24th in An Eye of A Hopeless Romantic

“Errr… What?” (Source: relatably.com)
 

Saya selalu merupakan seseorang yang hopeless romantic. Sejak kapan? Entah. Saya tidak ingat. Mungkin sejak pertama kali saya menyukai seorang anak laki-laki di umur 10 tahun. Atau sejak pertama kali saya pacar-pacaran di umur 15 tahun (?). Hmm.

Saya ingat saya pernah membuat scrapbook, menuliskan poem, memasak dan baking, membuat kupon, menulis cheesy words and take pictures of it, randomly kasih hadiah, menyiapkan surprise kecil, dan melakukan hal lain yang saya pikir akan membuat pasangan saya gembira dan feel loved.

Being a hopeless romantic while you are a total cuek (apa sih bahasa inggrisnya cuek?) and introverted person rasanya kocak. Cuz i’m not good with expressing my feelings verbally, but in other way around i like to do cheesy stuff and of course write cheesy words. Like a really cheesy one. Even my boyfie said, i’m really good with words. Hahaha. It’s only in written form, dude! Saya gak bisa kalau harus mengatakannya in person while he looks at me right in the eyes. It’s hard. So damn hard.

Once  my ex -yes, when he already my ex pfftt- said, “You’re too busy with lovey dovey stuff.” He said it in negative way, talked about me and my boyfie at that time -not the one i am being with now-. Not that I always post lovey dovey stuff in social media, but i guess that guy was just being a j*rk. Lmao. I can’t help but laugh to hear him. Kenapa? Karena dulu dia selalu bilang saya cuek af, cuma karena saya jarang banget mengekspresikan perasaan saya. With words. Yaaa as we live in a same town, jauh dari orangtua, we rarely text, hampir selalu bersama kok. Minimal 2 jam sehari lah selama 2 tahun-an saya bertemu dalam sehari. Padahal saya sudah tunjukkan in action. Yha gimana, i’m a (wo)man of action. Scrapbook, poem, breakfast delivery service (sebelum ada go-jek, grab, dll loh), pick-up service, foods, sweets, and stuff. Hahaha. Paradoks banget gak sih (?). He asked for words when i gave actions.

Another ex, the one i was being with ketika mantan saya yang saya sebut sebelumnya bilang saya too busy with lovey dovey stuff justru selalu bilang, “Ngapain sih, kayak anak SMA tahu gak?” Ya sudah, saya jadi malas untuk melakukan hal-hal yang lovey dovey. Lucu kan? Pas saya gak bisa lovey dovey eh malah dibilang sibuk lovey dovey. Pas saya lovey dovey, eh malah dibilang gak cukup lovey dovey. Haaaa… Energi hopeless romantic saya bisa-bisanya loh tidak tersalurkan selama hampir 5 tahun berturut-turut.

Banyak quotes di instagram yang bilang, setiap orang yang hadir dalam hidup kita pasti ada alasannya. In romantic relationship, kalaupun gak jadi alias putus minimal kamu jadi tahu apa yang kamu gak mau dari seseorang. Like traits apa yang kamu gak suka, jadi kalau next time kamu ketemu orang lain kamu bisa langsung menandai kalau ada tanda-tanda traits yang menyebalkan. Harusnya bisa lebih aware karena sudah pengalaman lah. Lols. Dari pengalaman saya sebelumnya, saya tahu salah satu trait yang harus sekali saya hindari adalah ignorant dengan ke-hopelessromantic-an saya. Lesson learned.

My current boyfie untungnya berada di spektrum yang betul-betul berbeda dengan 2 (dua) sampel ex-boyfie yang saya sebutkan. Hamdalah! Bersama lelaki ini saya tidak perlu menahan energi hopeless romantic saya karena (katanya) dia justru suka saat saya melakukan hal-hal bodoh-sok-romantis. He considers my cheesy text as menyenangkan. Entah ya itu jujur atau bohong. Bisa jadi cuma sweet talk saja kan (?). But anywaywe’re friggin far and this ldr kills meeee! Positifnya ya saya jadi rajin mengungkapkan perasaan saya melalui cheesy text. Hahaha. Sisi menyenangkannya adalah saya tahu, lelaki ini gak akan mengatakan hal-hal yang menyakitkan seperti, “Ngapain sih sok romantis?” or “Ngapain sih sibuk cinta-cintaan?” or paling sederhananya “Ngapain sih melakukan hal yang gak penting kayak gitu?” over my cheesy text.

So far, lelaki yang mengklaim tidak bisa bermulut manis ini adalah one of the greatest gift in my life. Yaaaa at least till now lah. Hahaha. Dia belum pernah menahan, menekan, ataupun berusaha merubah saya -dan saya harap jangan pernah-. Dia meng-embrace ke-hopelessromantic-an saya. Dia lelaki yang membuat saya berpikir, oh masih ada ya lelaki macam ini. Dia lelaki istimewa yang membuat saya merasa cukup walau hanya menjadi seorang Aje. No scoring system. Dia lelaki yang magically membuat insecurities saya menghilang. No wonder, he’s a wizard. Lols. And the last, dia lelaki yang saya harapkan menjadi sintesis dalam proses dialektika cinta-cintaan saya. Icikihir. No more tesis anti-tesis, please!

P.s: Never been in a situation where i think i need to save all of the movie tickets, dinner bill, and stuff. And now, i dunno why but i feel urge to start it. Lol. I just wanna save all of our memories along with all the footprints. Nah kan cheesy (?)

P.s.s: Gak mau bilang happy anniversary karena itu salah banget. Monthversary juga gak mau karena maksa banget. Cuma mau bilang, terima kasih ya kamu karena sudah membersamai selama 30 hari terakhir. Yuk sama-sama berproses lagi untuk 30, 180, 365, 730, dan hari-hari selanjutnya. Ayufyu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s