Entah

Entah
“Burned.” (Source: pinterest i guess…)

Kadang kau menyusun kesedihan, kemarahan, rasa lelah, frustasi, seperti lego-lego atau batu bata. Sedikit demi sedikit hingga terbentuk suatu struktur. Entah tembok, kubus, rumah, atau bentuk-bentuk artistik yang hanya kamu serta Tuhan yang tahu maknanya.

Tiba-tiba lewat satu sentuhan kecil atau satu tiupan pelan, semua luluh lantak. Semua rasa yang tersimpan rapat-rapat pecah bagai gelembung sabun yang kau sering mainkan sewaktu kecil.

Ketika itu terjadi mungkin kau merasa kaget. “Kenapa? Apa yang salah denganku?” tanyamu. Kau coba pikirkan, tapi tidak kunjung kau temukan jawabannya. Kau coba melihat lebih dalam, sebab kau tahu yang penting tidak terlihat oleh mata.

Lalu kau temukan dirimu meringkuk di dasar jurang laut yang kering. Sendirian. Hanya seukuran bidak monopoli yang biasa kau mainkan. Kau mencoba untuk meraih, namun terasa begitu jauh. Di luar jangkauan. “Apa yang harus kulakukan?” ucapmu lirih.

Tanpa kau sadari air matamu mengalir, semakin jauh dan jauh. Membentuk delta yang terhubung dengan sungai Nil. Hingga ia meluap. Membanjiri lautmu yang kini kembali dipenuhi air. Dari masing masing tetesannya timbul gelembung-gelembung kecil yang kemudian pecah menjadi ribuan ikan. Akhirnya, kau tak lagi sendiri di dasar laut yang kering. Kau tersenyum, tepat sebelum tiba-tiba alarm ponsel sial-mu berbunyi.

Kau terbangun, menyadari bahwa semuanya hanya mimpi. Yang nyata hanyalah bekas-bekas aliran air mata di bantalmu. Jangan takut, kau tak sendiri 🙂

Salam sayang,

Advertisements

Hai, Pria! 😊

“Pria-ku, saat gendut maupun kurus. Saat tertidur atau terbangun.” (Source: Nyolong di twitter Pria tanpa izin. Sekian)

Akhirnya 10 Desember (lagi) ya? Sudah berapa 10 Desember kau lewati sejak pertama kali kau mengenal dunia? Pastinya, ini 10 Desember-mu yang pertama bersama aku.

Pria, sejak pertama kita berkenalan aku melihatmu sebagai sesosok lelaki yang gak neko-neko walau kucing kesayanganmu bernama Neko. Baguslah, sudah bosan aku dengan segala keneko-nekoan. Kuharap hidup juga gak akan neko-neko terhadapmu, sebagaimana kau gak neko-neko menjalani hidup.

Pria, mereka bilang quarter-life-crisis is sucks. Trust me, it is. Wkwkwk. As I’ve been thru dat phase earlier, u’ve got to trust me. 25 tahun itu, masa-masanya berlari. Semua orang berlari, berlomba, takut tertinggal. Tapi percayalah, semua orang punya masa-nya masing-masing. Don’t be so hard to urself while u’re running in ur own timing. Kau tahu? Aku akan dengan senang hati menyemangati-mu untuk terus berlari seperti banner teh Javana yang fotonya merupakan salah satu dari 5 foto di Instagram-mu. Walau yah, fotoku gak ada di Instagram-mu sepertinya.

Pria, sebagian besar 25-ku kujalani dengan kacau. Namun, ia kututup dengan gembira. Kenapa? Sebab kau ada disana. Yah setidaknya tidak kacau-kacau amat lah jadinya. Terima kasih, yah! Nah, di opening ceremony 25-mu ini kuharap kamu mengawali, menjalani, dan menutupnya dengan gembira. Yang kacau biar cukup 25-ku saja.

Pria, banyak-banyak lah kau tertawa dengan 25. Berkawan baiklah dengannya. Aku yakin tawamu sama menghipnotisnya bagi dia, sebagaimana tawamu menghipnotisku. Oh iya, tawamu menular, tahu! Makanya banyak tertawa supaya 25-mu juga penuh dengan tawa. Kan enak kalau tertawa terus. Asal jangan tertawa tanpa sebab, itu artinya kau gila.

Pria, aku tahu hidup kadang gak lurus-lurus amat. Hari ini kita diajak tertawa terbahak, besok diajak menangis menggerung. Yah sekuat apapun aku berharap 25-mu semuanya tawa, mana bisa kita prediksi hidup akan se-kooperatif itu. Tapi yakinlah saat kau menangis karena hidup, ingin sekali kuhajar dia sampai babak belur. Sayangnya, hidup sudah menghajarku sampai babak belur duluan sehingga aku tahu mustahil membuatnya babak belur. Ya makanya, aku cuma bisa memberi kau tisu yang dibeli di Alfamart Jalan Asia Afrika. Oh dan satu dua peluk plus jajanan aci telur kesukaanmu tentunya.

Pria, akhir kata selamat memulai 25. Semoga bahagiamu bahagiaku. Semoga aku bahagiamu. Semoga bahagia bahagiamu. Kata Pak SDD yang fana adalah waktu, kita abadi. Namun kuharap waktu kita abadi, tidak habis di 25-mu atau berhenti di 26-ku. Is that too much to ask? 

Dengan cinta dan sayang,

P.S: Ewwww… Aku gak alay. Mengerikan.

Shame on you(r), body!

“Am I fat? Or am I fat?” (source: itu ada di gambarnya kaleee.wkwkwk)

“Kurus banget sih, cungkring!”

“Eh gemukan ya? Makin tembam loh pipinya.”

“Item amat mukanya, main mulu sih.”

“Kok sekarang jerawatan?”

“Kucel banget mukanya, make up-an dong!”

“Itu blush-on ketebalan, mukanya kayak habis ditabok.”

Style-mu aneh sih, gak fashionable.”

Itu adalah sebagian kecil dari kata-kata yang pernah saya dengar dalam hidup saya. Ya betul banget emang, you can never please the society. Pasti ada aja yang kurang, even artis yang cantiknya hqq masih juga dikomentarin ininya lah itunya lah. Hadeh.

Saya anak kedua. Kebetulan Mama dan Kakak saya berkulit cerah, berwajah tirus dengan tulang pipi yang visible, bertubuh mungil ala perempuan Indonesia, bibir cerah tanpa polesan. Standar kecantikan nowadays lah. Sementara saya? Berkulit gelap, bertubuh lurus, kurus cungkring yang jika menggemuk maka bertambah lebar lah bahu saya seperti lelaki, pipi tembam, ditambah bibir tipis gelap yang susah buat nyocokin warna lipstik. Saya tahu, saya tidak masuk dalam standar cantik (setidaknya di masa kini, dan di tempat ini). Body, face, make up, style, dan shaming-shaming lainnya bukan sekali dua saya dengar. Dari yang nadanya bercanda, sampai serius.

Dulu sekali, waktu saya masih kecil saya sering dicandai bahwa saya anak yang ‘dipungut’ entah dari mana oleh keluarga besar. Alasannya? Karena fisik saya berbeda itulah dengan Mama dan Kakak saya. Saya ingat, suatu kali saya pernah sampai menangis karena itu. Padahal setelah saya pikir-pikir, mana mungkin saya anak pungut. La wong Bapak saya berbadan besar, berkulit gelap, berwajah bulat, 11-12 dengan saya. Hahahahaha.

Wajah saya sensitif, salah produk dikit pasti timbul jerawat. Boro-boro mau pakai produk pemutih, buat hilangin bruntusan yang muncul karena salah produk aja susah. Saya juga banyak alerginya. Stress dikit gatal-gatal, digigit nyamuk pasti membekas, sekarang saya mandi selalu pakai sabun bayi. Mana ada pemutih di sabun bayi?

Saya juga punya gangguan autoimun, psoriasis di kuku dan (kadang) di kulit kepala. Yang paling terasa kuku saya kalau gak rajin dirawat, minimal dikikir sendiri pakai buffer di rumah ya tampilannya ga halus dan rata kayak kuku normal. Pasti ngelupas-ngelupas dan terlihat bolong-bolong bagai permukaan bulan. Habis di-buffer, manikur, pedikur, tiap kali kukunya tumbuh, permukaan yang tidak rata itu ya muncul lagi. Bayangin demi kuku halus aja, harus ngurusin kuku seminggu sekali. Di kulit kepala juga berasa sih, karena itu buat rambut saya rontok parah. Hahaha. Pernah suatu kali ketika saya gak sempat ngerawat kuku seorang kawan berkomentar, “Ih kok lo cewek kukunya jelek sih.” Udahlah shaming, ditambah pula seksis. Ya gak? Or mungkin, saya aja yang baper? Wkwkwk.

But anyway, bicara soal baper hal-hal kayak gitu dulu sangat mengganggu saya. Sering malah buat saya gak percaya diri. Sekarang? Ah bodo4mat. Tapi kalau lagi sensi kadang masih suka baper sih. Hihihi. Cuma ga seganggu dulu-dulu aja. 

Nah, hari ini entah mengapa keingetan. Bukan, bukan saya lagi baper. Cuma tadi itu, saya lagi iseng-iseng lihat beberapa produk skincare dan make-up dengan harga selangit. Eh, saya suddenly berpikir, kita hidup di society dimana standar kecantikan “dibuat” untuk dan oleh pemodal. Kemudian dibantu media untuk mendistribusikan. Fashion line, make up, skincare, everything. Is that fair? Ah jangan ngomong soal fair dulu deh. Secara mendasar, is that okay? We live in a society dimana tampilan luar dinilai berdasarkan standar baku, yang dibakukan entah untuk kepentingan siapa.

Kita -mungkin saya juga- seringkali mudah mengomentari seseorang based on penampilannya. Entah penampilan fisik aslinya, style-nya, make up-nya, apapun. Yang bermake-up mengomentari yang ga bermake-up, yang kurus mengomentari yang gendut, yang eyeliner dan alisnya on-fleek mengomentari yang gak on-fleek, yang ootd-nya hits mengomentari yang pakainya cuma jeans belel dan t-shirt itu-itu aja, yang (alhamdulillah) syar’i mengomentari yang belum, vice versa. Buat yang suka komen-komen gitu pengen deh bilang, “Who are you to judge?”

Pernah gak sih kepikir, segala bentuk shaming are kinds of bullying loh. Dan sama seperti segala bentuk bullying, nothing good comes from it. Apa sih keuntungan yang kamu dapatkan dari itu? Ga ada kan? Or mungkin kamu dapat kepuasan batin bahwa ada seseorang yang lebih buruk darimu? Entah lah. Saya harap bukan itu alasannya, sebab menyedihkan sekali lho kamu jika begitu.

Salam,


Entah sementara atau selamanya…

“Hold it, don’t let me go…” (Source: Pinterest)

*I dedicate this post to D.H, a guy which came to my life and makes it a lot brighter. Thanks for all the smile you’ve made, Bhabie 🙂

Sudah lama pagi begitu kelam. Malam begitu muram. Kosong. Begitu kurasakan saat membuka dan menutup mata.

Kucoret setiap tanggal di kalendar dengan gemas, seakan berupaya menyadarkan diri bahwa sudah waktunya aku berjalan lagi. Tapi apa? Nihil.

Sudah banyak malam kulalui dengan membaca tanpa henti. Hingga matahari tampak di sela-sela ventilasi. Bahkan aku tidak ingat sudah berapa pagi kulalui dengan penuh kerisauan yang ku tak yakin tentang apa.

Lalu kamu datang menawarkan entah apa. Teman? Ujarmu dulu kala. Yang kusambut dengan tangan terbuka. One extra friend wouldn’t hurt, pikirku.

Entah sejak kapan aku mulai sibuk mencarimu saat kehadiranmu tak tertangkap oleh indera. Lalu tersenyum lega saat pesanmu singgah di ponselku. Ajaib. Satu pesan singkat darimu cukup untuk membuatku tersenyum sepanjang hari. Kau ini makhluk apa?

Ketika aku dan kamu akhirnya menjadi kita, aku masih dipenuhi keheranan mengapa semua terasa mudah. Mengenalmu, menyukaimu, bahkan memutuskan mencoba bersamamu terlepas dari segala pasang surut dan maju mundurnya terasa begitu casual.

Jika aku bisa memilih ending, tentu akan kupilih saat ini menjadi penutup. Seperti putri-putri dalam dongeng, and they live happily ever after (?). Tapi aku tahu sayang, hidup tidak sesempurna itu.

Jujur, ketakutanku akan hal yang nampak indah dan baik masih ada. Sisi pesimisku terus berkata, “Ah, semua memang selalu nampak indah pada awalnya. Tunggu saja, nanti juga hancur.

Tapi, bolehkah aku bersandar dan melupakan semua yang seharusnya dilupakan sejak beberapa purnama lalu? 

Entah sementara atau selamanya.

Kuharap sih selamanya…

Kenapa bukan kamu?

Kenapa bukan kamu?
“Kadang kamu hanya perlu melihat lebih dekat, lebih dalam…” Source: flickr.com self-reflection(s) by Ikadelway

“Kenapa aku?”

“Kenapa bukan kamu? Kamu sangat pintar, kamu menyenangkan, dan kamu punya senyum tercantik di mataku.”

“Ah sudahlah! Kamu memang perayu ulung.”

“Aku serius. Kamu yang perlu berhenti menilai dirimu kurang dari itu.”

Kadang kamu kurang menghargai dirimu. Kadang kamu membiarkan orang menilaimu dari kepala sampai kaki seperti kontes di televisi. Kadang kamu menelan mentah-mentah pendapat orang tentang dirimu lalu menyesali kekuranganmu. Sering yang kamu butuhkan hanya seseorang untuk mengingatkan betapa luar biasanya dirimu dan membuat pipimu memerah karenanya. Jika tidak ada maka ingatlah kata ajaib ini,

“Kamu luar biasa dan aku menyayangimu dimanapun kamu berada.”

Salam sayang,

Mahar oh mahar…

Mahar oh mahar…
“Saya kapan ya di-saya terima-in…” source: hipwee.com

Sekarang entah kenapa lagi ngetren banget mahar berupa hafalan ayat-ayat atau surat di Al-Qur’an. Bahkan lucunya akun model @beraniberhijrah saja mengajarkan demikian. Pun saya lihat mostly komennya mengamini dan baper pengen dimaharin hafalan.

Saya salah seorang perempuan yang ketika ada lelaki mau menikahi saya dengan hafalan surat tok sebagai mahar, maka saya akan menolak. Eaa gaya amat memang ada yang mau nikahin, Je? Hihi.

But seriously, mostly mungkin berpikir itu romantis ala ala syar’i dan keren. Tapi balik lagi ke dasar hukum mahar, coba cek ke An-Nisa ayat 4 dan ayat 24. Mahar itu sekecil apapun adalah berupa sedekah dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Sebagian Ulama yang tidak membolehkan mendasarkan pada tafsiran dari ayat dalam surat An-Nisa yang sudah saya sebutkan.

Memang ada Ulama yang membolehkan mahar berupa ayat al-Qur’an tetapi untuk diajarkan kemudian kepada mempelai wanita. Jadinya bukan sekedar dihafalkan dan dibacakan saat ijab qabul ya.

Hal itu sesuai dengan pengalaman saat Rasulullah menikahkan seorang lelaki yang merupakan Qari dengan mahar berupa ilmu Al-Qur’an yang dimilikinya. Itupun jika memang mempelai pria tidak memiliki harta sedikitpun untuk diberikan sebagai mahar. Sebab masih dalam hadits yang sama Rasulullah sebelumnya bersabda, “Carilah walau cincin dari besi.” Namun, karena lelaki ini sudah mencarinya dan tidak mendapatkan apa-apa jadilah dinikahkan keduanya dengan mahar hafalan Al-Qur’an lelaki tersebut.

Jadi kesimpulannya jangan ikut-ikutan tren kalau belum paham betul dasar hukumnya. Jangan juga secara membabi buta mengamini post @beraniberhijrah. Kalau saya sih mau aja dikasih bonus hafalan qur’an. Tapi jangan lupa sesuai syariat perlu mahar yang berupa sedekah dalam bentuk harta. Gak perlu banyak-banyak kok, secukupnya saja. Kan katanya perempuan yang baik adalah yang maharnya tidak memberatkan.

Nah kalau mau ikuti standar Rasulullah ya lain lagi hitungannya. Rasulullah standar mahar kepada istri-istrinya adalah 500 dirham. 1 dinar itu sekitar 10-12 dirham. Di zaman Rasulullah, 1 dinar itu bisa beli 1 kambing. Harusnya sih jangan cuma 1, 2, 3, 4 yang diikuti sunnahnya tapi maharnya juga. Huhahahaha. 😸

Salam,

Hari ini…

Hari ini…
“Kau selalu bisa memilih untuk lupa…” Source: Flickr

Hari ini satu Gajah mati di Gayo Lues. Jantan. Jika kata peribahasa, harusnya dia meninggalkan gading. Sayangnya tidak. Justru dia tinggalkan seekor Gajah kecil.

Gajah kecil kini sendiri. Tanpa Ayah, tanpa kawan. Aku bertanya-tanya, bagaimana perasaan Gajah kecil. Apakah dia sedih? Apakah dia bingung? Yang terpenting, apakah dia merindukan Ayahnya?

Ayah Gajah mati, tergeletak. Diracun! Membengkak saat ditemukan di kebun milik si A. Belalai terpotong. Gadingnya hilang. Mungkin Gajah kecil sudah menangis sejak Ayahnya mengejang, melawan, saat nafas terakhir ditarik bersama jiwa. Meratap. Tak ada yang mendengar.

Siapa bilang kehilangan itu enak? Apalagi jika kehilangan itu mendadak. Tanpa aba-aba. Siapa bilang ditinggalkan itu biasa saja? Sakit tahu! Coba kau rasakan.

Belum lagi kalau dipisahkannya bukan oleh kematian. Ditinggalkan. Sendirian. Kau meratap semalaman, tapi tak seorangpun mendengar. Esoknya kau lihat yang kau ratapi tertawa. Baik-baik saja. Sementara kau tidur tanpa membersihkan make-up hingga maskara rontok di atas bantal. Kan sial.

Untunglah kau manusia. Kau bukan Gajah yang ingatannya luar biasa panjang. Kau selalu bisa memilih untuk lupa setelah kenyang meratap. Sama seperti kau selalu lupa dimana kau taruh kunci, dimana kau letakkan ponselmu. Yah kau kan pelupa.

Jika tidak, kau bisa simpan ingatan itu baik-baik dalam peti yang terkunci di sudut. Lalu melenggang melanjutkan hidup. Nanti juga lupa.

Tenang, manusia itu makhluk pelupa kok!

Salam,