Kok sendirian Mbak?

Kok sendirian Mbak?
“Kok sendirian Mbak? Jomblo ya?” Source: aurbataokuch.com

Sebagai seorang perempuan yang sering sekali kemana-mana sendirian, saya mendapati bahwa masyarakat Indonesia masih memandangnya sebagai sesuatu yang asing. Tidak pernah saya berpergian sendirian tanpa ada mulut yang sangat perhatian dan bertanya, “Kok sendirian Mbak?” Kalau pertanyaan tersebut ditanyakan oleh perempuan lain seperti Ibu-Ibu atau Mbak-Mbak saya biasanya hanya menjawab iya sembari tersenyum. Tapi ketika ditanyakan oleh lelaki, yang terdengar di telinga saya adalah nada yang mengganggu. Ditanggapi salah, tidak ditanggapi salah. Seperti hari ini.

Pagi tadi saya impulsively pergi ke Kebun Binatang Ragunan. Niatnya olahraga pagi, lari-lari kecil karena trek di Ragunan yang naik turun cocok untuk latihan fisik sebelum pendakian bulan depan. Dari rumah saya berangkat sudah agak siang, sekitar pukul 7 dalam keadaan belum mandi dengan berbekalkan tas kecil berisi dompet, handphone, earphone, dan sunscreen. All the essentials. 

“JakCard bergambar Gajah.” Source: pribadi

Setelah perjalanan sekitar 15-20 menit saya sampai di parkir motor ragunan. Ternyata JakCard saya saldonya sisa 1.500 sehingga harus diisi terlebih dahulu. Akhirnya saya tinggal kartunya untuk diisi di pos masuk parkir sembari memarkir motor. Tidak lama saya kembali untuk mengambil JakCard saya dan Mas-Mas yang jaga pos berkomentar, “Pagi banget, Mbak.” Saya hanya menjawab iya sembari tersenyum sopan. Kemudian ada seorang penjaga lainnya yang agak lebih tua menyambung, “Mau olahraga ya? Kok sendirian Mbak?” Saya lagi-lagi hanya menjawab iya. Namun kali ini diikuti dengan kalimat, “Mari, Pak!”

“Kenapa ada patung Gajah Afrika di antara para Pelikan Kacamata?” Source: pribadi

Setelahnya saya melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk. Melewati kandang Binturong dan Rakun, kemudian menghampiri kandang Pelikan untuk mengambil foto serta bersiap-siap untuk berlari. Saya menyalakan Nike+ Run dan Spotify, lalu saya mulai berlari. Hari ini saya langsung ke arah kandang Harimau dan Singa baru kemudian memutar ke arah Orangutan lalu ke depan lagi melewati kandang burung. Setelahnya saya kembali mengambil jalan melewati masjid namun kali ini tidak belok ke arah kandang Harimau melainkan lurus menuju kandang Gajah. Total saya hanya berlari sejauh 1,2km dalam waktu 8 menit-an.

“I could sit all day watching the Elephants eating.” Source: pribadi

Sesampai di kandang Gajah yang terletak di Jalan Gajah Barat saya duduk di paving sembari bersandar ke kursi yang letaknya sekitar 5 meter dari pembatas kandang. Namun saya berkali-kali berdiri dan menghampiri kandang setiap kali Gajahnya mendekat. Pas sekali saat saya berdiri ada sekitar 4 orang berseragam yang baru datang. Salah satu diantaranya minta difoto kemudian saya agak bergeser untuk memberikan ruang.

“He’s teasing her. What a lovebird slash elephant.” Source: pribadi

Saya sedang diam sembari melihat Gajah ketika orang yang mengambil foto berkata, “Wah kurang bagus soalnya sendirian. Mbak tolong ditemani dong.” Jujur saya malas sekali dengan cara-cara seperti itu. Walau saya misuh-misuh dalam hati namun saya hanya menjawab, “Oh enggak makasih.” Saya pikir selesai sampai situ, ternyata saya salah. Tidak lama orang yang tadi difoto bertanya kepada saya, “Kok sendirian Mbak?”

“Saya ga sendirian kok. Saya ditemani Gajah yang cantik ini.” Source: pribadi

Shietz. I really hate that kind of question. Bukan, bukan karena sedih sendirian. Terus ingat mantan, galau, risau, malu karena jomblo dan ga punya kawan. Bukan. Pertanyaan itu hampir selalu terdengar seksis bagi saya. Kenapa memangnya kalau sendirian? Apa karena saya perempuan? Apa segitu anehnya perempuan pergi sendirian, bahkan ke Ragunan yang bisa dibilang cuma sepelemparan batu dari rumah saya? Apa perempuan memang ga bisa or ga boleh pergi sendirian? Dunno, dat kind of question sounds stupid dan sangat seksis aja bagi saya. Apalagi saya bisa membedakan mana yang nanya karena betulan peduli, mana yang cuma basa-basi, dan mana yang merupakan pick-up line ga penting. Dikiranya kalau perempuan sendirian berarti minta digodain atau lagi cari lelaki mungkin.

Saya semakin furious karena saya sudah menunjukkan gesture terganggu tapi orang ini tidak melihatnya. Saya hanya menjawab, “Iya.” Tetapi orang tersebut terus melanjutkan percakapan sebagaimana di bawah ini. Yang di dalam kurung adalah komentar atau pisuhan saya ya.

Orang asing (OA): Memang dari mana Mbak?

Saya (S): Dari rumah. (Fyi, saya sudah membuat nada suara saya terdengar sangat terganggu.)

OA: Haha iya rumahnya dimana?

S: Dekat sini. (Damn! Do you really need to ask all of this question when my gestures and my answers already shows that I’m friggin annoyed?)

OA: Haha iya dekat sini itu dimana?

S: Pasar Rebo.

OA: Sesudah Pasar Selasa ya?

S: Ya disitulah. (Wtf wtf wtf! I’m trying so damn hard not to throw any anger. This is my moment with Elephant. I don’t want any punk with uniform ruin my day.)

OA: Kok ga ada yang nemenin? Emang ga apa-apa pergi sendirian, ga ada yang nyariin? Apa habis putus ya?

S: Enggak. (Really pertanyaan ini udah bikin saya fed up banget. Jijik. Kesannya perempuan sangat depending sekali sama lelaki. Sama pacar. Sama suami.)

OA: Kalau Pasar Minggu jauh gak dari sini Mbak?

S: Lumayan.

OA: Berapa km?

S: Sekitar 3-4 km mungkin.

OA: Oh berarti bisa jalan kaki ya?

S: Bisa. (Another sexist question karena ketika saya bilang bisa dia tertawa. Mungkin dipikirnya saya bercanda. Eh sorry ya saya biasa lari pagi lewatin pinggir tol TB Simatupang terus mutar ke sisi pinggir tol Taman Mini. Itu bisa 3,5-4 km.)

OA: Saya ga tau sih ya soalnya saya bukan orang sini. Sering kesini Mbak?

S: Lumayan. Saya suka Gajah. (Udah tahu ga tahu ngapain nanya-nanya. Ga faedah.)

OA: Oh. Hahaha emang apanya yang disukai dari Gajah? 

S: Banyak. (Saya sudah malas jawabnya karena nada pertanyaannya terdengar seperti memang-apa-bagusnya-sih-gajah.)

OA: Disini selain Gajah hewannya ada apa aja ya?

S: Banyak. Harimau, Singa, Beruang.

OA: Dinosaurus ada ga?

S: Ga ada. Adanya buaya.

OA: Kalau Harimau sama Singa di sebelah mana Mbak?

S: Di tengah.

OA: Jauh Mbak? Nanti nyasar lagi.

S: Enggak. Ikuti saja petunjuknya. Ada di setiap sudut.

OA: Ya tetap aja nanti nyasar karena ga tau jalan.

S: Ya. (Saya tau jawaban ini ga nyambung sama sekali. Tapi saya benar-benar tidak dalam mood untuk bersosialisasi apalagi melakukan basa-basi macam ini.)

Eh kebetulan setelah itu ada satu keluarga yang mau berfoto. Saya kemudian bergeser menjauh sehingga antara saya dan orang tersebut dibatasi keluarga yang berfoto. Tidak lama orang-orang berseragam itu kemudian pergi dan berkata, “Mari Mbak.”

Akhirnyaaa pergi juga ampun. Saya benciiii sekali kalau saya sudah menunjukkan saya sangat terganggu tapi orang masih insist untuk mengajak bicara. Saya jarang menunjukkan saya terganggu soalnya. Demi kesopanan. Kalau saya sudah menunjukkan berarti itu sudah parah banget menurut standar saya.

Saya tidak paham apa yang jadi masalah ketika perempuan pergi sendirian, berduaan, bertigaan, atau bahkan ramean tanpa lelaki. Apa iya mindsetnya perempuan itu ga bisa pergi sendirian atau hanya bersama perempuan lainnya? Apa iya serentan dan selemah itu perempuan di mata society?

Bukan sekali dua saya pergi sendirian dan ditanya, “Kok sendirian Mbak?” Biasanya pertanyaan itu akan diikuti dengan, “Emang pacarnya kemana?” I really really fed up with that sexist question. Terkesan sekali perempuan itu ga bisa berpergian kalau ga sama pacar/suami/pokoknya lelaki.

Ya ampun, saya bahkan manjat Salak sendirian walau nggak muncak. Iya tahu itu nggak baik, nggak aman. Paham betul. Wkwk. Terlepas dari kenakalan saya yang tidak mengikuti safety procedure, saya cuma mau bilang perempuan itu tidak lemah. Di Yogya misalnya saya sering naik motor kemana-mana sendiri. Antar kota antar provinsi malah. Saya puluhan kali naik-turun Gunung Api Purba Nglanggeran sendirian. Cuma untuk makan pisang. Pergi ke pantai sendirian buat liat sunset. Bahkan ke rumah sakit sendirian pas punya pacar. Wkwk.

Di Kalimantan Timur  malah saya naik motor dari Samarinda ke Tenggarong sendirian. Lewat jalan berkelok-kelok yang kadang longsor di beberapa tempat. Dulu pun ketika disana, sering banget saya jadi korban harassment lewat omongan lelaki cuma karena saya kemana-mana sendirian. Cat-calling mah makanan sehari-hari. Saya sampai ribut sama seorang pekerja tambang saat makan di Berau karena merasa dilecehkan. Memang betul kata Bang TM, energi tengkar saya terlalu kuat. Hahaha. Saya tidak tahu dengan perempuan lain, tapi saya sadari keberanian saya lahir karena didikan Bapak yang keras dan juga fakta bahwa saya latihan beladiri taekwondo sejak kelas 3 SD sampai lulus SMA. Saya juga sempat menjajal Capoeira walau akhirnya saya berhenti, tidak sanggup karena harus melakukan akrobatik. Iya saya paling benci akrobatik. Disuruh jungkir balik. Mengerikan.

However, perjalanan hari ini mengingatkan saya kembali bahwa masalah utama bukan terletak pada kesetaraan. Kenapa? Karena tanpa perlu meminta sekalipun perempuan jelas setara dengan lelaki. Satu hal yang jelas-jelas gagal dipenuhi adalah lingkungan yang melahirkan rasa aman dan nyaman bagi perempuan untuk berkarya dan beraktivitas. Bebas dari kungkungan mindset yang sempit, pandangan yang mencela dan merendahkan, serta cara-cara purba dalam bersikap terhadap perempuan.

Salam hangat,



Advertisements

What is the problem of our law enforcement exactly?

What is the problem of our law enforcement exactly?
“There’s no such thing like justice for all.” (Source: static.aqa.org.uk)

So, one of my friend suddenly chat me in Instagram and ask for my opinion about law enforcement in Indonesia. His question: 

Menurutmu, apakah penegakan hukum indonesia kedepan bergantung pada masa lalu indonesia? Misal kasus 98, pemberontakan pki, papua barat, gam dll..

For that question, I definitely answer no right away. A big big no. Supposedly no. Why? I said because it’s not included in ‘faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum’ such as the law itself, the law enforcers, the law infrastructure and facility, the society, and the culture. Theoretical answer, lol.

After that my friend sent me a paper from Yap Thiam Hien Human Rights Lecture on 24 March 2017, titled “Looking Backward to Look Forwards: A Stronger Future for Indonesia Rooted in Justice”. I read it then I said to him, “I’ve read it, but I still don’t want to think that law enforcement depends on the history. It’s all about good and political will.”

I mean, all the impunity stuff not happen because there were once human right cases. The impunity itself is the problem of our law enforcement. Hey, the jurist once fight for exception of non-retroactive principle so there will be no such thing like impunity, right?
Regarding to the paper, if we talk about our country past sins I will happily say that the problem are us. Not the past. Why our country sins, why not our government sins? Because we, as a member of this nation also guilty for omission tho’ the court never give any of us a damn verdict. In fact we let our government, our law enforcers, and even ourself abusing our dear friends, our brothers and sisters across this country. Till now. Like a bunch of losers.

We let our country abuses some people right of justice, to be submit in a free and independent trial, and we even let some sinners moves freely while our dearest friends, brothers, and sisters still asking where the hell are their son, their daughter, their parents,  their husband, their wife, and their justice.

And how we connect the dots of the past with current law enforcement? I will easily say, after that so called Reform in 1998 nothing was change. Sure we have all of that media to complain, all that instrument to spit our bitterness with all things happen in our country, but still we are too good to stand for our friends, brothers, and sisters. We still blame a wife for begging the President for justice as a nagging old lady. That he can’t move on and don’t understand the President is so damn busy. Really guys? Is that even a good word to say for someone misfortune?

Oh and we even still easily say that the Papuans are total traitors when all they want are just freedom and independency to choose their own destiny. To be rich in their land of paradise. Not being sell and bargain like a piece of thing. They aren’t things. They are human beings. Capable to think and feel. Just like you.

So I would like to say that the biggest problem of our law enforcement are us. We see how the government and law enforcers straddling the law. We see how they not really interest with any human rights issues. We see how they don’t have any good or political will. But we embrace them, we don’t fight them, or easily we just close our eyes and our ears. We just don’t care. As long as it doesn’t affects us. Until one day, they bite you right in your head then you’ll cry like a baby. Hope someone to stand for you and help you dealing with that so called great government, great president, or great policy. Well done!

Salam,

Mereka bilang

Mereka bilang
“Do you hear it crack under your shoe, Sir?” Source: tonibologna.com

Mereka bilang cinta harus disampaikan. Jika tidak kau akan menyesal.

Aku pernah menyampaikan, tapi kemudian aku menyesal. Akhirnya kutanya Tuhan, mengapa jadi begini?

Kali lain mereka bilang jika cinta simpan baik-baik dalam hati, biar kau dan Tuhanmu sajalah yang tahu.

Aku pernah menyimpan, tapi ternyata rasanya sesak. Tidak enak. Sudah pasti tidak baik.

Ada lagi mereka bilang, jika cinta maka perjuangkan.

Suatu kali bukan main kuperjuangkan, esoknya ku dicampakkan. Sial.

Lain lagi yang bilang, lepaskanlah kalau cinta. Pasti akan kembali jika memang untukmu.

Kucoba lepaskan, kemudian ia menghilang. Bagai kupu-kupu yang kemarin kulihat di taman.

Entah sial pangkat dua atau malah berkah tak terhingga karena aku tak jatuh terlalu dalam. Ku rutuki keoptimisanku menghadapi patah hati.

Sekarang kupikir tak ada rumus terbaik untuk itu. Lakukan sajalah apa yang kau percayai. Yakin saja, Tuhan tahu siapa dan kapan waktu yang tepat.

Jangan sesali yang terungkap. Jangan rutuki yang sudah pergi. Syukuri saja yang tetap bertahan. Jika tak ada? Berdoa sajalah. Siapa tahu Tuhanmu sedang berbaik hati.

Siapa tahu…

*Diselesaikan pada 9 April 2017, pukul 03.21 AM di Jakarta


Dalam doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”


Just unfollow, please!

“Fkin socmed phenomenon.” Source: wheelie good guys

Kadang suka bingung when someone says, “Ih ngapain sih lo post mulu. Tiap gue buka home pasti ada post lo.”

Hellaw my dear friend! I never begging you to follow me. You should know it better. To follow is your right, to post is mine. But then if you find my feed are extremely annoying to the level that you feel ‘omg-lolagi-lolagi’ just unfollow, please! Really i will never question you ‘why-you-have-to-unfoll-me’ then sulking all day long. We’re adult, don’t make a little unimportant thing looks big. Will you?

Salam,

Tik Tok Tik Tok

“Tik tok tik tok” (sumber: Pinterest)

Tik tok tik tok.

Suara detik jam itu menemaniku malam ini. Oh tidak, lebih tepatnya menggangguku yang tengah berkontemplasi dengan bayanganmu.

Tik tok tik tok.

Suara itu lagi. Apakah dia tidak tahu bahwa itu mengganggu?

Tidak bisakah aku hanya berdua dengan bayanganmu di kepalaku. Berdansa. Tertawa.

Tik tok tik tok.

Sial! Suara itu kembali membuyarkan imajinasiku.

Semakin sulit bagiku menggambarkan dirimu. Jangankan senyummu, wajahmu saja sudah tak tergambar di kepalaku.

Sudah berapa lama? 1 bulan, 2 bulan? Rasanya belum lama. Mengapa menyiksa bagai 1 dekade. De-ka-de. 10 tahun.

Aku rindu.

Tik tok tik tok.

Suara detik jam itu semakin melambat. Detak jantungku sebaliknya. Berdegup semakin cepat.

Apa kabarmu?

Aku resah.

Tik tok tik tok.

Tetiba terdengar suara Gajah. Telepon genggamku berbunyi. Kamu.

“Hai!” sapamu.

“Halo!”

“Apa kabar?”

“Baik. Kamu?”

“Aku juga baik.”

Tik tok tik tok.

Hening.

Aku rindu.

“Bagaimana dengan kekasihmu?” ucap bibirku.

“Baik. Dia rindu kamu. Pesannya kapan kita bisa bertemu?”

Kamu tidak rindu? Aku mau bertemu tapi cuma sama kamu.

“Boleh! Nanti jadwalkan ya. Pekan ini aku agak sibuk. Mungkin pekan depan,” jawabku.

Thanks sudah selalu mengimbangi dia dan menjadi teman baik kami ya!”

Teman baik. Pahit. Tapi aku tertawa.

No problem, mate!

Dalam diam hatiku masih penuh karenamu.

*Jakarta, 11 Februari 2017. Diselesaikan pukul 00.58

Menuju 1675mdpl yang Gagal

“W lcome, w lcome!” (source: pribadi)

Start dari rumah kesiangan, jam 09.30 saya baru berangkat menuju Terminal Rambutan dengan harapan saya akan dapat duduk dengan nyaman sampai pertigaan Cibodas. Harapan palsu! Apa mau dikata, saat saya sampai pas sekali ada Bus Marita. Sudah naik, eh ternyata tak lewat Ciawi. “Macet!” kata si Bapak kernet. Ya sudah, saya memutuskan untuk turun di Jalan Baru dan naik angkot ke stasiun Tg. Barat. Kita coba jalur lain wkwkwk.

Hujan mengiringi perjalanan saya ke stasiun. Jam 10.26 akhirnya saya tiba di Stasiun Tg. Barat dan setelah 10 menit menanti, kereta tujuan Bogor pun datang. Pintu kereta dibuka, alhamdulillah saya tak dapat kursi tapi dapat gerbong yang lumayan lowong.

Sampai Depok, eh banyak yang turun. Yay! Dapat duduk!!! Fufufu. Since dahulu kala relasi Jakarta-Bogor adalah favorit saya. Karena lumayan panjang untuk berkontemplasi tapi juga tidak cukup panjang untuk membuat kaki (kala berdiri) atau pantat (kala duduk) pegal.

11.34 sy keluar dari stasiun. Tetiba hujan deras. Akhirnya saya menggunakan jas hujan walau telat, sudah terlanjur sayang. Eh maksudnya terlanjur basah wkwk. Saya berjalan dan menepi untuk berteduh bersama sekian kepala di BJB Kapten Muslihat. Saat hujan mereda saya memutuskan naik Gojek ke Mal Eka Lokasari. Kenapa ga naik angkot 02 rute Bubulak-Sukasari? Karena saya bermaksud mengonfirmasi rute yang akan saya ambil untuk menuju Cibodas. Toh ongkosnya pun beda tipis.

12.19 saya tiba di Sukasari dan tidak lama angkot tujuan Cisarua pun datang. Sebetulnya ada opsi naik Gojek atau naik L300, tapi untuk alasan berhemat waktu dan uang saya memutuskan keep on the track. Lagipula saya berniat untuk mencoba juga ke Cibodas by angkot haha.

Oh ya pas di Rancamaya seorang pengamen naik, eh suaranya lumayan. Tapi bete banget pas dia bilang, “Makasih Kakak Fatin.” saat dikasih selembar rupiah. Fuhhh. Wajah saya kurang authentic sepertinya. Dari zaman kuliah dan Fatin booming, sampai sekarang masih saja sering dimirip-miripin sama Fatin.

Jam 13.32 baru saja angkot jurusan Cisarua yang saya naiki melakukan u-turn untuk ambil arah Puncak dan Gadog. Tua di jalan? Nah, it’s fine. Cuma deg-degan abis karena sisa cuma saya dan seorang penumpang lain dengan anaknya. Semoga tak diturunkan di tengah jalan sebelum Pasar Cisarua.

Saya sampai di Pasar Cisarua pukul 14.33. Jadi berapa ongkosnya dari Elos? 15ribu saja. Biasanya 10ribu kata Supir angkot tsb tapi karena macet jadi dimarkup. “Gapapa.” ujar saya sambil tertawa. 15ribu aja rasanya sudah murah sekali kok karena macet totals dan angkotnya kosong. Saya serasa naik taksi hanya tanpa AC dan sedikit kurang nyaman karena tanpa sandaran kursi. Sandaran bahu apalagi. Alamak!

Kemudian saya naik angkot L300 jurusan Cipanas-Cianjur. Kosong pulak. Semoga tidak ngetem-ngetem karena Cibeureum tutup jam 17.00, batin saya.

16.05 akhirnya saya sampai di pertigaan cibodas. Fuhhh macet bukan main. Langsung saya ke Alfamart untuk membeli beberapa cemilan. Setelah itu saya menyeberang dan mulai berjalan karena belum terlihat ada angkot kuning yang ke arah Cibodas. Sekitar 200m berjalan, ada yang klakson-klakson. Saya sudah mau marah, eh ternyata angkot. Akhirnya saya naik angkot, lumayan lah 3km-an.

Saya sampai di balai sekitar jam 16.30. Segera saya hampiri para Bapak dekat gerbang. Benar saja, saya sudah tidak diperbolehkan naik ke Cibeureum. Tutup jam 15.00 katanya. Damn! Bapak-bapak tersebut menyarankan saya untuk ke Canopy Bridge saja. Tapi saya bersikeras, cuma mau ke pos pemeriksaan kok, gapapa kalau nanti disuruh turun lagi. Akhirnya setelah berbincang-bincang dan saya meminta untuk difoto di dekat tulisan balai, saya berjalan ke pos pemeriksaan (resort) dengan diiringi teriakan, “Lagian sendiri sih. Jones.” dari Bapak-Bapak tersebut. Wk!

Jones kata Bapak-Bapak di Balai (source: pribadi)

Saya sampai di pos pemeriksaan setelah berjalan sekitar 15 menit. Bertemulah saya dengan Pak Iwan salah seorang staf resort yang sudah tentu melarang saya naik. Akhirnya saya bercakap-cakap dengan beliau. Agak lama datang 2 orang Abang-Abang yang habis mengantar tamu. Ternyata Abang bernama Bang Kemi dan Bang Ifan tersebut adalah salah dua volunteer Montana.

Dat view! (source: pribadi)

Kami mengobrol sampai ada panggilan untuk makan di basecamp. Asik makan gratis hahaha. Di basecamp saya berkenalan dengan volunteer yang lain, yakni Bang Benito, Bang Mutardi, Bang Oyot, Bang Iyan, Balunk, Bang Lukman, Bang Mursidi, Bang Jamal, eh udah disebut semua belum ya. Duh kebiasaan jelek suka lupa nama orang. Saya juga berkenalan dengan dua tamu yang sebelumnya diantar Bang Ke (panggilan Bang Kemi) untuk ke Canopy Bridge yaitu Novi dan kawannya (lupa namanya).

Mereka juga tidak boleh naik karena kesorean (source: pribadi)

Untuk dinner menunya sayur asem, ikan asin, dan sambal buatan Bang Oyot yang duhh enak banget. Sayang saya lagi konsisten diet jadi makannya porsi extra terbatas. Setelah makan, saya dan Novi mencuci piring. Really, for the sake of humanity kalau numpang makan atau tidur di tempat orang minimal bantu kerjaan kecil yaa (Tips traveling 101).

Lampu-lampu dangdut di Basecamp Montana (source: pribadi)

Sesudahnya ya biasa bercengkrama, ngopi, nyanyi-nyanyi, sampai akhirnya saya memutuskan untuk pulang jam 21.15. Saya memang gagal ke Cibeureum karena hal teknis, kesorean. Tapi saya dapat lebih dari sekedar swafoto di air terjun, yakni kawan baru. Thanks a lot untuk jamuan, obrolan, dan penerimaannya ya Bang-Abangs!

Prinsip saya, kemanapun saya pergi minimal harus mendapat kawan baru. Sepele tapi penting untuk make sure kamu menambah jaringan saat berpergian. We’re social creatures kan? Nggak rugi deh kenalan sama orang dan tukaran kontak. You don’t know if someday it will benefits you, right? At least saya bisa ikut beberapa kegiatan mereka yang agaknya menarik daaan tadi saya sudah dijanjiin mau diajak panjat sih. Wk. Don’t underestimate the power of networking!

Last but not least, tujuan saya traveling singkat dalam sehari ini tercapai sih. Kalau kata Pak Terry Pratchett, “Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”

Salam!