“Marry me?” (source: shutterstock)

Fyi, tulisan ini saya buat sebagai curahan hati dan pemikiran saya setelah membaca Bab 5 tentang Perempuan Menikah di buku Second Sex karya Simone de Beauvoir. I hope no one feel attacked or uneasy to read this. Lol. Sebab saya memang tidak bermaksud menyerang pendirian siapapun terkait pernikahan.

Di usia saya yang sudah 26 tahun dan 5 bulan ini, kebanyakan orang-orang di sekitar saya sudah menikah. Kawan sekolah, kawan seangkatan di kampus, adik angkatan, bahkan sahabat-sahabat saya. Saya tahu betul ada tipikal orang yang ketika sering diundang hadir ke pesta pernikahan, mulai gelisah dan bertanya-tanya, “Kapan giliran saya?” Luckily, I am not that kind of person.

Bagi saya menikah itu bukan ajang perlombaan. Jadi sejauh ini saya tidak pernah sekalipun merasa gelisah memikirkan ‘giliran’. Saat saya diklat beberapa waktu lalu, saya bertemu beragam orang. Mulai dari yang ingin segera menikah, yang menunda menikah karena agenda diklat walau segala persiapan sudah sekian persen, sampai yang menyesal karena menikah terlalu cepat. Saat saya melihat yang ingin segera menikah (kebetulan anak yang dekat dengan saya tersebut berusia di bawah saya), saya seperti melihat diri saya di masa lalu.

Sekitar 4-5 tahun yang lewat, saya pernah ada di posisi anak tersebut. Jatuh cinta, tidak mau berpisah, hingga tidak berpikir panjang walau dengan pacar saat itu belum tercapai kesepakatan mengenai kehidupan rumah tangga yang ingin diraih. Di luar keinginan untuk menikah, saat itu baik saya dan dia tidak satu frame dalam memandang peran perempuan dalam keluarga. Bagi saya yang tidak bisa diam, harus di rumah 24 jam mengurus segala hal soal rumah tangga sendirian bukanlah pilihan. Namun baginya, keberadaan Ibu di rumah begitu penting. Sejalan dengan Ibunya yang 100 persen mengurusnya di rumah. Alamak umur masih muda kali saat itu, sudahlah ribut soal begitu. Tapi yah, obrolan tersebut memang tidak pernah tuntas, sebab tidak ada jalan tengah bagi pendirian kami yang sama keras. Pada akhirnya, justru hubungan kami yang tuntas.

Pada masa itu, saya begitu terpana dengan quotes tentang pernikahan, rumah tangga, dan semacamnya. Bagi saya berumah tangga visinya harus besar, makanya saya selalu menyamankan diri bersama lelaki yang setipe. Hidup di organisasi, bergerak dengan ritme yang (saya pikir) senada, punya cita-cita besar, and so on. Tapi pada akhirnya, dalam setiap hubungan yang kandas selalu ada bagian dari diri saya yang menyadari bahwa hal-hal yang tadinya saya pikir matter tidak selalu esensial. Sebab semirip apapun dunia saya dengan pasangan-pasangan saya dulu, kami tetap dua individu dengan cara pandang dan pikir yang berbeda.

Setelah melalui beberapa hubungan, sampailah saya pada titik dimana saya memutuskan untuk tidak menikah. Mengapa? Sebab saya tidak ingin. Sesederhana itu. Pada satu kesempatan saya pernah bertengkar dengan Mama saya karena hal itu hingga beliau menangis. Hal yang lucu sekali jika diingat-ingat. Perlu dicatat, Bapak dan Mama saya tidak pernah menargetkan kapan saya harus menikah bahkan cenderung mencegah saya untuk menikah di usia yang terlalu muda. Kakak saya saja menikah di usia yang tidak terlalu muda, yakni 26 tahun.

Walau saya cenderung tidak percaya pada lembaga pernikahan, bukan berarti saya membenci pernikahan. Saya bahagia melihat banyak kawan yang berbahagia pasca menikah. Banyak juga yang menikmati ‘berpindah’ kantor dari gedung bertingkat di Jakarta ke rumah. Walau di sisi lain, ada juga masalah-masalah dalam pernikahan kawan-kawan yang sampai ke telinga saya. Namun simpelnya, di usia yang semakin tua ini hal-hal seperti pernikahan justru semakin jauh dari fokus utama saya.

Sangat disayangkan, saya hidup di Indonesia dimana banyak sekali orang yang nosy dengan kehidupan orang lain. Walau saya memilih ‘tidak menilai’ pilihan hidup orang lain, ada saja orang yang sering menilai pilihan hidup saya untuk belum menikah hingga saat ini. Sudah banyak sekali komentar mengenai status saya mulai dari yang nadanya biasa sampai tidak biasa, hingga terkesan memaksa saya nikah seperti, “Ayo dong, nikah dong. Tunggu apa lagi sih?” Belum lagi ditambah dengan segala dalil untuk menguatkan argumentasi. Hadeh.

Untungnya, masih ada orang-orang yang sudah menikah namun masih bisa diajak ngobrol asik soal pernikahan. Yang kalau didengar ceritanya sederhana. Alasan menikahnya sederhana. Pun hidup berduanya sederhana. Sesederhana tidak mempedulikan pandangan orang soal, “Sudah nikah harus cepat-cepat punya anak kalau gak mau jadi omongan orang.” Lah, yang nikah dia kok jadi situ yang repot. So Indonesian.

Jujur cerita-cerita menuju and/or setelah pernikahan yang dikesankan terlalu wah malah kurang berkesan di mata saya. Saya justru lebih bisa menemukan kebahagiaan yang esensial dalam beragam cerita sederhana. Kalau dulu quotes Tere-Liye (saya bacanya Terelai) rasanya aww sekali saat dibaca, sekarang malah buat saya cringey. Bahkan bagi saya yang orangnya sangat cheesy. Duh! Saya sudah berkembang, time flies so fast. Wkwkwk.

Ya pada akhirnya, to marry or not to marry balik ke prinsip masing-masing. Kalau saya lebih pilih memantapkan hidup saya sendiri dan membahagiakan keluarga saya dulu. Pun sekarang saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang setelah cukup lama idle dan kadang terpikir soal pernikahan. Tapi, one thing for sure jika pada akhirnya saya menikah, baik dengan pasangan saya saat ini atau dengan orang lain saya rasa bukan akan terjadi di momen seperti ini. Saat dimana saya sedang berusaha menggapai cita-cita saya. Dan tentunya bukan karena diburu waktu tanpa pikir panjang soal kehidupan apa yang akan kami jalani di masa yang akan datang.

P.S: We already talked ’bout marriage and we both knew it won’t happen soon. But at least both of us could pictured what we want for the future. Not some kind of cinderella love story, bukan juga sesuatu yang mungkin menarik dibukukan dan difilmkan seperti ‘Teman Tapi Menikah’, namun yang pasti saya tahu kebahagiaan apa yang esensial bagi saya. Dan itu bukan menikah right here, right now, just because everybody already did.

Salam sayang,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s