Rea(sun)s

Rea(sun)s
“I will always look at you, my sun…” (source: my own pic)

I guess

I don’t need any reasons

To love you

Because I know

You will always catch me

Everytime I fall

Either because

Or not because of you

***

But I know

For you to make me fall

Is out of questions

Except make me

Fall for you

Which you already did

And will always do

Te amo, mi sol 🙂

Advertisements

Menikah

Menikah
“Marry me?” (source: shutterstock)

Fyi, tulisan ini saya buat sebagai curahan hati dan pemikiran saya setelah membaca Bab 5 tentang Perempuan Menikah di buku Second Sex karya Simone de Beauvoir. I hope no one feel attacked or uneasy to read this. Lol. Sebab saya memang tidak bermaksud menyerang pendirian siapapun terkait pernikahan.

Di usia saya yang sudah 26 tahun dan 5 bulan ini, kebanyakan orang-orang di sekitar saya sudah menikah. Kawan sekolah, kawan seangkatan di kampus, adik angkatan, bahkan sahabat-sahabat saya. Saya tahu betul ada tipikal orang yang ketika sering diundang hadir ke pesta pernikahan, mulai gelisah dan bertanya-tanya, “Kapan giliran saya?” Luckily, I am not that kind of person.

Bagi saya menikah itu bukan ajang perlombaan. Jadi sejauh ini saya tidak pernah sekalipun merasa gelisah memikirkan ‘giliran’. Saat saya diklat beberapa waktu lalu, saya bertemu beragam orang. Mulai dari yang ingin segera menikah, yang menunda menikah karena agenda diklat walau segala persiapan sudah sekian persen, sampai yang menyesal karena menikah terlalu cepat. Saat saya melihat yang ingin segera menikah (kebetulan anak yang dekat dengan saya tersebut berusia di bawah saya), saya seperti melihat diri saya di masa lalu.

Sekitar 4-5 tahun yang lewat, saya pernah ada di posisi anak tersebut. Jatuh cinta, tidak mau berpisah, hingga tidak berpikir panjang walau dengan pacar saat itu belum tercapai kesepakatan mengenai kehidupan rumah tangga yang ingin diraih. Di luar keinginan untuk menikah, saat itu baik saya dan dia tidak satu frame dalam memandang peran perempuan dalam keluarga. Bagi saya yang tidak bisa diam, harus di rumah 24 jam mengurus segala hal soal rumah tangga sendirian bukanlah pilihan. Namun baginya, keberadaan Ibu di rumah begitu penting. Sejalan dengan Ibunya yang 100 persen mengurusnya di rumah. Alamak umur masih muda kali saat itu, sudahlah ribut soal begitu. Tapi yah, obrolan tersebut memang tidak pernah tuntas, sebab tidak ada jalan tengah bagi pendirian kami yang sama keras. Pada akhirnya, justru hubungan kami yang tuntas.

Pada masa itu, saya begitu terpana dengan quotes tentang pernikahan, rumah tangga, dan semacamnya. Bagi saya berumah tangga visinya harus besar, makanya saya selalu menyamankan diri bersama lelaki yang setipe. Hidup di organisasi, bergerak dengan ritme yang (saya pikir) senada, punya cita-cita besar, and so on. Tapi pada akhirnya, dalam setiap hubungan yang kandas selalu ada bagian dari diri saya yang menyadari bahwa hal-hal yang tadinya saya pikir matter tidak selalu esensial. Sebab semirip apapun dunia saya dengan pasangan-pasangan saya dulu, kami tetap dua individu dengan cara pandang dan pikir yang berbeda.

Setelah melalui beberapa hubungan, sampailah saya pada titik dimana saya memutuskan untuk tidak menikah. Mengapa? Sebab saya tidak ingin. Sesederhana itu. Pada satu kesempatan saya pernah bertengkar dengan Mama saya karena hal itu hingga beliau menangis. Hal yang lucu sekali jika diingat-ingat. Perlu dicatat, Bapak dan Mama saya tidak pernah menargetkan kapan saya harus menikah bahkan cenderung mencegah saya untuk menikah di usia yang terlalu muda. Kakak saya saja menikah di usia yang tidak terlalu muda, yakni 26 tahun.

Walau saya cenderung tidak percaya pada lembaga pernikahan, bukan berarti saya membenci pernikahan. Saya bahagia melihat banyak kawan yang berbahagia pasca menikah. Banyak juga yang menikmati ‘berpindah’ kantor dari gedung bertingkat di Jakarta ke rumah. Walau di sisi lain, ada juga masalah-masalah dalam pernikahan kawan-kawan yang sampai ke telinga saya. Namun simpelnya, di usia yang semakin tua ini hal-hal seperti pernikahan justru semakin jauh dari fokus utama saya.

Sangat disayangkan, saya hidup di Indonesia dimana banyak sekali orang yang nosy dengan kehidupan orang lain. Walau saya memilih ‘tidak menilai’ pilihan hidup orang lain, ada saja orang yang sering menilai pilihan hidup saya untuk belum menikah hingga saat ini. Sudah banyak sekali komentar mengenai status saya mulai dari yang nadanya biasa sampai tidak biasa, hingga terkesan memaksa saya nikah seperti, “Ayo dong, nikah dong. Tunggu apa lagi sih?” Belum lagi ditambah dengan segala dalil untuk menguatkan argumentasi. Hadeh.

Untungnya, masih ada orang-orang yang sudah menikah namun masih bisa diajak ngobrol asik soal pernikahan. Yang kalau didengar ceritanya sederhana. Alasan menikahnya sederhana. Pun hidup berduanya sederhana. Sesederhana tidak mempedulikan pandangan orang soal, “Sudah nikah harus cepat-cepat punya anak kalau gak mau jadi omongan orang.” Lah, yang nikah dia kok jadi situ yang repot. So Indonesian.

Jujur cerita-cerita menuju and/or setelah pernikahan yang dikesankan terlalu wah malah kurang berkesan di mata saya. Saya justru lebih bisa menemukan kebahagiaan yang esensial dalam beragam cerita sederhana. Kalau dulu quotes Tere-Liye (saya bacanya Terelai) rasanya aww sekali saat dibaca, sekarang malah buat saya cringey. Bahkan bagi saya yang orangnya sangat cheesy. Duh! Saya sudah berkembang, time flies so fast. Wkwkwk.

Ya pada akhirnya, to marry or not to marry balik ke prinsip masing-masing. Kalau saya lebih pilih memantapkan hidup saya sendiri dan membahagiakan keluarga saya dulu. Pun sekarang saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang setelah cukup lama idle dan kadang terpikir soal pernikahan. Tapi, one thing for sure jika pada akhirnya saya menikah, baik dengan pasangan saya saat ini atau dengan orang lain saya rasa bukan akan terjadi di momen seperti ini. Saat dimana saya sedang berusaha menggapai cita-cita saya. Dan tentunya bukan karena diburu waktu tanpa pikir panjang soal kehidupan apa yang akan kami jalani di masa yang akan datang.

P.S: We already talked ’bout marriage and we both knew it won’t happen soon. But at least both of us could pictured what we want for the future. Not some kind of cinderella love story, bukan juga sesuatu yang mungkin menarik dibukukan dan difilmkan seperti ‘Teman Tapi Menikah’, namun yang pasti saya tahu kebahagiaan apa yang esensial bagi saya. Dan itu bukan menikah right here, right now, just because everybody already did.

Salam sayang,

Entah

Entah
“Burned.” (Source: pinterest i guess…)

Kadang kau menyusun kesedihan, kemarahan, rasa lelah, frustasi, seperti lego-lego atau batu bata. Sedikit demi sedikit hingga terbentuk suatu struktur. Entah tembok, kubus, rumah, atau bentuk-bentuk artistik yang hanya kamu serta Tuhan yang tahu maknanya.

Tiba-tiba lewat satu sentuhan kecil atau satu tiupan pelan, semua luluh lantak. Semua rasa yang tersimpan rapat-rapat pecah bagai gelembung sabun yang kau sering mainkan sewaktu kecil.

Ketika itu terjadi mungkin kau merasa kaget. “Kenapa? Apa yang salah denganku?” tanyamu. Kau coba pikirkan, tapi tidak kunjung kau temukan jawabannya. Kau coba melihat lebih dalam, sebab kau tahu yang penting tidak terlihat oleh mata.

Lalu kau temukan dirimu meringkuk di dasar jurang laut yang kering. Sendirian. Hanya seukuran bidak monopoli yang biasa kau mainkan. Kau mencoba untuk meraih, namun terasa begitu jauh. Di luar jangkauan. “Apa yang harus kulakukan?” ucapmu lirih.

Tanpa kau sadari air matamu mengalir, semakin jauh dan jauh. Membentuk delta yang terhubung dengan sungai Nil. Hingga ia meluap. Membanjiri lautmu yang kini kembali dipenuhi air. Dari masing masing tetesannya timbul gelembung-gelembung kecil yang kemudian pecah menjadi ribuan ikan. Akhirnya, kau tak lagi sendiri di dasar laut yang kering. Kau tersenyum, tepat sebelum tiba-tiba alarm ponsel sial-mu berbunyi.

Kau terbangun, menyadari bahwa semuanya hanya mimpi. Yang nyata hanyalah bekas-bekas aliran air mata di bantalmu. Jangan takut, kau tak sendiri 🙂

Salam sayang,

Duapuluh empat keempat

Duapuluh empat keempat
“Beyond reasonable doubt…”

Subuh ini kulihat ponselku menunjukkan angka duapuluh empat. Sudah empat kali duapuluh empat sejak malam itu di Jalan Solo. Apa kamu ingat? Kamu menyetir, aku berbicara. Aku berbicara, kamu menyetir. Wah sama saja dong ya? Yah intinya memang aku sih yang lebih banyak bicara. Hahaha.

Walau agak telat, kulewati ulangtahunku denganmu. Vice versa. Kala itu aku belajar sulitnya meluangkan waktu. Bukan soal prioritas, sebab ada kalanya apa yang menjadi prioritas tetap harus kalah oleh rutinitas. Adulthood is sucks!

Waktu berjalan, perasaan makin dalam tapi romansa mulai berkurang. Wajar. Sejak awal kita paham, cepat atau lambat kita akan kembali ke pola awal sambil tersendat mencoba saling menyesuaikan. Bagaimanapun, kamu punya bagian hidupmu yang eksis sejak sebelum aku ada. Begitupun aku.

Jujur saja, kadang ada kekhawatiran perasaan kita tidak sejalan dan yang semakin dalam hanya aku saja. Tapi cepat-cepat kusingkirkan kekhawatiran itu, sebab aku tidak ingin menilai sayangmu sepicik itu. Aku belajar bahwa menyayangimu itu satu hal, dan disayangi olehmu itu hal lain. Pun jika sayangmu konstan atau malah berkurang, itu selayaknya tidak berbanding lurus dengan perasaanku. Lagipula aku tidak bisa menjamin bahwa perasaanku akan terus bertambah atau setidaknya konstan di batas aman. Namanya juga manusia. Apa yang bisa kita harapkan dari ‘kemanusiaan’ kita selain ketidakpastian dan kelabilan?

Dalam empat kali duapuluh empat, sudah sejauh apa kita mengenal satu sama lain? Kurasa antara angka 1-10 kita belum berhasil melewati angka 5. Disitu aku sadar, betapa sulitnya menaklukkan jarak. Bukan perkara unwillingness tapi lagi-lagi tidak semua hal pasti berjalan sesuai dengan rencana ataupun keinginan kita kan? Inginku sudah mengenalmu luar dalam, tapi ya semuanya harus melalui proses yang kadang dipengaruhi banyak faktor. And like reality, distance is a b*tch. Truly.

Seperti yang dulu sekali pernah aku bilang, aku tidak bisa menjamin bahwa perasaanku akan tetap sama. Tapi setidaknya kamu harus tahu, hari ini aku cinta kamu lebih dari kemarin. Besok? Ya mana aku tahu. Sounds bitter? Ofc. But is it logic? Hell yessss! Karena aku (dan juga kamu) masih manusia. Hanya saja, aku berharap aku tetap bisa selalu mencintai kamu unconditionally tanpa berhenti mencintai diriku sendiri.

My final words, terima kasih untuk empat kali duapuluh empat kita yang tidak sempurna. Terlepas dari pasang surutnya, been so happy loh aku. Yuk berusaha tetap bersama tanpa harus kehilangan diri kita sampai duapuluh empat keenam, kesepuluh, keduabelas, keduapuluh, dan seterusnya. Karena cinta memang seharusnya membebaskan kan? Seperti kata Rendy Pandugo,

“Terbang bersamaku bila kau mau, genggamlah hatiku. Meski tak sempurna separuh sayapku, langit berbintang memelukku erat.”

Salam sayang,

Shame on you(r), body!

“Am I fat? Or am I fat?” (source: itu ada di gambarnya kaleee.wkwkwk)

“Kurus banget sih, cungkring!”

“Eh gemukan ya? Makin tembam loh pipinya.”

“Item amat mukanya, main mulu sih.”

“Kok sekarang jerawatan?”

“Kucel banget mukanya, make up-an dong!”

“Itu blush-on ketebalan, mukanya kayak habis ditabok.”

Style-mu aneh sih, gak fashionable.”

Itu adalah sebagian kecil dari kata-kata yang pernah saya dengar dalam hidup saya. Ya betul banget emang, you can never please the society. Pasti ada aja yang kurang, even artis yang cantiknya hqq masih juga dikomentarin ininya lah itunya lah. Hadeh.

Saya anak kedua. Kebetulan Mama dan Kakak saya berkulit cerah, berwajah tirus dengan tulang pipi yang visible, bertubuh mungil ala perempuan Indonesia, bibir cerah tanpa polesan. Standar kecantikan nowadays lah. Sementara saya? Berkulit gelap, bertubuh lurus, kurus cungkring yang jika menggemuk maka bertambah lebar lah bahu saya seperti lelaki, pipi tembam, ditambah bibir tipis gelap yang susah buat nyocokin warna lipstik. Saya tahu, saya tidak masuk dalam standar cantik (setidaknya di masa kini, dan di tempat ini). Body, face, make up, style, dan shaming-shaming lainnya bukan sekali dua saya dengar. Dari yang nadanya bercanda, sampai serius.

Dulu sekali, waktu saya masih kecil saya sering dicandai bahwa saya anak yang ‘dipungut’ entah dari mana oleh keluarga besar. Alasannya? Karena fisik saya berbeda itulah dengan Mama dan Kakak saya. Saya ingat, suatu kali saya pernah sampai menangis karena itu. Padahal setelah saya pikir-pikir, mana mungkin saya anak pungut. La wong Bapak saya berbadan besar, berkulit gelap, berwajah bulat, 11-12 dengan saya. Hahahahaha.

Wajah saya sensitif, salah produk dikit pasti timbul jerawat. Boro-boro mau pakai produk pemutih, buat hilangin bruntusan yang muncul karena salah produk aja susah. Saya juga banyak alerginya. Stress dikit gatal-gatal, digigit nyamuk pasti membekas, sekarang saya mandi selalu pakai sabun bayi. Mana ada pemutih di sabun bayi?

Saya juga punya gangguan autoimun, psoriasis di kuku dan (kadang) di kulit kepala. Yang paling terasa kuku saya kalau gak rajin dirawat, minimal dikikir sendiri pakai buffer di rumah ya tampilannya ga halus dan rata kayak kuku normal. Pasti ngelupas-ngelupas dan terlihat bolong-bolong bagai permukaan bulan. Habis di-buffer, manikur, pedikur, tiap kali kukunya tumbuh, permukaan yang tidak rata itu ya muncul lagi. Bayangin demi kuku halus aja, harus ngurusin kuku seminggu sekali. Di kulit kepala juga berasa sih, karena itu buat rambut saya rontok parah. Hahaha. Pernah suatu kali ketika saya gak sempat ngerawat kuku seorang kawan berkomentar, “Ih kok lo cewek kukunya jelek sih.” Udahlah shaming, ditambah pula seksis. Ya gak? Or mungkin, saya aja yang baper? Wkwkwk.

But anyway, bicara soal baper hal-hal kayak gitu dulu sangat mengganggu saya. Sering malah buat saya gak percaya diri. Sekarang? Ah bodo4mat. Tapi kalau lagi sensi kadang masih suka baper sih. Hihihi. Cuma ga seganggu dulu-dulu aja. 

Nah, hari ini entah mengapa keingetan. Bukan, bukan saya lagi baper. Cuma tadi itu, saya lagi iseng-iseng lihat beberapa produk skincare dan make-up dengan harga selangit. Eh, saya suddenly berpikir, kita hidup di society dimana standar kecantikan “dibuat” untuk dan oleh pemodal. Kemudian dibantu media untuk mendistribusikan. Fashion line, make up, skincare, everything. Is that fair? Ah jangan ngomong soal fair dulu deh. Secara mendasar, is that okay? We live in a society dimana tampilan luar dinilai berdasarkan standar baku, yang dibakukan entah untuk kepentingan siapa.

Kita -mungkin saya juga- seringkali mudah mengomentari seseorang based on penampilannya. Entah penampilan fisik aslinya, style-nya, make up-nya, apapun. Yang bermake-up mengomentari yang ga bermake-up, yang kurus mengomentari yang gendut, yang eyeliner dan alisnya on-fleek mengomentari yang gak on-fleek, yang ootd-nya hits mengomentari yang pakainya cuma jeans belel dan t-shirt itu-itu aja, yang (alhamdulillah) syar’i mengomentari yang belum, vice versa. Buat yang suka komen-komen gitu pengen deh bilang, “Who are you to judge?”

Pernah gak sih kepikir, segala bentuk shaming are kinds of bullying loh. Dan sama seperti segala bentuk bullying, nothing good comes from it. Apa sih keuntungan yang kamu dapatkan dari itu? Ga ada kan? Or mungkin kamu dapat kepuasan batin bahwa ada seseorang yang lebih buruk darimu? Entah lah. Saya harap bukan itu alasannya, sebab menyedihkan sekali lho kamu jika begitu.

Salam,


Entah sementara atau selamanya…

“Hold it, don’t let me go…” (Source: Pinterest)

*I dedicate this post to D.H, a guy which came to my life and makes it a lot brighter. Thanks for all the smile you’ve made, Bhabie 🙂

Sudah lama pagi begitu kelam. Malam begitu muram. Kosong. Begitu kurasakan saat membuka dan menutup mata.

Kucoret setiap tanggal di kalendar dengan gemas, seakan berupaya menyadarkan diri bahwa sudah waktunya aku berjalan lagi. Tapi apa? Nihil.

Sudah banyak malam kulalui dengan membaca tanpa henti. Hingga matahari tampak di sela-sela ventilasi. Bahkan aku tidak ingat sudah berapa pagi kulalui dengan penuh kerisauan yang ku tak yakin tentang apa.

Lalu kamu datang menawarkan entah apa. Teman? Ujarmu dulu kala. Yang kusambut dengan tangan terbuka. One extra friend wouldn’t hurt, pikirku.

Entah sejak kapan aku mulai sibuk mencarimu saat kehadiranmu tak tertangkap oleh indera. Lalu tersenyum lega saat pesanmu singgah di ponselku. Ajaib. Satu pesan singkat darimu cukup untuk membuatku tersenyum sepanjang hari. Kau ini makhluk apa?

Ketika aku dan kamu akhirnya menjadi kita, aku masih dipenuhi keheranan mengapa semua terasa mudah. Mengenalmu, menyukaimu, bahkan memutuskan mencoba bersamamu terlepas dari segala pasang surut dan maju mundurnya terasa begitu casual.

Jika aku bisa memilih ending, tentu akan kupilih saat ini menjadi penutup. Seperti putri-putri dalam dongeng, and they live happily ever after (?). Tapi aku tahu sayang, hidup tidak sesempurna itu.

Jujur, ketakutanku akan hal yang nampak indah dan baik masih ada. Sisi pesimisku terus berkata, “Ah, semua memang selalu nampak indah pada awalnya. Tunggu saja, nanti juga hancur.

Tapi, bolehkah aku bersandar dan melupakan semua yang seharusnya dilupakan sejak beberapa purnama lalu? 

Entah sementara atau selamanya.

Kuharap sih selamanya…

Kenapa bukan kamu?

Kenapa bukan kamu?
“Kadang kamu hanya perlu melihat lebih dekat, lebih dalam…” Source: flickr.com self-reflection(s) by Ikadelway

“Kenapa aku?”

“Kenapa bukan kamu? Kamu sangat pintar, kamu menyenangkan, dan kamu punya senyum tercantik di mataku.”

“Ah sudahlah! Kamu memang perayu ulung.”

“Aku serius. Kamu yang perlu berhenti menilai dirimu kurang dari itu.”

Kadang kamu kurang menghargai dirimu. Kadang kamu membiarkan orang menilaimu dari kepala sampai kaki seperti kontes di televisi. Kadang kamu menelan mentah-mentah pendapat orang tentang dirimu lalu menyesali kekuranganmu. Sering yang kamu butuhkan hanya seseorang untuk mengingatkan betapa luar biasanya dirimu dan membuat pipimu memerah karenanya. Jika tidak ada maka ingatlah kata ajaib ini,

“Kamu luar biasa dan aku menyayangimu dimanapun kamu berada.”

Salam sayang,