Sea. J’adore Monsieur Verne 😍😍😍 Sy makin bangga jadi Vernian.

Oh iya ini buku ke 6 dari target 55 buku di tahun ini. Progressnya lamban banget huks. Semoga targetnya tercapai. God bless!

Salam,

Bagaimana Saya Mengatasi Kecemasan

Bagaimana Saya Mengatasi Kecemasan
“No, you’re not crazy if you talk to yourself.” (source: likesuccess.com)

Saya menemukan fakta yang lucu bahwa sebenarnya sangat mudah bagi saya untuk mengatasi kecemasan. FYI, saya sering sekali merasa anxious about almost everything.

Malam tadi hal itu terjadi lagi. I felt so damn anxious and there were no living creatures around, even in any messenger services. So I decided to shalat and pray, then cry like a baby while praying.

After that I decided to write some notes for myself. No, not this one. I wrote it in my notebook then read it aloud. After 2 or 3 times read it, I recorded the notes and play it several times. Now I feel so much better.

Even if I feel sad or lonely, now I know I will never be literally alone. I have myself, and I have Allah by my side. Sometimes it’s good to have a proper conversation with yourself I guess. Below are some words from my notes:

“It’s okay for you to feel sad, lonely, anxious, or if you ever feel lost it’s okay. I just want you to know that I won’t go anywhere. Even if the world hates you, even if everyone, every single person in this world ever leave you, I won’t. We’re unite, we’re linked by our soul. You are me, and vice versa. You won’t ever be alone.”

To accept Allah’s destiny is hard. But if you can do it, you’ll be the happiest living creature in the world (lebay!)

Salam,

Sore dan Secangkir Kopi

“Secangkir kopi di sisi jendela.” (source: Pinterest)

Sore ini aku kembali melamun sembari menanti pesananku datang.

Semuanya sama seperti biasa. Meja di sudut dengan akses ke jendela, secangkir kopi tanpa gula yang kupesan, pelayan yang mengelap meja dengan ritme kanan-kiri-kanan-kiri.

Tempat ini cukup ramai di jam-jam seperti ini. Tetap saja, keramaian itu tidak mampu menembus kepalaku. Seperti biasa.

Kepalaku selalu dipenuhi keriuhannya sendiri.

Deadline, pekerjaan, anak kelaparan di Afrika, gaji yang belum setengah bulan sudah menipis, Gajah yang ditembak mati untuk diambil gadingnya, sahabatku yang akan menikah bulan depan, adikku yang nilainya merosot semester ini. Apapun.

Acak.

Namun di keriuhan kali ini muncul sesuatu yang tidak kuduga-duga, kau.

Tetiba aku kesulitan bernafas.

Bahkan ketika pesananku datang, aku tidak melemparkan senyum dan mengucapkan terima kasih seperti biasanya.

Mungkin pelayan itu heran. Biasanya aku meluangkan waktu barang sejenak untuk menyapa dan menanyakan kabarnya.

Tapi aku tidak peduli.

Aku sibuk menenangkan kepalaku yang semakin riuh.

Sesak.

Menghimpit.

Kemudian wajahmu di kepalaku.

Kau tertawa. Matamu berbinar. Mengejek.

Aku hanya ingin melihatmu tertawa di hadapanku. Di depan mataku.

Kuraih cangkir kopi lalu kusesap perlahan. Kopi ini kesukaanku. Apa kesukaanmu?

Lalu kau yang ada di kepalaku menjawab, “Kau.”

Aku tertawa terpingkal. Kepala-kepala menoleh. Berpasang mata menatap. Ingin tahu apa yang lucu.

Aku memasang wajah minta maaf lalu kembali menyelami ruang-ruang di kepalaku.

Tidak apa jika tidak hari ini, mungkin besok atau lusa. Kucoba menenangkan hatiku.

Sebab mereka bilang apa yang diciptakan untukku tidak akan melewatkanku.

Begitupun kau.