Mahar oh mahar…

Mahar oh mahar…
“Saya kapan ya di-saya terima-in…” source: hipwee.com

Sekarang entah kenapa lagi ngetren banget mahar berupa hafalan ayat-ayat atau surat di Al-Qur’an. Bahkan lucunya akun model @beraniberhijrah saja mengajarkan demikian. Pun saya lihat mostly komennya mengamini dan baper pengen dimaharin hafalan.

Saya salah seorang perempuan yang ketika ada lelaki mau menikahi saya dengan hafalan surat tok sebagai mahar, maka saya akan menolak. Eaa gaya amat memang ada yang mau nikahin, Je? Hihi.

But seriously, mostly mungkin berpikir itu romantis ala ala syar’i dan keren. Tapi balik lagi ke dasar hukum mahar, coba cek ke An-Nisa ayat 4 dan ayat 24. Mahar itu sekecil apapun adalah berupa sedekah dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Sebagian Ulama yang tidak membolehkan mendasarkan pada tafsiran dari ayat dalam surat An-Nisa yang sudah saya sebutkan.

Memang ada Ulama yang membolehkan mahar berupa ayat al-Qur’an tetapi untuk diajarkan kemudian kepada mempelai wanita. Jadinya bukan sekedar dihafalkan dan dibacakan saat ijab qabul ya.

Hal itu sesuai dengan pengalaman saat Rasulullah menikahkan seorang lelaki yang merupakan Qari dengan mahar berupa ilmu Al-Qur’an yang dimilikinya. Itupun jika memang mempelai pria tidak memiliki harta sedikitpun untuk diberikan sebagai mahar. Sebab masih dalam hadits yang sama Rasulullah sebelumnya bersabda, “Carilah walau cincin dari besi.” Namun, karena lelaki ini sudah mencarinya dan tidak mendapatkan apa-apa jadilah dinikahkan keduanya dengan mahar hafalan Al-Qur’an lelaki tersebut.

Jadi kesimpulannya jangan ikut-ikutan tren kalau belum paham betul dasar hukumnya. Jangan juga secara membabi buta mengamini post @beraniberhijrah. Kalau saya sih mau aja dikasih bonus hafalan qur’an. Tapi jangan lupa sesuai syariat perlu mahar yang berupa sedekah dalam bentuk harta. Gak perlu banyak-banyak kok, secukupnya saja. Kan katanya perempuan yang baik adalah yang maharnya tidak memberatkan.

Nah kalau mau ikuti standar Rasulullah ya lain lagi hitungannya. Rasulullah standar mahar kepada istri-istrinya adalah 500 dirham. 1 dinar itu sekitar 10-12 dirham. Di zaman Rasulullah, 1 dinar itu bisa beli 1 kambing. Harusnya sih jangan cuma 1, 2, 3, 4 yang diikuti sunnahnya tapi maharnya juga. Huhahahaha. 😸

Salam,

Hari ini…

Hari ini…
“Kau selalu bisa memilih untuk lupa…” Source: Flickr

Hari ini satu Gajah mati di Gayo Lues. Jantan. Jika kata peribahasa, harusnya dia meninggalkan gading. Sayangnya tidak. Justru dia tinggalkan seekor Gajah kecil.

Gajah kecil kini sendiri. Tanpa Ayah, tanpa kawan. Aku bertanya-tanya, bagaimana perasaan Gajah kecil. Apakah dia sedih? Apakah dia bingung? Yang terpenting, apakah dia merindukan Ayahnya?

Ayah Gajah mati, tergeletak. Diracun! Membengkak saat ditemukan di kebun milik si A. Belalai terpotong. Gadingnya hilang. Mungkin Gajah kecil sudah menangis sejak Ayahnya mengejang, melawan, saat nafas terakhir ditarik bersama jiwa. Meratap. Tak ada yang mendengar.

Siapa bilang kehilangan itu enak? Apalagi jika kehilangan itu mendadak. Tanpa aba-aba. Siapa bilang ditinggalkan itu biasa saja? Sakit tahu! Coba kau rasakan.

Belum lagi kalau dipisahkannya bukan oleh kematian. Ditinggalkan. Sendirian. Kau meratap semalaman, tapi tak seorangpun mendengar. Esoknya kau lihat yang kau ratapi tertawa. Baik-baik saja. Sementara kau tidur tanpa membersihkan make-up hingga maskara rontok di atas bantal. Kan sial.

Untunglah kau manusia. Kau bukan Gajah yang ingatannya luar biasa panjang. Kau selalu bisa memilih untuk lupa setelah kenyang meratap. Sama seperti kau selalu lupa dimana kau taruh kunci, dimana kau letakkan ponselmu. Yah kau kan pelupa.

Jika tidak, kau bisa simpan ingatan itu baik-baik dalam peti yang terkunci di sudut. Lalu melenggang melanjutkan hidup. Nanti juga lupa.

Tenang, manusia itu makhluk pelupa kok!

Salam,

Kok sendirian Mbak?

Kok sendirian Mbak?
“Kok sendirian Mbak? Jomblo ya?” Source: aurbataokuch.com

Sebagai seorang perempuan yang sering sekali kemana-mana sendirian, saya mendapati bahwa masyarakat Indonesia masih memandangnya sebagai sesuatu yang asing. Tidak pernah saya berpergian sendirian tanpa ada mulut yang sangat perhatian dan bertanya, “Kok sendirian Mbak?” Kalau pertanyaan tersebut ditanyakan oleh perempuan lain seperti Ibu-Ibu atau Mbak-Mbak saya biasanya hanya menjawab iya sembari tersenyum. Tapi ketika ditanyakan oleh lelaki, yang terdengar di telinga saya adalah nada yang mengganggu. Ditanggapi salah, tidak ditanggapi salah. Seperti hari ini.

Pagi tadi saya impulsively pergi ke Kebun Binatang Ragunan. Niatnya olahraga pagi, lari-lari kecil karena trek di Ragunan yang naik turun cocok untuk latihan fisik sebelum pendakian bulan depan. Dari rumah saya berangkat sudah agak siang, sekitar pukul 7 dalam keadaan belum mandi dengan berbekalkan tas kecil berisi dompet, handphone, earphone, dan sunscreen. All the essentials. 

“JakCard bergambar Gajah.” Source: pribadi

Setelah perjalanan sekitar 15-20 menit saya sampai di parkir motor ragunan. Ternyata JakCard saya saldonya sisa 1.500 sehingga harus diisi terlebih dahulu. Akhirnya saya tinggal kartunya untuk diisi di pos masuk parkir sembari memarkir motor. Tidak lama saya kembali untuk mengambil JakCard saya dan Mas-Mas yang jaga pos berkomentar, “Pagi banget, Mbak.” Saya hanya menjawab iya sembari tersenyum sopan. Kemudian ada seorang penjaga lainnya yang agak lebih tua menyambung, “Mau olahraga ya? Kok sendirian Mbak?” Saya lagi-lagi hanya menjawab iya. Namun kali ini diikuti dengan kalimat, “Mari, Pak!”

“Kenapa ada patung Gajah Afrika di antara para Pelikan Kacamata?” Source: pribadi

Setelahnya saya melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk. Melewati kandang Binturong dan Rakun, kemudian menghampiri kandang Pelikan untuk mengambil foto serta bersiap-siap untuk berlari. Saya menyalakan Nike+ Run dan Spotify, lalu saya mulai berlari. Hari ini saya langsung ke arah kandang Harimau dan Singa baru kemudian memutar ke arah Orangutan lalu ke depan lagi melewati kandang burung. Setelahnya saya kembali mengambil jalan melewati masjid namun kali ini tidak belok ke arah kandang Harimau melainkan lurus menuju kandang Gajah. Total saya hanya berlari sejauh 1,2km dalam waktu 8 menit-an.

“I could sit all day watching the Elephants eating.” Source: pribadi

Sesampai di kandang Gajah yang terletak di Jalan Gajah Barat saya duduk di paving sembari bersandar ke kursi yang letaknya sekitar 5 meter dari pembatas kandang. Namun saya berkali-kali berdiri dan menghampiri kandang setiap kali Gajahnya mendekat. Pas sekali saat saya berdiri ada sekitar 4 orang berseragam yang baru datang. Salah satu diantaranya minta difoto kemudian saya agak bergeser untuk memberikan ruang.

“He’s teasing her. What a lovebird slash elephant.” Source: pribadi

Saya sedang diam sembari melihat Gajah ketika orang yang mengambil foto berkata, “Wah kurang bagus soalnya sendirian. Mbak tolong ditemani dong.” Jujur saya malas sekali dengan cara-cara seperti itu. Walau saya misuh-misuh dalam hati namun saya hanya menjawab, “Oh enggak makasih.” Saya pikir selesai sampai situ, ternyata saya salah. Tidak lama orang yang tadi difoto bertanya kepada saya, “Kok sendirian Mbak?”

“Saya ga sendirian kok. Saya ditemani Gajah yang cantik ini.” Source: pribadi

Shietz. I really hate that kind of question. Bukan, bukan karena sedih sendirian. Terus ingat mantan, galau, risau, malu karena jomblo dan ga punya kawan. Bukan. Pertanyaan itu hampir selalu terdengar seksis bagi saya. Kenapa memangnya kalau sendirian? Apa karena saya perempuan? Apa segitu anehnya perempuan pergi sendirian, bahkan ke Ragunan yang bisa dibilang cuma sepelemparan batu dari rumah saya? Apa perempuan memang ga bisa or ga boleh pergi sendirian? Dunno, dat kind of question sounds stupid dan sangat seksis aja bagi saya. Apalagi saya bisa membedakan mana yang nanya karena betulan peduli, mana yang cuma basa-basi, dan mana yang merupakan pick-up line ga penting. Dikiranya kalau perempuan sendirian berarti minta digodain atau lagi cari lelaki mungkin.

Saya semakin furious karena saya sudah menunjukkan gesture terganggu tapi orang ini tidak melihatnya. Saya hanya menjawab, “Iya.” Tetapi orang tersebut terus melanjutkan percakapan sebagaimana di bawah ini. Yang di dalam kurung adalah komentar atau pisuhan saya ya.

Orang asing (OA): Memang dari mana Mbak?

Saya (S): Dari rumah. (Fyi, saya sudah membuat nada suara saya terdengar sangat terganggu.)

OA: Haha iya rumahnya dimana?

S: Dekat sini. (Damn! Do you really need to ask all of this question when my gestures and my answers already shows that I’m friggin annoyed?)

OA: Haha iya dekat sini itu dimana?

S: Pasar Rebo.

OA: Sesudah Pasar Selasa ya?

S: Ya disitulah. (Wtf wtf wtf! I’m trying so damn hard not to throw any anger. This is my moment with Elephant. I don’t want any punk with uniform ruin my day.)

OA: Kok ga ada yang nemenin? Emang ga apa-apa pergi sendirian, ga ada yang nyariin? Apa habis putus ya?

S: Enggak. (Really pertanyaan ini udah bikin saya fed up banget. Jijik. Kesannya perempuan sangat depending sekali sama lelaki. Sama pacar. Sama suami.)

OA: Kalau Pasar Minggu jauh gak dari sini Mbak?

S: Lumayan.

OA: Berapa km?

S: Sekitar 3-4 km mungkin.

OA: Oh berarti bisa jalan kaki ya?

S: Bisa. (Another sexist question karena ketika saya bilang bisa dia tertawa. Mungkin dipikirnya saya bercanda. Eh sorry ya saya biasa lari pagi lewatin pinggir tol TB Simatupang terus mutar ke sisi pinggir tol Taman Mini. Itu bisa 3,5-4 km.)

OA: Saya ga tau sih ya soalnya saya bukan orang sini. Sering kesini Mbak?

S: Lumayan. Saya suka Gajah. (Udah tahu ga tahu ngapain nanya-nanya. Ga faedah.)

OA: Oh. Hahaha emang apanya yang disukai dari Gajah? 

S: Banyak. (Saya sudah malas jawabnya karena nada pertanyaannya terdengar seperti memang-apa-bagusnya-sih-gajah.)

OA: Disini selain Gajah hewannya ada apa aja ya?

S: Banyak. Harimau, Singa, Beruang.

OA: Dinosaurus ada ga?

S: Ga ada. Adanya buaya.

OA: Kalau Harimau sama Singa di sebelah mana Mbak?

S: Di tengah.

OA: Jauh Mbak? Nanti nyasar lagi.

S: Enggak. Ikuti saja petunjuknya. Ada di setiap sudut.

OA: Ya tetap aja nanti nyasar karena ga tau jalan.

S: Ya. (Saya tau jawaban ini ga nyambung sama sekali. Tapi saya benar-benar tidak dalam mood untuk bersosialisasi apalagi melakukan basa-basi macam ini.)

Eh kebetulan setelah itu ada satu keluarga yang mau berfoto. Saya kemudian bergeser menjauh sehingga antara saya dan orang tersebut dibatasi keluarga yang berfoto. Tidak lama orang-orang berseragam itu kemudian pergi dan berkata, “Mari Mbak.”

Akhirnyaaa pergi juga ampun. Saya benciiii sekali kalau saya sudah menunjukkan saya sangat terganggu tapi orang masih insist untuk mengajak bicara. Saya jarang menunjukkan saya terganggu soalnya. Demi kesopanan. Kalau saya sudah menunjukkan berarti itu sudah parah banget menurut standar saya.

Saya tidak paham apa yang jadi masalah ketika perempuan pergi sendirian, berduaan, bertigaan, atau bahkan ramean tanpa lelaki. Apa iya mindsetnya perempuan itu ga bisa pergi sendirian atau hanya bersama perempuan lainnya? Apa iya serentan dan selemah itu perempuan di mata society?

Bukan sekali dua saya pergi sendirian dan ditanya, “Kok sendirian Mbak?” Biasanya pertanyaan itu akan diikuti dengan, “Emang pacarnya kemana?” I really really fed up with that sexist question. Terkesan sekali perempuan itu ga bisa berpergian kalau ga sama pacar/suami/pokoknya lelaki.

Ya ampun, saya bahkan manjat Salak sendirian walau nggak muncak. Iya tahu itu nggak baik, nggak aman. Paham betul. Wkwk. Terlepas dari kenakalan saya yang tidak mengikuti safety procedure, saya cuma mau bilang perempuan itu tidak lemah. Di Yogya misalnya saya sering naik motor kemana-mana sendiri. Antar kota antar provinsi malah. Saya puluhan kali naik-turun Gunung Api Purba Nglanggeran sendirian. Cuma untuk makan pisang. Pergi ke pantai sendirian buat liat sunset. Bahkan ke rumah sakit sendirian pas punya pacar. Wkwk.

Di Kalimantan Timur  malah saya naik motor dari Samarinda ke Tenggarong sendirian. Lewat jalan berkelok-kelok yang kadang longsor di beberapa tempat. Dulu pun ketika disana, sering banget saya jadi korban harassment lewat omongan lelaki cuma karena saya kemana-mana sendirian. Cat-calling mah makanan sehari-hari. Saya sampai ribut sama seorang pekerja tambang saat makan di Berau karena merasa dilecehkan. Memang betul kata Bang TM, energi tengkar saya terlalu kuat. Hahaha. Saya tidak tahu dengan perempuan lain, tapi saya sadari keberanian saya lahir karena didikan Bapak yang keras dan juga fakta bahwa saya latihan beladiri taekwondo sejak kelas 3 SD sampai lulus SMA. Saya juga sempat menjajal Capoeira walau akhirnya saya berhenti, tidak sanggup karena harus melakukan akrobatik. Iya saya paling benci akrobatik. Disuruh jungkir balik. Mengerikan.

However, perjalanan hari ini mengingatkan saya kembali bahwa masalah utama bukan terletak pada kesetaraan. Kenapa? Karena tanpa perlu meminta sekalipun perempuan jelas setara dengan lelaki. Satu hal yang jelas-jelas gagal dipenuhi adalah lingkungan yang melahirkan rasa aman dan nyaman bagi perempuan untuk berkarya dan beraktivitas. Bebas dari kungkungan mindset yang sempit, pandangan yang mencela dan merendahkan, serta cara-cara purba dalam bersikap terhadap perempuan.

Salam hangat,



What is the problem of our law enforcement exactly?

What is the problem of our law enforcement exactly?
“There’s no such thing like justice for all.” (Source: static.aqa.org.uk)

So, one of my friend suddenly chat me in Instagram and ask for my opinion about law enforcement in Indonesia. His question: 

Menurutmu, apakah penegakan hukum indonesia kedepan bergantung pada masa lalu indonesia? Misal kasus 98, pemberontakan pki, papua barat, gam dll..

For that question, I definitely answer no right away. A big big no. Supposedly no. Why? I said because it’s not included in ‘faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum’ such as the law itself, the law enforcers, the law infrastructure and facility, the society, and the culture. Theoretical answer, lol.

After that my friend sent me a paper from Yap Thiam Hien Human Rights Lecture on 24 March 2017, titled “Looking Backward to Look Forwards: A Stronger Future for Indonesia Rooted in Justice”. I read it then I said to him, “I’ve read it, but I still don’t want to think that law enforcement depends on the history. It’s all about good and political will.”

I mean, all the impunity stuff not happen because there were once human right cases. The impunity itself is the problem of our law enforcement. Hey, the jurist once fight for exception of non-retroactive principle so there will be no such thing like impunity, right?
Regarding to the paper, if we talk about our country past sins I will happily say that the problem are us. Not the past. Why our country sins, why not our government sins? Because we, as a member of this nation also guilty for omission tho’ the court never give any of us a damn verdict. In fact we let our government, our law enforcers, and even ourself abusing our dear friends, our brothers and sisters across this country. Till now. Like a bunch of losers.

We let our country abuses some people right of justice, to be submit in a free and independent trial, and we even let some sinners moves freely while our dearest friends, brothers, and sisters still asking where the hell are their son, their daughter, their parents,  their husband, their wife, and their justice.

And how we connect the dots of the past with current law enforcement? I will easily say, after that so called Reform in 1998 nothing was change. Sure we have all of that media to complain, all that instrument to spit our bitterness with all things happen in our country, but still we are too good to stand for our friends, brothers, and sisters. We still blame a wife for begging the President for justice as a nagging old lady. That he can’t move on and don’t understand the President is so damn busy. Really guys? Is that even a good word to say for someone misfortune?

Oh and we even still easily say that the Papuans are total traitors when all they want are just freedom and independency to choose their own destiny. To be rich in their land of paradise. Not being sell and bargain like a piece of thing. They aren’t things. They are human beings. Capable to think and feel. Just like you.

So I would like to say that the biggest problem of our law enforcement are us. We see how the government and law enforcers straddling the law. We see how they not really interest with any human rights issues. We see how they don’t have any good or political will. But we embrace them, we don’t fight them, or easily we just close our eyes and our ears. We just don’t care. As long as it doesn’t affects us. Until one day, they bite you right in your head then you’ll cry like a baby. Hope someone to stand for you and help you dealing with that so called great government, great president, or great policy. Well done!

Salam,

Mereka bilang

Mereka bilang
“Do you hear it crack under your shoe, Sir?” Source: tonibologna.com

Mereka bilang cinta harus disampaikan. Jika tidak kau akan menyesal.

Aku pernah menyampaikan, tapi kemudian aku menyesal. Akhirnya kutanya Tuhan, mengapa jadi begini?

Kali lain mereka bilang jika cinta simpan baik-baik dalam hati, biar kau dan Tuhanmu sajalah yang tahu.

Aku pernah menyimpan, tapi ternyata rasanya sesak. Tidak enak. Sudah pasti tidak baik.

Ada lagi mereka bilang, jika cinta maka perjuangkan.

Suatu kali bukan main kuperjuangkan, esoknya ku dicampakkan. Sial.

Lain lagi yang bilang, lepaskanlah kalau cinta. Pasti akan kembali jika memang untukmu.

Kucoba lepaskan, kemudian ia menghilang. Bagai kupu-kupu yang kemarin kulihat di taman.

Entah sial pangkat dua atau malah berkah tak terhingga karena aku tak jatuh terlalu dalam. Ku rutuki keoptimisanku menghadapi patah hati.

Sekarang kupikir tak ada rumus terbaik untuk itu. Lakukan sajalah apa yang kau percayai. Yakin saja, Tuhan tahu siapa dan kapan waktu yang tepat.

Jangan sesali yang terungkap. Jangan rutuki yang sudah pergi. Syukuri saja yang tetap bertahan. Jika tak ada? Berdoa sajalah. Siapa tahu Tuhanmu sedang berbaik hati.

Siapa tahu…

*Diselesaikan pada 9 April 2017, pukul 03.21 AM di Jakarta