“Kok sendirian Mbak? Jomblo ya?” Source: aurbataokuch.com

Sebagai seorang perempuan yang sering sekali kemana-mana sendirian, saya mendapati bahwa masyarakat Indonesia masih memandangnya sebagai sesuatu yang asing. Tidak pernah saya berpergian sendirian tanpa ada mulut yang sangat perhatian dan bertanya, “Kok sendirian Mbak?” Kalau pertanyaan tersebut ditanyakan oleh perempuan lain seperti Ibu-Ibu atau Mbak-Mbak saya biasanya hanya menjawab iya sembari tersenyum. Tapi ketika ditanyakan oleh lelaki, yang terdengar di telinga saya adalah nada yang mengganggu. Ditanggapi salah, tidak ditanggapi salah. Seperti hari ini.

Pagi tadi saya impulsively pergi ke Kebun Binatang Ragunan. Niatnya olahraga pagi, lari-lari kecil karena trek di Ragunan yang naik turun cocok untuk latihan fisik sebelum pendakian bulan depan. Dari rumah saya berangkat sudah agak siang, sekitar pukul 7 dalam keadaan belum mandi dengan berbekalkan tas kecil berisi dompet, handphone, earphone, dan sunscreen. All the essentials. 

“JakCard bergambar Gajah.” Source: pribadi

Setelah perjalanan sekitar 15-20 menit saya sampai di parkir motor ragunan. Ternyata JakCard saya saldonya sisa 1.500 sehingga harus diisi terlebih dahulu. Akhirnya saya tinggal kartunya untuk diisi di pos masuk parkir sembari memarkir motor. Tidak lama saya kembali untuk mengambil JakCard saya dan Mas-Mas yang jaga pos berkomentar, “Pagi banget, Mbak.” Saya hanya menjawab iya sembari tersenyum sopan. Kemudian ada seorang penjaga lainnya yang agak lebih tua menyambung, “Mau olahraga ya? Kok sendirian Mbak?” Saya lagi-lagi hanya menjawab iya. Namun kali ini diikuti dengan kalimat, “Mari, Pak!”

“Kenapa ada patung Gajah Afrika di antara para Pelikan Kacamata?” Source: pribadi

Setelahnya saya melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk. Melewati kandang Binturong dan Rakun, kemudian menghampiri kandang Pelikan untuk mengambil foto serta bersiap-siap untuk berlari. Saya menyalakan Nike+ Run dan Spotify, lalu saya mulai berlari. Hari ini saya langsung ke arah kandang Harimau dan Singa baru kemudian memutar ke arah Orangutan lalu ke depan lagi melewati kandang burung. Setelahnya saya kembali mengambil jalan melewati masjid namun kali ini tidak belok ke arah kandang Harimau melainkan lurus menuju kandang Gajah. Total saya hanya berlari sejauh 1,2km dalam waktu 8 menit-an.

“I could sit all day watching the Elephants eating.” Source: pribadi

Sesampai di kandang Gajah yang terletak di Jalan Gajah Barat saya duduk di paving sembari bersandar ke kursi yang letaknya sekitar 5 meter dari pembatas kandang. Namun saya berkali-kali berdiri dan menghampiri kandang setiap kali Gajahnya mendekat. Pas sekali saat saya berdiri ada sekitar 4 orang berseragam yang baru datang. Salah satu diantaranya minta difoto kemudian saya agak bergeser untuk memberikan ruang.

“He’s teasing her. What a lovebird slash elephant.” Source: pribadi

Saya sedang diam sembari melihat Gajah ketika orang yang mengambil foto berkata, “Wah kurang bagus soalnya sendirian. Mbak tolong ditemani dong.” Jujur saya malas sekali dengan cara-cara seperti itu. Walau saya misuh-misuh dalam hati namun saya hanya menjawab, “Oh enggak makasih.” Saya pikir selesai sampai situ, ternyata saya salah. Tidak lama orang yang tadi difoto bertanya kepada saya, “Kok sendirian Mbak?”

“Saya ga sendirian kok. Saya ditemani Gajah yang cantik ini.” Source: pribadi

Shietz. I really hate that kind of question. Bukan, bukan karena sedih sendirian. Terus ingat mantan, galau, risau, malu karena jomblo dan ga punya kawan. Bukan. Pertanyaan itu hampir selalu terdengar seksis bagi saya. Kenapa memangnya kalau sendirian? Apa karena saya perempuan? Apa segitu anehnya perempuan pergi sendirian, bahkan ke Ragunan yang bisa dibilang cuma sepelemparan batu dari rumah saya? Apa perempuan memang ga bisa or ga boleh pergi sendirian? Dunno, dat kind of question sounds stupid dan sangat seksis aja bagi saya. Apalagi saya bisa membedakan mana yang nanya karena betulan peduli, mana yang cuma basa-basi, dan mana yang merupakan pick-up line ga penting. Dikiranya kalau perempuan sendirian berarti minta digodain atau lagi cari lelaki mungkin.

Saya semakin furious karena saya sudah menunjukkan gesture terganggu tapi orang ini tidak melihatnya. Saya hanya menjawab, “Iya.” Tetapi orang tersebut terus melanjutkan percakapan sebagaimana di bawah ini. Yang di dalam kurung adalah komentar atau pisuhan saya ya.

Orang asing (OA): Memang dari mana Mbak?

Saya (S): Dari rumah. (Fyi, saya sudah membuat nada suara saya terdengar sangat terganggu.)

OA: Haha iya rumahnya dimana?

S: Dekat sini. (Damn! Do you really need to ask all of this question when my gestures and my answers already shows that I’m friggin annoyed?)

OA: Haha iya dekat sini itu dimana?

S: Pasar Rebo.

OA: Sesudah Pasar Selasa ya?

S: Ya disitulah. (Wtf wtf wtf! I’m trying so damn hard not to throw any anger. This is my moment with Elephant. I don’t want any punk with uniform ruin my day.)

OA: Kok ga ada yang nemenin? Emang ga apa-apa pergi sendirian, ga ada yang nyariin? Apa habis putus ya?

S: Enggak. (Really pertanyaan ini udah bikin saya fed up banget. Jijik. Kesannya perempuan sangat depending sekali sama lelaki. Sama pacar. Sama suami.)

OA: Kalau Pasar Minggu jauh gak dari sini Mbak?

S: Lumayan.

OA: Berapa km?

S: Sekitar 3-4 km mungkin.

OA: Oh berarti bisa jalan kaki ya?

S: Bisa. (Another sexist question karena ketika saya bilang bisa dia tertawa. Mungkin dipikirnya saya bercanda. Eh sorry ya saya biasa lari pagi lewatin pinggir tol TB Simatupang terus mutar ke sisi pinggir tol Taman Mini. Itu bisa 3,5-4 km.)

OA: Saya ga tau sih ya soalnya saya bukan orang sini. Sering kesini Mbak?

S: Lumayan. Saya suka Gajah. (Udah tahu ga tahu ngapain nanya-nanya. Ga faedah.)

OA: Oh. Hahaha emang apanya yang disukai dari Gajah? 

S: Banyak. (Saya sudah malas jawabnya karena nada pertanyaannya terdengar seperti memang-apa-bagusnya-sih-gajah.)

OA: Disini selain Gajah hewannya ada apa aja ya?

S: Banyak. Harimau, Singa, Beruang.

OA: Dinosaurus ada ga?

S: Ga ada. Adanya buaya.

OA: Kalau Harimau sama Singa di sebelah mana Mbak?

S: Di tengah.

OA: Jauh Mbak? Nanti nyasar lagi.

S: Enggak. Ikuti saja petunjuknya. Ada di setiap sudut.

OA: Ya tetap aja nanti nyasar karena ga tau jalan.

S: Ya. (Saya tau jawaban ini ga nyambung sama sekali. Tapi saya benar-benar tidak dalam mood untuk bersosialisasi apalagi melakukan basa-basi macam ini.)

Eh kebetulan setelah itu ada satu keluarga yang mau berfoto. Saya kemudian bergeser menjauh sehingga antara saya dan orang tersebut dibatasi keluarga yang berfoto. Tidak lama orang-orang berseragam itu kemudian pergi dan berkata, “Mari Mbak.”

Akhirnyaaa pergi juga ampun. Saya benciiii sekali kalau saya sudah menunjukkan saya sangat terganggu tapi orang masih insist untuk mengajak bicara. Saya jarang menunjukkan saya terganggu soalnya. Demi kesopanan. Kalau saya sudah menunjukkan berarti itu sudah parah banget menurut standar saya.

Saya tidak paham apa yang jadi masalah ketika perempuan pergi sendirian, berduaan, bertigaan, atau bahkan ramean tanpa lelaki. Apa iya mindsetnya perempuan itu ga bisa pergi sendirian atau hanya bersama perempuan lainnya? Apa iya serentan dan selemah itu perempuan di mata society?

Bukan sekali dua saya pergi sendirian dan ditanya, “Kok sendirian Mbak?” Biasanya pertanyaan itu akan diikuti dengan, “Emang pacarnya kemana?” I really really fed up with that sexist question. Terkesan sekali perempuan itu ga bisa berpergian kalau ga sama pacar/suami/pokoknya lelaki.

Ya ampun, saya bahkan manjat Salak sendirian walau nggak muncak. Iya tahu itu nggak baik, nggak aman. Paham betul. Wkwk. Terlepas dari kenakalan saya yang tidak mengikuti safety procedure, saya cuma mau bilang perempuan itu tidak lemah. Di Yogya misalnya saya sering naik motor kemana-mana sendiri. Antar kota antar provinsi malah. Saya puluhan kali naik-turun Gunung Api Purba Nglanggeran sendirian. Cuma untuk makan pisang. Pergi ke pantai sendirian buat liat sunset. Bahkan ke rumah sakit sendirian pas punya pacar. Wkwk.

Di Kalimantan Timur  malah saya naik motor dari Samarinda ke Tenggarong sendirian. Lewat jalan berkelok-kelok yang kadang longsor di beberapa tempat. Dulu pun ketika disana, sering banget saya jadi korban harassment lewat omongan lelaki cuma karena saya kemana-mana sendirian. Cat-calling mah makanan sehari-hari. Saya sampai ribut sama seorang pekerja tambang saat makan di Berau karena merasa dilecehkan. Memang betul kata Bang TM, energi tengkar saya terlalu kuat. Hahaha. Saya tidak tahu dengan perempuan lain, tapi saya sadari keberanian saya lahir karena didikan Bapak yang keras dan juga fakta bahwa saya latihan beladiri taekwondo sejak kelas 3 SD sampai lulus SMA. Saya juga sempat menjajal Capoeira walau akhirnya saya berhenti, tidak sanggup karena harus melakukan akrobatik. Iya saya paling benci akrobatik. Disuruh jungkir balik. Mengerikan.

However, perjalanan hari ini mengingatkan saya kembali bahwa masalah utama bukan terletak pada kesetaraan. Kenapa? Karena tanpa perlu meminta sekalipun perempuan jelas setara dengan lelaki. Satu hal yang jelas-jelas gagal dipenuhi adalah lingkungan yang melahirkan rasa aman dan nyaman bagi perempuan untuk berkarya dan beraktivitas. Bebas dari kungkungan mindset yang sempit, pandangan yang mencela dan merendahkan, serta cara-cara purba dalam bersikap terhadap perempuan.

Salam hangat,



Advertisements

4 thoughts on “Kok sendirian Mbak?

  1. Nah ini nih. Emang harusnya tanpa meminta kita tuh setara sama laki-laki. Tapi kenyataannya lain :/ Kadang gue gak abis pikir sama catcaller begini. Pernah waktu itu jelas-jelas gue lagi jalan sama 2 orang bibi, 1 orang paman, dan kedua orang tua gue, eh masiiiih aja gue digodain. Otak kemana otak? Grr..

    Btw, salam kenal yah 🙂 Monggo mampir-mampir ke blog Kami Perempoean, siapa tau mau berkontribusi juga ngeshare pengalaman semacam ini. Hehe..

    Like

    1. Halo Kak! Salam kenal! Barusan sudah mampir ke Kami Perempoean dan sudah follow juga. Menarik hehe.

      Iya banget. Aku ga gitu paham kenapa disini orang gampang nyeplos banget untuk goda-godain perempuan. Kek yang sensornya cepat sekali begitu lihat perempuan langsung secepat kilat tahu apa godaan dan celetukan yang akan dikeluarkan. Kurasa sih ga lewat otak yah. Jd langsung gitu nyeplos haha.

      Like

      1. Amalia kalo mau ikutan berkontribusi bilang aja yaa.. bahkan kalo masih bingung pun gpp. Nanti kami admin2nya bantuin. Semakin banyak cerita dari orang2 yg beda, hopefully minimal kita bisa ngebantu ngubah cara pikir orang soal perempuan. Bahkan sesedikit apapun.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s