Kenapa bukan kamu?

Kenapa bukan kamu?
“Kadang kamu hanya perlu melihat lebih dekat, lebih dalam…” Source: flickr.com self-reflection(s) by Ikadelway

“Kenapa aku?”

“Kenapa bukan kamu? Kamu sangat pintar, kamu menyenangkan, dan kamu punya senyum tercantik di mataku.”

“Ah sudahlah! Kamu memang perayu ulung.”

“Aku serius. Kamu yang perlu berhenti menilai dirimu kurang dari itu.”

Kadang kamu kurang menghargai dirimu. Kadang kamu membiarkan orang menilaimu dari kepala sampai kaki seperti kontes di televisi. Kadang kamu menelan mentah-mentah pendapat orang tentang dirimu lalu menyesali kekuranganmu. Sering yang kamu butuhkan hanya seseorang untuk mengingatkan betapa luar biasanya dirimu dan membuat pipimu memerah karenanya. Jika tidak ada maka ingatlah kata ajaib ini,

“Kamu luar biasa dan aku menyayangimu dimanapun kamu berada.”

Salam sayang,

Kok sendirian Mbak?

Kok sendirian Mbak?
“Kok sendirian Mbak? Jomblo ya?” Source: aurbataokuch.com

Sebagai seorang perempuan yang sering sekali kemana-mana sendirian, saya mendapati bahwa masyarakat Indonesia masih memandangnya sebagai sesuatu yang asing. Tidak pernah saya berpergian sendirian tanpa ada mulut yang sangat perhatian dan bertanya, “Kok sendirian Mbak?” Kalau pertanyaan tersebut ditanyakan oleh perempuan lain seperti Ibu-Ibu atau Mbak-Mbak saya biasanya hanya menjawab iya sembari tersenyum. Tapi ketika ditanyakan oleh lelaki, yang terdengar di telinga saya adalah nada yang mengganggu. Ditanggapi salah, tidak ditanggapi salah. Seperti hari ini.

Pagi tadi saya impulsively pergi ke Kebun Binatang Ragunan. Niatnya olahraga pagi, lari-lari kecil karena trek di Ragunan yang naik turun cocok untuk latihan fisik sebelum pendakian bulan depan. Dari rumah saya berangkat sudah agak siang, sekitar pukul 7 dalam keadaan belum mandi dengan berbekalkan tas kecil berisi dompet, handphone, earphone, dan sunscreen. All the essentials. 

“JakCard bergambar Gajah.” Source: pribadi

Setelah perjalanan sekitar 15-20 menit saya sampai di parkir motor ragunan. Ternyata JakCard saya saldonya sisa 1.500 sehingga harus diisi terlebih dahulu. Akhirnya saya tinggal kartunya untuk diisi di pos masuk parkir sembari memarkir motor. Tidak lama saya kembali untuk mengambil JakCard saya dan Mas-Mas yang jaga pos berkomentar, “Pagi banget, Mbak.” Saya hanya menjawab iya sembari tersenyum sopan. Kemudian ada seorang penjaga lainnya yang agak lebih tua menyambung, “Mau olahraga ya? Kok sendirian Mbak?” Saya lagi-lagi hanya menjawab iya. Namun kali ini diikuti dengan kalimat, “Mari, Pak!”

“Kenapa ada patung Gajah Afrika di antara para Pelikan Kacamata?” Source: pribadi

Setelahnya saya melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk. Melewati kandang Binturong dan Rakun, kemudian menghampiri kandang Pelikan untuk mengambil foto serta bersiap-siap untuk berlari. Saya menyalakan Nike+ Run dan Spotify, lalu saya mulai berlari. Hari ini saya langsung ke arah kandang Harimau dan Singa baru kemudian memutar ke arah Orangutan lalu ke depan lagi melewati kandang burung. Setelahnya saya kembali mengambil jalan melewati masjid namun kali ini tidak belok ke arah kandang Harimau melainkan lurus menuju kandang Gajah. Total saya hanya berlari sejauh 1,2km dalam waktu 8 menit-an.

“I could sit all day watching the Elephants eating.” Source: pribadi

Sesampai di kandang Gajah yang terletak di Jalan Gajah Barat saya duduk di paving sembari bersandar ke kursi yang letaknya sekitar 5 meter dari pembatas kandang. Namun saya berkali-kali berdiri dan menghampiri kandang setiap kali Gajahnya mendekat. Pas sekali saat saya berdiri ada sekitar 4 orang berseragam yang baru datang. Salah satu diantaranya minta difoto kemudian saya agak bergeser untuk memberikan ruang.

“He’s teasing her. What a lovebird slash elephant.” Source: pribadi

Saya sedang diam sembari melihat Gajah ketika orang yang mengambil foto berkata, “Wah kurang bagus soalnya sendirian. Mbak tolong ditemani dong.” Jujur saya malas sekali dengan cara-cara seperti itu. Walau saya misuh-misuh dalam hati namun saya hanya menjawab, “Oh enggak makasih.” Saya pikir selesai sampai situ, ternyata saya salah. Tidak lama orang yang tadi difoto bertanya kepada saya, “Kok sendirian Mbak?”

“Saya ga sendirian kok. Saya ditemani Gajah yang cantik ini.” Source: pribadi

Shietz. I really hate that kind of question. Bukan, bukan karena sedih sendirian. Terus ingat mantan, galau, risau, malu karena jomblo dan ga punya kawan. Bukan. Pertanyaan itu hampir selalu terdengar seksis bagi saya. Kenapa memangnya kalau sendirian? Apa karena saya perempuan? Apa segitu anehnya perempuan pergi sendirian, bahkan ke Ragunan yang bisa dibilang cuma sepelemparan batu dari rumah saya? Apa perempuan memang ga bisa or ga boleh pergi sendirian? Dunno, dat kind of question sounds stupid dan sangat seksis aja bagi saya. Apalagi saya bisa membedakan mana yang nanya karena betulan peduli, mana yang cuma basa-basi, dan mana yang merupakan pick-up line ga penting. Dikiranya kalau perempuan sendirian berarti minta digodain atau lagi cari lelaki mungkin.

Saya semakin furious karena saya sudah menunjukkan gesture terganggu tapi orang ini tidak melihatnya. Saya hanya menjawab, “Iya.” Tetapi orang tersebut terus melanjutkan percakapan sebagaimana di bawah ini. Yang di dalam kurung adalah komentar atau pisuhan saya ya.

Orang asing (OA): Memang dari mana Mbak?

Saya (S): Dari rumah. (Fyi, saya sudah membuat nada suara saya terdengar sangat terganggu.)

OA: Haha iya rumahnya dimana?

S: Dekat sini. (Damn! Do you really need to ask all of this question when my gestures and my answers already shows that I’m friggin annoyed?)

OA: Haha iya dekat sini itu dimana?

S: Pasar Rebo.

OA: Sesudah Pasar Selasa ya?

S: Ya disitulah. (Wtf wtf wtf! I’m trying so damn hard not to throw any anger. This is my moment with Elephant. I don’t want any punk with uniform ruin my day.)

OA: Kok ga ada yang nemenin? Emang ga apa-apa pergi sendirian, ga ada yang nyariin? Apa habis putus ya?

S: Enggak. (Really pertanyaan ini udah bikin saya fed up banget. Jijik. Kesannya perempuan sangat depending sekali sama lelaki. Sama pacar. Sama suami.)

OA: Kalau Pasar Minggu jauh gak dari sini Mbak?

S: Lumayan.

OA: Berapa km?

S: Sekitar 3-4 km mungkin.

OA: Oh berarti bisa jalan kaki ya?

S: Bisa. (Another sexist question karena ketika saya bilang bisa dia tertawa. Mungkin dipikirnya saya bercanda. Eh sorry ya saya biasa lari pagi lewatin pinggir tol TB Simatupang terus mutar ke sisi pinggir tol Taman Mini. Itu bisa 3,5-4 km.)

OA: Saya ga tau sih ya soalnya saya bukan orang sini. Sering kesini Mbak?

S: Lumayan. Saya suka Gajah. (Udah tahu ga tahu ngapain nanya-nanya. Ga faedah.)

OA: Oh. Hahaha emang apanya yang disukai dari Gajah? 

S: Banyak. (Saya sudah malas jawabnya karena nada pertanyaannya terdengar seperti memang-apa-bagusnya-sih-gajah.)

OA: Disini selain Gajah hewannya ada apa aja ya?

S: Banyak. Harimau, Singa, Beruang.

OA: Dinosaurus ada ga?

S: Ga ada. Adanya buaya.

OA: Kalau Harimau sama Singa di sebelah mana Mbak?

S: Di tengah.

OA: Jauh Mbak? Nanti nyasar lagi.

S: Enggak. Ikuti saja petunjuknya. Ada di setiap sudut.

OA: Ya tetap aja nanti nyasar karena ga tau jalan.

S: Ya. (Saya tau jawaban ini ga nyambung sama sekali. Tapi saya benar-benar tidak dalam mood untuk bersosialisasi apalagi melakukan basa-basi macam ini.)

Eh kebetulan setelah itu ada satu keluarga yang mau berfoto. Saya kemudian bergeser menjauh sehingga antara saya dan orang tersebut dibatasi keluarga yang berfoto. Tidak lama orang-orang berseragam itu kemudian pergi dan berkata, “Mari Mbak.”

Akhirnyaaa pergi juga ampun. Saya benciiii sekali kalau saya sudah menunjukkan saya sangat terganggu tapi orang masih insist untuk mengajak bicara. Saya jarang menunjukkan saya terganggu soalnya. Demi kesopanan. Kalau saya sudah menunjukkan berarti itu sudah parah banget menurut standar saya.

Saya tidak paham apa yang jadi masalah ketika perempuan pergi sendirian, berduaan, bertigaan, atau bahkan ramean tanpa lelaki. Apa iya mindsetnya perempuan itu ga bisa pergi sendirian atau hanya bersama perempuan lainnya? Apa iya serentan dan selemah itu perempuan di mata society?

Bukan sekali dua saya pergi sendirian dan ditanya, “Kok sendirian Mbak?” Biasanya pertanyaan itu akan diikuti dengan, “Emang pacarnya kemana?” I really really fed up with that sexist question. Terkesan sekali perempuan itu ga bisa berpergian kalau ga sama pacar/suami/pokoknya lelaki.

Ya ampun, saya bahkan manjat Salak sendirian walau nggak muncak. Iya tahu itu nggak baik, nggak aman. Paham betul. Wkwk. Terlepas dari kenakalan saya yang tidak mengikuti safety procedure, saya cuma mau bilang perempuan itu tidak lemah. Di Yogya misalnya saya sering naik motor kemana-mana sendiri. Antar kota antar provinsi malah. Saya puluhan kali naik-turun Gunung Api Purba Nglanggeran sendirian. Cuma untuk makan pisang. Pergi ke pantai sendirian buat liat sunset. Bahkan ke rumah sakit sendirian pas punya pacar. Wkwk.

Di Kalimantan Timur  malah saya naik motor dari Samarinda ke Tenggarong sendirian. Lewat jalan berkelok-kelok yang kadang longsor di beberapa tempat. Dulu pun ketika disana, sering banget saya jadi korban harassment lewat omongan lelaki cuma karena saya kemana-mana sendirian. Cat-calling mah makanan sehari-hari. Saya sampai ribut sama seorang pekerja tambang saat makan di Berau karena merasa dilecehkan. Memang betul kata Bang TM, energi tengkar saya terlalu kuat. Hahaha. Saya tidak tahu dengan perempuan lain, tapi saya sadari keberanian saya lahir karena didikan Bapak yang keras dan juga fakta bahwa saya latihan beladiri taekwondo sejak kelas 3 SD sampai lulus SMA. Saya juga sempat menjajal Capoeira walau akhirnya saya berhenti, tidak sanggup karena harus melakukan akrobatik. Iya saya paling benci akrobatik. Disuruh jungkir balik. Mengerikan.

However, perjalanan hari ini mengingatkan saya kembali bahwa masalah utama bukan terletak pada kesetaraan. Kenapa? Karena tanpa perlu meminta sekalipun perempuan jelas setara dengan lelaki. Satu hal yang jelas-jelas gagal dipenuhi adalah lingkungan yang melahirkan rasa aman dan nyaman bagi perempuan untuk berkarya dan beraktivitas. Bebas dari kungkungan mindset yang sempit, pandangan yang mencela dan merendahkan, serta cara-cara purba dalam bersikap terhadap perempuan.

Salam hangat,



Menuju 1675mdpl yang Gagal

“W lcome, w lcome!” (source: pribadi)

Start dari rumah kesiangan, jam 09.30 saya baru berangkat menuju Terminal Rambutan dengan harapan saya akan dapat duduk dengan nyaman sampai pertigaan Cibodas. Harapan palsu! Apa mau dikata, saat saya sampai pas sekali ada Bus Marita. Sudah naik, eh ternyata tak lewat Ciawi. “Macet!” kata si Bapak kernet. Ya sudah, saya memutuskan untuk turun di Jalan Baru dan naik angkot ke stasiun Tg. Barat. Kita coba jalur lain wkwkwk.

Hujan mengiringi perjalanan saya ke stasiun. Jam 10.26 akhirnya saya tiba di Stasiun Tg. Barat dan setelah 10 menit menanti, kereta tujuan Bogor pun datang. Pintu kereta dibuka, alhamdulillah saya tak dapat kursi tapi dapat gerbong yang lumayan lowong.

Sampai Depok, eh banyak yang turun. Yay! Dapat duduk!!! Fufufu. Since dahulu kala relasi Jakarta-Bogor adalah favorit saya. Karena lumayan panjang untuk berkontemplasi tapi juga tidak cukup panjang untuk membuat kaki (kala berdiri) atau pantat (kala duduk) pegal.

11.34 sy keluar dari stasiun. Tetiba hujan deras. Akhirnya saya menggunakan jas hujan walau telat, sudah terlanjur sayang. Eh maksudnya terlanjur basah wkwk. Saya berjalan dan menepi untuk berteduh bersama sekian kepala di BJB Kapten Muslihat. Saat hujan mereda saya memutuskan naik Gojek ke Mal Eka Lokasari. Kenapa ga naik angkot 02 rute Bubulak-Sukasari? Karena saya bermaksud mengonfirmasi rute yang akan saya ambil untuk menuju Cibodas. Toh ongkosnya pun beda tipis.

12.19 saya tiba di Sukasari dan tidak lama angkot tujuan Cisarua pun datang. Sebetulnya ada opsi naik Gojek atau naik L300, tapi untuk alasan berhemat waktu dan uang saya memutuskan keep on the track. Lagipula saya berniat untuk mencoba juga ke Cibodas by angkot haha.

Oh ya pas di Rancamaya seorang pengamen naik, eh suaranya lumayan. Tapi bete banget pas dia bilang, “Makasih Kakak Fatin.” saat dikasih selembar rupiah. Fuhhh. Wajah saya kurang authentic sepertinya. Dari zaman kuliah dan Fatin booming, sampai sekarang masih saja sering dimirip-miripin sama Fatin.

Jam 13.32 baru saja angkot jurusan Cisarua yang saya naiki melakukan u-turn untuk ambil arah Puncak dan Gadog. Tua di jalan? Nah, it’s fine. Cuma deg-degan abis karena sisa cuma saya dan seorang penumpang lain dengan anaknya. Semoga tak diturunkan di tengah jalan sebelum Pasar Cisarua.

Saya sampai di Pasar Cisarua pukul 14.33. Jadi berapa ongkosnya dari Elos? 15ribu saja. Biasanya 10ribu kata Supir angkot tsb tapi karena macet jadi dimarkup. “Gapapa.” ujar saya sambil tertawa. 15ribu aja rasanya sudah murah sekali kok karena macet totals dan angkotnya kosong. Saya serasa naik taksi hanya tanpa AC dan sedikit kurang nyaman karena tanpa sandaran kursi. Sandaran bahu apalagi. Alamak!

Kemudian saya naik angkot L300 jurusan Cipanas-Cianjur. Kosong pulak. Semoga tidak ngetem-ngetem karena Cibeureum tutup jam 17.00, batin saya.

16.05 akhirnya saya sampai di pertigaan cibodas. Fuhhh macet bukan main. Langsung saya ke Alfamart untuk membeli beberapa cemilan. Setelah itu saya menyeberang dan mulai berjalan karena belum terlihat ada angkot kuning yang ke arah Cibodas. Sekitar 200m berjalan, ada yang klakson-klakson. Saya sudah mau marah, eh ternyata angkot. Akhirnya saya naik angkot, lumayan lah 3km-an.

Saya sampai di balai sekitar jam 16.30. Segera saya hampiri para Bapak dekat gerbang. Benar saja, saya sudah tidak diperbolehkan naik ke Cibeureum. Tutup jam 15.00 katanya. Damn! Bapak-bapak tersebut menyarankan saya untuk ke Canopy Bridge saja. Tapi saya bersikeras, cuma mau ke pos pemeriksaan kok, gapapa kalau nanti disuruh turun lagi. Akhirnya setelah berbincang-bincang dan saya meminta untuk difoto di dekat tulisan balai, saya berjalan ke pos pemeriksaan (resort) dengan diiringi teriakan, “Lagian sendiri sih. Jones.” dari Bapak-Bapak tersebut. Wk!

Jones kata Bapak-Bapak di Balai (source: pribadi)

Saya sampai di pos pemeriksaan setelah berjalan sekitar 15 menit. Bertemulah saya dengan Pak Iwan salah seorang staf resort yang sudah tentu melarang saya naik. Akhirnya saya bercakap-cakap dengan beliau. Agak lama datang 2 orang Abang-Abang yang habis mengantar tamu. Ternyata Abang bernama Bang Kemi dan Bang Ifan tersebut adalah salah dua volunteer Montana.

Dat view! (source: pribadi)

Kami mengobrol sampai ada panggilan untuk makan di basecamp. Asik makan gratis hahaha. Di basecamp saya berkenalan dengan volunteer yang lain, yakni Bang Benito, Bang Mutardi, Bang Oyot, Bang Iyan, Balunk, Bang Lukman, Bang Mursidi, Bang Jamal, eh udah disebut semua belum ya. Duh kebiasaan jelek suka lupa nama orang. Saya juga berkenalan dengan dua tamu yang sebelumnya diantar Bang Ke (panggilan Bang Kemi) untuk ke Canopy Bridge yaitu Novi dan kawannya (lupa namanya).

Mereka juga tidak boleh naik karena kesorean (source: pribadi)

Untuk dinner menunya sayur asem, ikan asin, dan sambal buatan Bang Oyot yang duhh enak banget. Sayang saya lagi konsisten diet jadi makannya porsi extra terbatas. Setelah makan, saya dan Novi mencuci piring. Really, for the sake of humanity kalau numpang makan atau tidur di tempat orang minimal bantu kerjaan kecil yaa (Tips traveling 101).

Lampu-lampu dangdut di Basecamp Montana (source: pribadi)

Sesudahnya ya biasa bercengkrama, ngopi, nyanyi-nyanyi, sampai akhirnya saya memutuskan untuk pulang jam 21.15. Saya memang gagal ke Cibeureum karena hal teknis, kesorean. Tapi saya dapat lebih dari sekedar swafoto di air terjun, yakni kawan baru. Thanks a lot untuk jamuan, obrolan, dan penerimaannya ya Bang-Abangs!

Prinsip saya, kemanapun saya pergi minimal harus mendapat kawan baru. Sepele tapi penting untuk make sure kamu menambah jaringan saat berpergian. We’re social creatures kan? Nggak rugi deh kenalan sama orang dan tukaran kontak. You don’t know if someday it will benefits you, right? At least saya bisa ikut beberapa kegiatan mereka yang agaknya menarik daaan tadi saya sudah dijanjiin mau diajak panjat sih. Wk. Don’t underestimate the power of networking!

Last but not least, tujuan saya traveling singkat dalam sehari ini tercapai sih. Kalau kata Pak Terry Pratchett, “Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”

Salam!

Five Weeks in a Balloon

“This is Africa!” (source: http://www.maps.com)

So, saya merasa sangat buntu padahal sudah 2 hari menyepi dan bekerja di luar. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca salah satu novel dari seorang Sci-Fi Writer andalangue dan idolaqu sepanjang masa, Jules Verne. 

Sama seperti semua novelnya yang lain, novel ini bisa membawa saya berjalan-jalan tanpa harus berjalan-jalan *apasih.

But seriously, you’ll be amazed dengan fakta bahwa Pak Verne itu adalah orang yang nggak pernah kemana-mana karena Bapaknya pernah minta beliau untuk janji cuma akan traveling in his imagination. Dan voila, anak lawyer yang disuruh jadi lawyer tapi gamau ini ended jadi “pencerita” berbagai destinasi yang gila banget.

Bahkan kalau kamu googling Jules Verne Tour and/or Journey banyak banget penyedia layanan perjalanan untuk menelusuri jejak-jejak dari novel Verne.

And he kept his promise. Bahkan dia ga cuma traveling dalam pikirannya doang tapi ngajak kita untuk mengunjungi berbagai destinasi yang oh you can really imagine berpergian sesuai dengan alur bukunya.

This one is oke beraaat! Karena doi memang agak surrealis jadi yaa ceritanya memang cenderung fantasi berbalut data dan fakta. Bapak Sci-Fi gitu. Agaknya ini menjadi my second fav after 20.000 Leagues Under the Sea. J’adore Monsieur Verne 😍😍😍 Sy makin bangga jadi Vernian.

Oh iya ini buku ke 6 dari target 55 buku di tahun ini. Progressnya lamban banget huks. Semoga targetnya tercapai. God bless!

Salam,

Books: Hector and The Search of Happiness A Novel

Books: Hector and The Search of Happiness A Novel

(3/55) Happy fiiirsssttt Sunday in 2017 gaes~

So, lagi baca buku elektronik berjudul Hector and The Search for Happiness by Francois Lelord. Padahal kerjaan belum kelar tapi apalah apalah, ini kan weekend sih haha. Lelord itu aslinya adalah psikiater yg lumajan femes di French dan US. Buku ini ditulis ketika dia tiba-tiba kepikir soal hidupnya. Personally dan professionally. Sy somehow selalu suka dengan cerita pencarian seseorang, entahlah jati diri, cinta, harta karun, kebahagiaan, apapun yang dicari. Makanya Eat, Pray, Love sy suka banget sih.

Buku ini di Goodreads reviewnya beragam banget. Ada yang merasa terhibur, ada juga yg beranggapan buku ini seksis dan mengobjektifikasi perempuan. Kenapa? Karena dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Hector semacam cheating gitu. Dia berhubungan dengan wanita, but with no strings attached. Ya gitu deh. Kalo sy belum berani nyimpulin karena belum selesai bacanya hahaha.

Jujur sy tertarik sama buku ini karena covernya catchy dan fakta bahwa penulisnya adalah seorang psikiater handal yg kemudian memutuskan untuk lebih byk menulis. Gaya berceritanya ringan banget. Saking ringannya ada review di Goodreads yg blg setara gaya bercerita anak kelas 5 (5th grade). Wew. But overall menarik buat sy, cuz kalo mau baca yg sulit baca aja Plato atau Aristotle. Or Kafka deh. Wkwkwk.

Oh ya buku ini kan international bestseller ya. Awalnya diterbitin di Prancis, trus ke Jerman, kemudian negara-negara lainnya. Trus ada komen yg harsh banget dong! Intinya orang itu bilang yang-begini-doang-kok-bisa-jadi-international-bestseller. Itu sih harsh banget.

Iya ngerti itu Internet, iya ngerti kebebasan berpendapat, tapi kalimat itu seakan menyamakan mindset seluruh human being dengan mindsetnya dia. Yaa mungkin pembaca lain yg ngasih rating bagus cuma mengambil sisi hiburannya, or ada yg merasa tercerahkan, or merasa ceritanya mirip dengan dirinya, you name it lah. But yasudah lah yaa, mending lanjut baca supaya sy bisa capture secara lengkap perdebatan dunia maya atas buku ini haha.

Salam,

Books: The Single Girl’s To-Do List

Books: The Single Girl’s To-Do List

(2/55) Baru saja selesai dengan buku kedua di tahun 2017. Kali ini adalah sebuah chicklit berjudul ‘The Single Girls To-Do List by Lindsey Kelk terbitan Harper Collins. One of my friend strictly won’t read anything besides ‘sastra tingkat tinggi’ stuffs. But I’m not that picky with books. Itu sebabnya sy membaca chicklit 468 halaman ini selama total 3,7 jam dalam 2 hari.

Itulah asiknya membaca e-book dengan menggunakan moon reader. Aplikasi akan menghitung progress tiap km membaca. Sudah berapa persen dan setelah kamu selesai akan ada perhitungan berapa lama kamu menyelesaikan buku tersebut dan dari tanggal berapa sampai berapa.

Back to the book, chicklit ini bercerita tentang Rachel Summers. Out of the blue, her boyfriend for 5 year ask for a break. Things escalated quickly when he finally state for a break up. A real one. Rachel, the boring and OCD make up artist akhirnya membuat sebuah to-do list bersama dua sahabatnya, Matthew dan Emelia mengenai 10 hal yang akan Ia lakukan. 10 hal yg tidak pernah terpikir akan dilakukan seorang Rachel.

This book is addictive. Really. I love how Lindsey Kelk write all the stuffs. Buku ini bukan the-cheesy-one yang menunjukkan bahwa hidup itu mudah, sempurna, dan menemukan Mr. Right bagai membalik telapak tangan. Lindsey Kelk try to tell us, the Right Man will come in the right time after we know and accept ourself better. Buku ini juga bercerita bahwa kesempurnaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Bahwa kamu bisa bersama seseorang yang sempurna, tapi jika memang he’s not the one you won’t feel any butterfly in your stomach 😊 

Salam,

The name of the rose

The name of the rose
“What’s in your head?” (source: hippoquotes.com)

 Di usia yang baru saja memasuki angka 25 ini walau saya belum menikah dan belum juga berencana, namun sejak kuliah saya sudah merencanakan nama anak-anak saya kelak. Actually sejarah cita-cita penamaan anak saya sudah melewati cukup banyak fase. Ever since I was a student in elementary school bahkan. Wow! Saya bahkan sudah tidak ingat nama-nama tersebut. Hahaha. Biasanya saya ter-influence dengan film or apapun yang sedang hits saat itu.

Shakespeare pernah bilang, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Damn right Shake tapi saya kurang sepakat. Bagi saya nama adalah doa dan doa adalah harapan. Itu juga mungkin yang jadi alasan banyak parents wannabe sibuk searching nama calon anak lewat daring or buku nama-nama anak. Bahkan di toko buku saja buku (or should I say catalogue?) tersebut lumayan pricey.

Saya suka alam, terutama gunung, pegunungan, apapun yang memiliki altitude, you name it! Nah, karena alasan itulah nuansa alam dan pegunungan sangat kental di 3 (tiga) nama pilihan saya. Selain itu, saya ingin kelak anak-anak saya memiliki nama yang bernuansa Indonesia or Nusantara sekali. Oleh karena itu saya menghindari penggunaan nama asing yang marak sekali digunakan untuk millenials dan anak-anaknya di Indonesia. Alasannya sederhana saja, in case suatu hari nanti anak saya jadi “orang” melanglang buana dan mengglobal dia akan tetap diingat dan mudah dikenali sebagai orang Indonesia (nasionalis mode: on).

Nah sebagaimana yang saya kemukakan tadi, saat ini saya sudah memiliki 3 nama untuk my future sons and daughter, yakni: Matahari Denali, Annapurna Mahabiru, dan Aruna Mahameru. Nama-nama tersebut adalah hasil kontemplasi yang cukup panjang dan saya rasa memenuhi kriteria yang saya inginkan, yakni mengandung unsur alam dan Indonesia/Nusantara. Beberapa kawan saya sempat berkomentar soal penggunaan kata “Maha.” Menurut mereka, kata tersebut hanya pantas disandang oleh Tuhan sehingga beresiko membuat anak memiliki ego yang besar. Bagi saya tidak masalah karena nama adalah doa dan nama-nama tersebut memiliki filosofi yang baik.

Nama pertama, Matahari Denali. Matahari merupakan sumber energi, pusat tata surya di Galaksi Bimasakti, dan dengan demikian menjadi sumber kehidupan. Kenapa merkurius tidak bisa ditinggali? Karena terlalu dekat dengan matahari menyebabkan rentang temperaturnya sangat ekstrim antara -180 derajat celcius di malam hari dan mencapai 400 derajat celcius di siang hari. Kenapa neptunus tidak bisa ditinggali? Karena terlalu jauh dengan matahari sehingga neptunus menjadi planet terdingin dengan rerata temperatur -224 derajat celcius. Sementara bumi ada di jarak yang pas dengan matahari, temperatur terendah dan tertingginya masih bisa ditolerir walaupun sering dikeluhkan manusia. Sementara itu Denali adalah gunung tertinggi di Amerika Utara sehingga dikenal sebagai salah satu dari 7 summits di dunia. Denali adalah sebuah kata Athabascan yang berarti The High One. Denali dikenal sangat dingin. Namun lucunya, di malam hari temperaturnya ada di angka – 40 derajat baik dalam satuan celcius maupun fahrenheit. Berdasarkan hal itu saya beranggapan bahwa Denali adalah perlambang keseimbangan. Balance.Matahari sangat panas, sementara Denali sangat dingin. Saya berharap kelak Matahari Denali menjadi seseorang yang bermanfaat, dapat menghangatkan, tapi juga mampu mendinginkan. Seseorang yang “balance” dalam menjalani kehidupan, baik sebagai ciptaan Tuhan, individu, dan bagian dari keluarga, society, maupun ekosistem.

Nama kedua, Annapurna Mahabiru. Annapurna merupakan rangkaian pegunungan di Nepal. Nepal sendiri adalah tempat yang ingin sekali saya kunjungi. Apalagi setelah membaca novel With or Without You. Lol. Dalam bahasa sansekerta Annapurna berarti the giver of food and nourishment. Dalam budaya Hindu, Annapurna adalah seorang dewi kesuburan yang memberikan berkah berupa makanan kepada seluruh manusia. Mungkin kalau di Indonesia Dewi Sri kali ya? Makanan merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Saking vital dan mendasarnya bagi hidup manusia, seseorang bisa saja membunuh untuk makan. Mengerikan. Sementara Mahabiru adalah nama dari Puncak Rinjani. Keindahan dan kecantikannya menarik perhatian banyak orang yang mengaku mencintai alam. Disebut Mahabiru karena (katanya) saat kamu sampai puncak, kamu akan bisa melihat dua hal berwarna biru. Satu adalah langit, dan dua adalah Danau Segara Anak. Kenapa kok katanya? Lha wong saya belum pernah kesana e. Udah sering lihat gambarnya, tapi menangkap langsung dengan lensa mata kepala sendiri belum pernah haha. Nah, dua kata tadi saya sandingkan dan kelak akan saya lekatkan kepada anak perempuan saya dengan harapan dia kelak tidak hanya menjadi seorang anak yang cantik fisiknya, tapi juga cantik hatinya. Semoga dia kelak berbahagia dengan memberi manfaat dan kebahagiaan bagi orang-orang di sekelilingnya.

Ketiga dan terakhir, Aruna Mahameru. Aruna adalah bahasa sansekerta dari merah. Kenapa merah? Karena saya suka merah. Saya suka warna merah, saya suka semburat merah di langit pagi dan senja, saya suka buah arbei hutan berwarna merah, jilbab dan rucksack favorit saya berwarna merah, pokoknya saya suka merah. Titik. Sementara Mahameru adalah puncak dari Gunung Semeru. Semeru sendiri adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa. Katanya sih itu adalah puncaknya para dewa, paku tanah Jawa, etc etc etc. Nama ini kelak akan saya berikan kepada anak laki-laki saya dengan harapan dia dapat menjadi seorang anak yang berani (kan katanya merah artinya berani), tegar dan kokoh seperti gunung, namun mampu menjadi ekosistem dan pendukung bagi kehidupan di sekitarnya. Sama seperti Semeru yang menghidupi satwa dan masyarakat di kaki-kaki gunungnya 🙂

Akhir kata, sebelum kesampaian memberikan nama-nama tersebut kayaknya harus memperbanyak doa supaya bisa segera dipertemukan dengan dia yang kusebut dalam doa ataupun dia yang menyebutku dalam doa. Azek azek joss! Wkwk.

*Diselesaikan di Jakarta pada 18 November 2016 setelah mengendap selama sebulan di draft post WordPress.

Salam,