“Beyond reasonable doubt…”

Subuh ini kulihat ponselku menunjukkan angka duapuluh empat. Sudah empat kali duapuluh empat sejak malam itu di Jalan Solo. Apa kamu ingat? Kamu menyetir, aku berbicara. Aku berbicara, kamu menyetir. Wah sama saja dong ya? Yah intinya memang aku sih yang lebih banyak bicara. Hahaha.

Walau agak telat, kulewati ulangtahunku denganmu. Vice versa. Kala itu aku belajar sulitnya meluangkan waktu. Bukan soal prioritas, sebab ada kalanya apa yang menjadi prioritas tetap harus kalah oleh rutinitas. Adulthood is sucks!

Waktu berjalan, perasaan makin dalam tapi romansa mulai berkurang. Wajar. Sejak awal kita paham, cepat atau lambat kita akan kembali ke pola awal sambil tersendat mencoba saling menyesuaikan. Bagaimanapun, kamu punya bagian hidupmu yang eksis sejak sebelum aku ada. Begitupun aku.

Jujur saja, kadang ada kekhawatiran perasaan kita tidak sejalan dan yang semakin dalam hanya aku saja. Tapi cepat-cepat kusingkirkan kekhawatiran itu, sebab aku tidak ingin menilai sayangmu sepicik itu. Aku belajar bahwa menyayangimu itu satu hal, dan disayangi olehmu itu hal lain. Pun jika sayangmu konstan atau malah berkurang, itu selayaknya tidak berbanding lurus dengan perasaanku. Lagipula aku tidak bisa menjamin bahwa perasaanku akan terus bertambah atau setidaknya konstan di batas aman. Namanya juga manusia. Apa yang bisa kita harapkan dari ‘kemanusiaan’ kita selain ketidakpastian dan kelabilan?

Dalam empat kali duapuluh empat, sudah sejauh apa kita mengenal satu sama lain? Kurasa antara angka 1-10 kita belum berhasil melewati angka 5. Disitu aku sadar, betapa sulitnya menaklukkan jarak. Bukan perkara unwillingness tapi lagi-lagi tidak semua hal pasti berjalan sesuai dengan rencana ataupun keinginan kita kan? Inginku sudah mengenalmu luar dalam, tapi ya semuanya harus melalui proses yang kadang dipengaruhi banyak faktor. And like reality, distance is a b*tch. Truly.

Seperti yang dulu sekali pernah aku bilang, aku tidak bisa menjamin bahwa perasaanku akan tetap sama. Tapi setidaknya kamu harus tahu, hari ini aku cinta kamu lebih dari kemarin. Besok? Ya mana aku tahu. Sounds bitter? Ofc. But is it logic? Hell yessss! Karena aku (dan juga kamu) masih manusia. Hanya saja, aku berharap aku tetap bisa selalu mencintai kamu unconditionally tanpa berhenti mencintai diriku sendiri.

My final words, terima kasih untuk empat kali duapuluh empat kita yang tidak sempurna. Terlepas dari pasang surutnya, been so happy loh aku. Yuk berusaha tetap bersama tanpa harus kehilangan diri kita sampai duapuluh empat keenam, kesepuluh, keduabelas, keduapuluh, dan seterusnya. Karena cinta memang seharusnya membebaskan kan? Seperti kata Rendy Pandugo,

“Terbang bersamaku bila kau mau, genggamlah hatiku. Meski tak sempurna separuh sayapku, langit berbintang memelukku erat.”

Salam sayang,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s