“Burned.” (Source: pinterest i guess…)

Kadang kau menyusun kesedihan, kemarahan, rasa lelah, frustasi, seperti lego-lego atau batu bata. Sedikit demi sedikit hingga terbentuk suatu struktur. Entah tembok, kubus, rumah, atau bentuk-bentuk artistik yang hanya kamu serta Tuhan yang tahu maknanya.

Tiba-tiba lewat satu sentuhan kecil atau satu tiupan pelan, semua luluh lantak. Semua rasa yang tersimpan rapat-rapat pecah bagai gelembung sabun yang kau sering mainkan sewaktu kecil.

Ketika itu terjadi mungkin kau merasa kaget. “Kenapa? Apa yang salah denganku?” tanyamu. Kau coba pikirkan, tapi tidak kunjung kau temukan jawabannya. Kau coba melihat lebih dalam, sebab kau tahu yang penting tidak terlihat oleh mata.

Lalu kau temukan dirimu meringkuk di dasar jurang laut yang kering. Sendirian. Hanya seukuran bidak monopoli yang biasa kau mainkan. Kau mencoba untuk meraih, namun terasa begitu jauh. Di luar jangkauan. “Apa yang harus kulakukan?” ucapmu lirih.

Tanpa kau sadari air matamu mengalir, semakin jauh dan jauh. Membentuk delta yang terhubung dengan sungai Nil. Hingga ia meluap. Membanjiri lautmu yang kini kembali dipenuhi air. Dari masing masing tetesannya timbul gelembung-gelembung kecil yang kemudian pecah menjadi ribuan ikan. Akhirnya, kau tak lagi sendiri di dasar laut yang kering. Kau tersenyum, tepat sebelum tiba-tiba alarm ponsel sial-mu berbunyi.

Kau terbangun, menyadari bahwa semuanya hanya mimpi. Yang nyata hanyalah bekas-bekas aliran air mata di bantalmu. Jangan takut, kau tak sendiri 🙂

Salam sayang,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s