Jarak aku dan rindu

“Seriously?” (Source: Pinterest)

*Dedicated to D.H. yang mungkin mulai lelah menanggapi kerewelanku kala rindu.

Sejak dulu aku selalu tertawa jika ada yang mengeluhkan jarak. Bagiku, jarak bukanlah masalah. Justru jarak berarti lebih banyak momen yang dapat kunikmati sendiri, kata sebagian diriku yang egois. Jarak juga berarti lebih banyak waktu untuk menabung rindu dan cerita yang dapat dibagi saat bertemu, kata sebagian lain dari diriku yang melankolis.

Namun entah sejak kapan jarak menjadi terasa menyesakkan. Aku yang sekarang payah dengan jarak, sebab jarak membuatku kesulitan untuk menggenggam tanganmu. Kau tahu? Aku mulai khawatir aku akan lupa rasanya genggamanmu sebab terlampau lama kita tak bertemu.

Aku menjadi benci dengan jarak, karena jarak membuat senyummu hanya dapat kulihat di layar kecil yang datar itu tanpa dapat kurasakan dan kusentuh setiap bagian dari wajahmu. Bahkan kurasa wajahmu mulai samar-samar dalam ingatan. Ah seharusnya kusentuh banyak-banyak dan kusimpan dengan baik dalam ingatan. Tapi kala itu manalah kuperhitungkan akan semerana ini aku dengan jarak. Jarak tidak pernah semenyebalkan ini, tahu!

Rindu itu berat dan jarak jelas-jelas membuatnya berkali lipat lebih berat karena tak dapat kulihat wajahmu secara live kapanpun aku mau. Sering aku harus menerka bagaimana ekspresimu saat mengatakan ini dan itu di telepon. Ah sial, bahkan saat mengetik ini pun kepalaku penuh dengan dirimu. Kurang berat apa? 

Aku sadar saat rindu itu datang aku seringkali bersikap menyebalkan. Ya bagaimana lagi, namanya juga rindu. Kan sudah kubilang, rindu itu berat. Jadi maklumi saja, lah!

With love,


Advertisements

Entah sementara atau selamanya…

“Hold it, don’t let me go…” (Source: Pinterest)

*I dedicate this post to D.H, a guy which came to my life and makes it a lot brighter. Thanks for all the smile you’ve made, Bhabie 🙂

Sudah lama pagi begitu kelam. Malam begitu muram. Kosong. Begitu kurasakan saat membuka dan menutup mata.

Kucoret setiap tanggal di kalendar dengan gemas, seakan berupaya menyadarkan diri bahwa sudah waktunya aku berjalan lagi. Tapi apa? Nihil.

Sudah banyak malam kulalui dengan membaca tanpa henti. Hingga matahari tampak di sela-sela ventilasi. Bahkan aku tidak ingat sudah berapa pagi kulalui dengan penuh kerisauan yang ku tak yakin tentang apa.

Lalu kamu datang menawarkan entah apa. Teman? Ujarmu dulu kala. Yang kusambut dengan tangan terbuka. One extra friend wouldn’t hurt, pikirku.

Entah sejak kapan aku mulai sibuk mencarimu saat kehadiranmu tak tertangkap oleh indera. Lalu tersenyum lega saat pesanmu singgah di ponselku. Ajaib. Satu pesan singkat darimu cukup untuk membuatku tersenyum sepanjang hari. Kau ini makhluk apa?

Ketika aku dan kamu akhirnya menjadi kita, aku masih dipenuhi keheranan mengapa semua terasa mudah. Mengenalmu, menyukaimu, bahkan memutuskan mencoba bersamamu terlepas dari segala pasang surut dan maju mundurnya terasa begitu casual.

Jika aku bisa memilih ending, tentu akan kupilih saat ini menjadi penutup. Seperti putri-putri dalam dongeng, and they live happily ever after (?). Tapi aku tahu sayang, hidup tidak sesempurna itu.

Jujur, ketakutanku akan hal yang nampak indah dan baik masih ada. Sisi pesimisku terus berkata, “Ah, semua memang selalu nampak indah pada awalnya. Tunggu saja, nanti juga hancur.

Tapi, bolehkah aku bersandar dan melupakan semua yang seharusnya dilupakan sejak beberapa purnama lalu? 

Entah sementara atau selamanya.

Kuharap sih selamanya…

Kejutan!

“Who needs alarm when the life is already effective for ur wake up call?” (Source: SolelyDevoted.net)

Saya tahu hidup selalu penuh dengan kejutan yang menanti di setiap sudut jalan. Jika kamu pikir kejutan selalu menyenangkan, cobalah rasakan kehilangan yang tiba-tiba menghantam. Surprise!

Tapi jangan pula berpikir kehilangan selalu berarti akhir dari segalanya. Justru kadang kehilangan itulah yang menjadi awalan bagi kejutan lain yang (bisa jadi) menyenangkan.

Kata-kata people come and go mungkin terdengar cliche. Namun percayalah memang begitu adanya. Kamu kehilangan, kamu menangis, lalu beberapa waktu setelahnya kamu tertawa. Bisa sebulan, setahun, 1 dasawarsa, 1 abad (?). Kamu tertawa karena setelah malam-malam penuh air mata kamu menemukan sesuatu yang lebih baik. Been there, done that 🙂

Beberapa hari ini saya tertawa (sedikit) lebih banyak dari kemarin-kemarin. Bisa jadi ini pun akan hilang dalam sekejap mata, sama seperti sebelumnya. Tapi, bolehkah saya berharap kejutan kali ini tidak diakhiri dengan segalon air mata?

Jika pun harus berakhir dengan air mata, satu botol saja cukup lah.

Senja seharusnya…

“Your hands were perfectly made for mine :)” (Source: raparapa.com)

Memang senja seharusnya begini, sayang.

Menikmati es krim favoritku sambil mendengar tawamu yang riang.

Memang senja seharusnya begini, sayang.

Melihat matamu berbinar saat menceritakan hal menarik yang terjadi pagi tadi.

Memang senja seharusnya begini, sayang.

Menggenggam tanganmu seiring cantiknya matahari terbenam.

Memang senja seharusnya begini, sayang…

Kenapa bukan kamu?

Kenapa bukan kamu?
“Kadang kamu hanya perlu melihat lebih dekat, lebih dalam…” Source: flickr.com self-reflection(s) by Ikadelway

“Kenapa aku?”

“Kenapa bukan kamu? Kamu sangat pintar, kamu menyenangkan, dan kamu punya senyum tercantik di mataku.”

“Ah sudahlah! Kamu memang perayu ulung.”

“Aku serius. Kamu yang perlu berhenti menilai dirimu kurang dari itu.”

Kadang kamu kurang menghargai dirimu. Kadang kamu membiarkan orang menilaimu dari kepala sampai kaki seperti kontes di televisi. Kadang kamu menelan mentah-mentah pendapat orang tentang dirimu lalu menyesali kekuranganmu. Sering yang kamu butuhkan hanya seseorang untuk mengingatkan betapa luar biasanya dirimu dan membuat pipimu memerah karenanya. Jika tidak ada maka ingatlah kata ajaib ini,

“Kamu luar biasa dan aku menyayangimu dimanapun kamu berada.”

Salam sayang,

Mahar oh mahar…

Mahar oh mahar…
“Saya kapan ya di-saya terima-in…” source: hipwee.com

Sekarang entah kenapa lagi ngetren banget mahar berupa hafalan ayat-ayat atau surat di Al-Qur’an. Bahkan lucunya akun model @beraniberhijrah saja mengajarkan demikian. Pun saya lihat mostly komennya mengamini dan baper pengen dimaharin hafalan.

Saya salah seorang perempuan yang ketika ada lelaki mau menikahi saya dengan hafalan surat tok sebagai mahar, maka saya akan menolak. Eaa gaya amat memang ada yang mau nikahin, Je? Hihi.

But seriously, mostly mungkin berpikir itu romantis ala ala syar’i dan keren. Tapi balik lagi ke dasar hukum mahar, coba cek ke An-Nisa ayat 4 dan ayat 24. Mahar itu sekecil apapun adalah berupa sedekah dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Sebagian Ulama yang tidak membolehkan mendasarkan pada tafsiran dari ayat dalam surat An-Nisa yang sudah saya sebutkan.

Memang ada Ulama yang membolehkan mahar berupa ayat al-Qur’an tetapi untuk diajarkan kemudian kepada mempelai wanita. Jadinya bukan sekedar dihafalkan dan dibacakan saat ijab qabul ya.

Hal itu sesuai dengan pengalaman saat Rasulullah menikahkan seorang lelaki yang merupakan Qari dengan mahar berupa ilmu Al-Qur’an yang dimilikinya. Itupun jika memang mempelai pria tidak memiliki harta sedikitpun untuk diberikan sebagai mahar. Sebab masih dalam hadits yang sama Rasulullah sebelumnya bersabda, “Carilah walau cincin dari besi.” Namun, karena lelaki ini sudah mencarinya dan tidak mendapatkan apa-apa jadilah dinikahkan keduanya dengan mahar hafalan Al-Qur’an lelaki tersebut.

Jadi kesimpulannya jangan ikut-ikutan tren kalau belum paham betul dasar hukumnya. Jangan juga secara membabi buta mengamini post @beraniberhijrah. Kalau saya sih mau aja dikasih bonus hafalan qur’an. Tapi jangan lupa sesuai syariat perlu mahar yang berupa sedekah dalam bentuk harta. Gak perlu banyak-banyak kok, secukupnya saja. Kan katanya perempuan yang baik adalah yang maharnya tidak memberatkan.

Nah kalau mau ikuti standar Rasulullah ya lain lagi hitungannya. Rasulullah standar mahar kepada istri-istrinya adalah 500 dirham. 1 dinar itu sekitar 10-12 dirham. Di zaman Rasulullah, 1 dinar itu bisa beli 1 kambing. Harusnya sih jangan cuma 1, 2, 3, 4 yang diikuti sunnahnya tapi maharnya juga. Huhahahaha. 😸

Salam,

Hari ini…

Hari ini…
“Kau selalu bisa memilih untuk lupa…” Source: Flickr

Hari ini satu Gajah mati di Gayo Lues. Jantan. Jika kata peribahasa, harusnya dia meninggalkan gading. Sayangnya tidak. Justru dia tinggalkan seekor Gajah kecil.

Gajah kecil kini sendiri. Tanpa Ayah, tanpa kawan. Aku bertanya-tanya, bagaimana perasaan Gajah kecil. Apakah dia sedih? Apakah dia bingung? Yang terpenting, apakah dia merindukan Ayahnya?

Ayah Gajah mati, tergeletak. Diracun! Membengkak saat ditemukan di kebun milik si A. Belalai terpotong. Gadingnya hilang. Mungkin Gajah kecil sudah menangis sejak Ayahnya mengejang, melawan, saat nafas terakhir ditarik bersama jiwa. Meratap. Tak ada yang mendengar.

Siapa bilang kehilangan itu enak? Apalagi jika kehilangan itu mendadak. Tanpa aba-aba. Siapa bilang ditinggalkan itu biasa saja? Sakit tahu! Coba kau rasakan.

Belum lagi kalau dipisahkannya bukan oleh kematian. Ditinggalkan. Sendirian. Kau meratap semalaman, tapi tak seorangpun mendengar. Esoknya kau lihat yang kau ratapi tertawa. Baik-baik saja. Sementara kau tidur tanpa membersihkan make-up hingga maskara rontok di atas bantal. Kan sial.

Untunglah kau manusia. Kau bukan Gajah yang ingatannya luar biasa panjang. Kau selalu bisa memilih untuk lupa setelah kenyang meratap. Sama seperti kau selalu lupa dimana kau taruh kunci, dimana kau letakkan ponselmu. Yah kau kan pelupa.

Jika tidak, kau bisa simpan ingatan itu baik-baik dalam peti yang terkunci di sudut. Lalu melenggang melanjutkan hidup. Nanti juga lupa.

Tenang, manusia itu makhluk pelupa kok!

Salam,