Shame on you(r), body!

“Am I fat? Or am I fat?” (source: itu ada di gambarnya kaleee.wkwkwk)

“Kurus banget sih, cungkring!”

“Eh gemukan ya? Makin tembam loh pipinya.”

“Item amat mukanya, main mulu sih.”

“Kok sekarang jerawatan?”

“Kucel banget mukanya, make up-an dong!”

“Itu blush-on ketebalan, mukanya kayak habis ditabok.”

Style-mu aneh sih, gak fashionable.”

Itu adalah sebagian kecil dari kata-kata yang pernah saya dengar dalam hidup saya. Ya betul banget emang, you can never please the society. Pasti ada aja yang kurang, even artis yang cantiknya hqq masih juga dikomentarin ininya lah itunya lah. Hadeh.

Saya anak kedua. Kebetulan Mama dan Kakak saya berkulit cerah, berwajah tirus dengan tulang pipi yang visible, bertubuh mungil ala perempuan Indonesia, bibir cerah tanpa polesan. Standar kecantikan nowadays lah. Sementara saya? Berkulit gelap, bertubuh lurus, kurus cungkring yang jika menggemuk maka bertambah lebar lah bahu saya seperti lelaki, pipi tembam, ditambah bibir tipis gelap yang susah buat nyocokin warna lipstik. Saya tahu, saya tidak masuk dalam standar cantik (setidaknya di masa kini, dan di tempat ini). Body, face, make up, style, dan shaming-shaming lainnya bukan sekali dua saya dengar. Dari yang nadanya bercanda, sampai serius.

Dulu sekali, waktu saya masih kecil saya sering dicandai bahwa saya anak yang ‘dipungut’ entah dari mana oleh keluarga besar. Alasannya? Karena fisik saya berbeda itulah dengan Mama dan Kakak saya. Saya ingat, suatu kali saya pernah sampai menangis karena itu. Padahal setelah saya pikir-pikir, mana mungkin saya anak pungut. La wong Bapak saya berbadan besar, berkulit gelap, berwajah bulat, 11-12 dengan saya. Hahahahaha.

Wajah saya sensitif, salah produk dikit pasti timbul jerawat. Boro-boro mau pakai produk pemutih, buat hilangin bruntusan yang muncul karena salah produk aja susah. Saya juga banyak alerginya. Stress dikit gatal-gatal, digigit nyamuk pasti membekas, sekarang saya mandi selalu pakai sabun bayi. Mana ada pemutih di sabun bayi?

Saya juga punya gangguan autoimun, psoriasis di kuku dan (kadang) di kulit kepala. Yang paling terasa kuku saya kalau gak rajin dirawat, minimal dikikir sendiri pakai buffer di rumah ya tampilannya ga halus dan rata kayak kuku normal. Pasti ngelupas-ngelupas dan terlihat bolong-bolong bagai permukaan bulan. Habis di-buffer, manikur, pedikur, tiap kali kukunya tumbuh, permukaan yang tidak rata itu ya muncul lagi. Bayangin demi kuku halus aja, harus ngurusin kuku seminggu sekali. Di kulit kepala juga berasa sih, karena itu buat rambut saya rontok parah. Hahaha. Pernah suatu kali ketika saya gak sempat ngerawat kuku seorang kawan berkomentar, “Ih kok lo cewek kukunya jelek sih.” Udahlah shaming, ditambah pula seksis. Ya gak? Or mungkin, saya aja yang baper? Wkwkwk.

But anyway, bicara soal baper hal-hal kayak gitu dulu sangat mengganggu saya. Sering malah buat saya gak percaya diri. Sekarang? Ah bodo4mat. Tapi kalau lagi sensi kadang masih suka baper sih. Hihihi. Cuma ga seganggu dulu-dulu aja. 

Nah, hari ini entah mengapa keingetan. Bukan, bukan saya lagi baper. Cuma tadi itu, saya lagi iseng-iseng lihat beberapa produk skincare dan make-up dengan harga selangit. Eh, saya suddenly berpikir, kita hidup di society dimana standar kecantikan “dibuat” untuk dan oleh pemodal. Kemudian dibantu media untuk mendistribusikan. Fashion line, make up, skincare, everything. Is that fair? Ah jangan ngomong soal fair dulu deh. Secara mendasar, is that okay? We live in a society dimana tampilan luar dinilai berdasarkan standar baku, yang dibakukan entah untuk kepentingan siapa.

Kita -mungkin saya juga- seringkali mudah mengomentari seseorang based on penampilannya. Entah penampilan fisik aslinya, style-nya, make up-nya, apapun. Yang bermake-up mengomentari yang ga bermake-up, yang kurus mengomentari yang gendut, yang eyeliner dan alisnya on-fleek mengomentari yang gak on-fleek, yang ootd-nya hits mengomentari yang pakainya cuma jeans belel dan t-shirt itu-itu aja, yang (alhamdulillah) syar’i mengomentari yang belum, vice versa. Buat yang suka komen-komen gitu pengen deh bilang, “Who are you to judge?”

Pernah gak sih kepikir, segala bentuk shaming are kinds of bullying loh. Dan sama seperti segala bentuk bullying, nothing good comes from it. Apa sih keuntungan yang kamu dapatkan dari itu? Ga ada kan? Or mungkin kamu dapat kepuasan batin bahwa ada seseorang yang lebih buruk darimu? Entah lah. Saya harap bukan itu alasannya, sebab menyedihkan sekali lho kamu jika begitu.

Salam,


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s