What’s on 2017

“K, bye!” (source: clipart-library.com)

2017 saya berlalu begitu cepat. Mostly karena saya sempat sakit dan unplugged dari kehidupan. But here are some moments yang unforgettable di 2017. Let’s check this out:

  1. Randomly jalan-jalan ke TNGGP sendirian. Niatnya mau ke air terjun, turned out nyampenya kesorean. Ended nongkrong-nongkrong di basecamp relawan Montana yang letaknya pas di belakang resort Cibodas. Numpang makan sayur asem, ikan asin, plus sambal gratis. Masih ditambah kopi hitam yang enak sekali. Belum lagi kenalan sama kawan-kawan baru yang kapan-kapan bisa dikunjungi lagi. Hihihi;
  2. Operasi dengan bius total pertama. My wisdom teeth was impacted. All of them. Setelah bertahan sejak 2011, akhirnya saya memutuskan untuk mencabut semuanya sekaligus. Supaya ga perlu mengalami pemulihan berkali-kali. Rasanya? Superb! Hahaha. Belum lagi pemulihan pasca operasi yang lebih kreji. Setelah operasi seluruh mulut saya luka dan sariawan. Gak bisa makan apapun. Enak sih bisa diet. Tapi gak tahan lapar 😦
  3. Memutuskan untuk kembali memainkan game yang sudah saya tinggalkan beberapa tahun, just to found some of my friends are still around. Selain itu bertemu beberapa kawan baru yang menyenangkan. Cool!
  4. Target membaca di tahun 2017 adalah 55 buku. Turned out membaca lebih dari itu sebab targetnya mampu dipenuhi dengan lebih cepat. Berkenalan sama Abah Terry Pratchett, Gabriel Garcia Marquez, Mary Roach, Kurt Vonnegut, dan sederetan nama lainnya. Senang!
  5. Di tahun 2017 saya belajar untuk lebih mencintai diri sendiri. Menemukan bahwa “I’m my own soulmate”. After all of the trouble I’ve been thru, I decided to love myself more than anyone else because I’m the one who could love myself properly and I’m the one who will never leave;
  6. Oh iya saya juga menemukan sistem seleksi alam tidak cuma terjadi di organisasi. Semakin tua saya semakin don’t give a fudge about social life. I mean, build so many networks or friendship or apapun lah you name it sudah tidak begitu penting lagi saat ini. Sebab pada akhirnya ada orang yang tanpa kamu jelaskan apapun soal dirimu akan mengerti dan tetap menjadi temanmu, tapi ada juga yang yah easily judge and easily go. Jangan sedih, itu hal yang biasa kok;
  7. Masih di tahun 2017 juga saya belajar untuk kembali mencintai manusia. Azek! After all that self-love contemplation, saya merasa siap untuk finally build a relationship with a guy. Bukan hanya karena saya merasa cukup wise untuk tidak membiarkan toxic people and relationship, tapi juga karena Tuhan kebetulan mempertemukan saya dengan orang baik yang (saya percaya) mau bersama-sama saling mengimbangi satu sama lain;
  8. First time traveling with boyfie!!! Jalan-jalan ke Bandung. Literally jalan-jalan pakai kaki putar-putar sekitar kota Bandung. Satu-satunya tempat wisata yang dikunjungi adalah Museum Geologi. Lihat fosil nenek moyangnya Salmon daaaaaaaaaaan makan Cuanki Serayu setelahnya. Uh bahagiaaaa. Enyak sekali! Yang paling bikin seru adalah mencari Lekker Story jauh-jauh cuma untuk menemukan bahwa mereka tutup. Eh Bapak tukang parkir disitu cerita bahwa mereka memang jualannya begitu, sesukanya aja kalau tutup sampai dikomplain sama Go-Jek. Wkwkwk.
  9. Pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Sumatera Barat ada di tahun ini. Luar biasa! SAYA-JATUH-CINTA. Beautiful scenery, great foods, I love it! Berkunjung ke Bukittinggi, melihat Ngarai Sianok, makan sate padang kuah kuning, makan nasi (padang) banyak-banyak, makan mie rebus di pinggir Danau Singkarak. Superb! Oia, sempat ke salah satu tempat ngopi yang hits di Bukittingi. Keren abisssss!!! Sayangnya, pas saya kesana mereka sudah hampir close order dan sudah gak ada stok makanan. So sad. Definitely will come back to this place one day;
  10. Dapat kesempatan menghabiskan waktu 8 hari 7 malam di Yogya. Bisa ketemu pacar hampir tiap hari, makan-makanan yang menemani di masa-masa kuliah dulu. Menyadari Yogya sekarang makin ramai, makin metropolis, dimana-mana macet. Huft! Tapi gimana ya, susah untuk benci sama Yogya yang selalu teristimewa. Terbaik adalah saat berkunjung ke Mangunan. Fyi, saya belum pernah kesana selama 4 tahunan di Yogya. Di perjalanan nemu tukang Cimol + Kentang Goreng dan Onde-onde + Molen yang Masha Allah enak sekali! Lebay wkwkwk. But seriously, it’s even more delicious than Cimol alun-alun. Aaaaa finally found my long lost love. Delish!
  11. Oh iya, finally timbangan mencapai 53 kg setelah selama beberapa tahun terakhir konsisten bertahan di angka 48-50. Bahkan pernah ada di angka 46 wkwkwk. What’s the secret? Eat like crazy and don’t forget to laugh often, peeps!

      Yah sebenarnya selain hal-hal yang menyenangkan di 2017 ada juga hal-hal yang kurang menyenangkan. Misal, skip outing kantor ke Karimunjawa, friends turned to enemies, mantan yang masih ganggu-ganggu (ewwww), orang aneh yang hack-hackan socmed. Duh! Bahkan mungkin hal-hal yang kurang menyenangkan malah mendominasi di 2017 cuz as far as I know my 25 was full of mess. Wkwkwk. Tapi yang gitu-gitu biar di-keep sendiri aja kali yhaa. Yang positif-positif aja yang dishare. Xixixi.

      Akhir kata, overall 2017 saya was not good. Tapi saya menutupnya dengan sempurna. So, bye 2017! Saya gak mau bilang 2018 please be good, sebab I know it won’t happen. Not in hundred years. Wkwkwk. Salam,

      Advertisements

      Hai, Pria! 😊

      “Pria-ku, saat gendut maupun kurus. Saat tertidur atau terbangun.” (Source: Nyolong di twitter Pria tanpa izin. Sekian)

      Akhirnya 10 Desember (lagi) ya? Sudah berapa 10 Desember kau lewati sejak pertama kali kau mengenal dunia? Pastinya, ini 10 Desember-mu yang pertama bersama aku.

      Pria, sejak pertama kita berkenalan aku melihatmu sebagai sesosok lelaki yang gak neko-neko walau kucing kesayanganmu bernama Neko. Baguslah, sudah bosan aku dengan segala keneko-nekoan. Kuharap hidup juga gak akan neko-neko terhadapmu, sebagaimana kau gak neko-neko menjalani hidup.

      Pria, mereka bilang quarter-life-crisis is sucks. Trust me, it is. Wkwkwk. As I’ve been thru dat phase earlier, u’ve got to trust me. 25 tahun itu, masa-masanya berlari. Semua orang berlari, berlomba, takut tertinggal. Tapi percayalah, semua orang punya masa-nya masing-masing. Don’t be so hard to urself while u’re running in ur own timing. Kau tahu? Aku akan dengan senang hati menyemangati-mu untuk terus berlari seperti banner teh Javana yang fotonya merupakan salah satu dari 5 foto di Instagram-mu. Walau yah, fotoku gak ada di Instagram-mu sepertinya.

      Pria, sebagian besar 25-ku kujalani dengan kacau. Namun, ia kututup dengan gembira. Kenapa? Sebab kau ada disana. Yah setidaknya tidak kacau-kacau amat lah jadinya. Terima kasih, yah! Nah, di opening ceremony 25-mu ini kuharap kamu mengawali, menjalani, dan menutupnya dengan gembira. Yang kacau biar cukup 25-ku saja.

      Pria, banyak-banyak lah kau tertawa dengan 25. Berkawan baiklah dengannya. Aku yakin tawamu sama menghipnotisnya bagi dia, sebagaimana tawamu menghipnotisku. Oh iya, tawamu menular, tahu! Makanya banyak tertawa supaya 25-mu juga penuh dengan tawa. Kan enak kalau tertawa terus. Asal jangan tertawa tanpa sebab, itu artinya kau gila.

      Pria, aku tahu hidup kadang gak lurus-lurus amat. Hari ini kita diajak tertawa terbahak, besok diajak menangis menggerung. Yah sekuat apapun aku berharap 25-mu semuanya tawa, mana bisa kita prediksi hidup akan se-kooperatif itu. Tapi yakinlah saat kau menangis karena hidup, ingin sekali kuhajar dia sampai babak belur. Sayangnya, hidup sudah menghajarku sampai babak belur duluan sehingga aku tahu mustahil membuatnya babak belur. Ya makanya, aku cuma bisa memberi kau tisu yang dibeli di Alfamart Jalan Asia Afrika. Oh dan satu dua peluk plus jajanan aci telur kesukaanmu tentunya.

      Pria, akhir kata selamat memulai 25. Semoga bahagiamu bahagiaku. Semoga aku bahagiamu. Semoga bahagia bahagiamu. Kata Pak SDD yang fana adalah waktu, kita abadi. Namun kuharap waktu kita abadi, tidak habis di 25-mu atau berhenti di 26-ku. Is that too much to ask? 

      Dengan cinta dan sayang,

      P.S: Ewwww… Aku gak alay. Mengerikan.

      Shame on you(r), body!

      “Am I fat? Or am I fat?” (source: itu ada di gambarnya kaleee.wkwkwk)

      “Kurus banget sih, cungkring!”

      “Eh gemukan ya? Makin tembam loh pipinya.”

      “Item amat mukanya, main mulu sih.”

      “Kok sekarang jerawatan?”

      “Kucel banget mukanya, make up-an dong!”

      “Itu blush-on ketebalan, mukanya kayak habis ditabok.”

      Style-mu aneh sih, gak fashionable.”

      Itu adalah sebagian kecil dari kata-kata yang pernah saya dengar dalam hidup saya. Ya betul banget emang, you can never please the society. Pasti ada aja yang kurang, even artis yang cantiknya hqq masih juga dikomentarin ininya lah itunya lah. Hadeh.

      Saya anak kedua. Kebetulan Mama dan Kakak saya berkulit cerah, berwajah tirus dengan tulang pipi yang visible, bertubuh mungil ala perempuan Indonesia, bibir cerah tanpa polesan. Standar kecantikan nowadays lah. Sementara saya? Berkulit gelap, bertubuh lurus, kurus cungkring yang jika menggemuk maka bertambah lebar lah bahu saya seperti lelaki, pipi tembam, ditambah bibir tipis gelap yang susah buat nyocokin warna lipstik. Saya tahu, saya tidak masuk dalam standar cantik (setidaknya di masa kini, dan di tempat ini). Body, face, make up, style, dan shaming-shaming lainnya bukan sekali dua saya dengar. Dari yang nadanya bercanda, sampai serius.

      Dulu sekali, waktu saya masih kecil saya sering dicandai bahwa saya anak yang ‘dipungut’ entah dari mana oleh keluarga besar. Alasannya? Karena fisik saya berbeda itulah dengan Mama dan Kakak saya. Saya ingat, suatu kali saya pernah sampai menangis karena itu. Padahal setelah saya pikir-pikir, mana mungkin saya anak pungut. La wong Bapak saya berbadan besar, berkulit gelap, berwajah bulat, 11-12 dengan saya. Hahahahaha.

      Wajah saya sensitif, salah produk dikit pasti timbul jerawat. Boro-boro mau pakai produk pemutih, buat hilangin bruntusan yang muncul karena salah produk aja susah. Saya juga banyak alerginya. Stress dikit gatal-gatal, digigit nyamuk pasti membekas, sekarang saya mandi selalu pakai sabun bayi. Mana ada pemutih di sabun bayi?

      Saya juga punya gangguan autoimun, psoriasis di kuku dan (kadang) di kulit kepala. Yang paling terasa kuku saya kalau gak rajin dirawat, minimal dikikir sendiri pakai buffer di rumah ya tampilannya ga halus dan rata kayak kuku normal. Pasti ngelupas-ngelupas dan terlihat bolong-bolong bagai permukaan bulan. Habis di-buffer, manikur, pedikur, tiap kali kukunya tumbuh, permukaan yang tidak rata itu ya muncul lagi. Bayangin demi kuku halus aja, harus ngurusin kuku seminggu sekali. Di kulit kepala juga berasa sih, karena itu buat rambut saya rontok parah. Hahaha. Pernah suatu kali ketika saya gak sempat ngerawat kuku seorang kawan berkomentar, “Ih kok lo cewek kukunya jelek sih.” Udahlah shaming, ditambah pula seksis. Ya gak? Or mungkin, saya aja yang baper? Wkwkwk.

      But anyway, bicara soal baper hal-hal kayak gitu dulu sangat mengganggu saya. Sering malah buat saya gak percaya diri. Sekarang? Ah bodo4mat. Tapi kalau lagi sensi kadang masih suka baper sih. Hihihi. Cuma ga seganggu dulu-dulu aja. 

      Nah, hari ini entah mengapa keingetan. Bukan, bukan saya lagi baper. Cuma tadi itu, saya lagi iseng-iseng lihat beberapa produk skincare dan make-up dengan harga selangit. Eh, saya suddenly berpikir, kita hidup di society dimana standar kecantikan “dibuat” untuk dan oleh pemodal. Kemudian dibantu media untuk mendistribusikan. Fashion line, make up, skincare, everything. Is that fair? Ah jangan ngomong soal fair dulu deh. Secara mendasar, is that okay? We live in a society dimana tampilan luar dinilai berdasarkan standar baku, yang dibakukan entah untuk kepentingan siapa.

      Kita -mungkin saya juga- seringkali mudah mengomentari seseorang based on penampilannya. Entah penampilan fisik aslinya, style-nya, make up-nya, apapun. Yang bermake-up mengomentari yang ga bermake-up, yang kurus mengomentari yang gendut, yang eyeliner dan alisnya on-fleek mengomentari yang gak on-fleek, yang ootd-nya hits mengomentari yang pakainya cuma jeans belel dan t-shirt itu-itu aja, yang (alhamdulillah) syar’i mengomentari yang belum, vice versa. Buat yang suka komen-komen gitu pengen deh bilang, “Who are you to judge?”

      Pernah gak sih kepikir, segala bentuk shaming are kinds of bullying loh. Dan sama seperti segala bentuk bullying, nothing good comes from it. Apa sih keuntungan yang kamu dapatkan dari itu? Ga ada kan? Or mungkin kamu dapat kepuasan batin bahwa ada seseorang yang lebih buruk darimu? Entah lah. Saya harap bukan itu alasannya, sebab menyedihkan sekali lho kamu jika begitu.

      Salam,


      Hi! Thanks for Existing

      “I am lucky that someone like you exist in this universe (and ofc in my fucked up little life).” (Source: Discover Magazine)

      Hai, kamu! I know I’ve been so difficult lately. I made you unhappy and erased your smile several times. I bet it’s something you never imagined before. Sadly, I might be did that consciously. I knew it will cause trouble for us tapi tetap saja aku lakukan. What an egoistic creature I am.

      Bagai buku, kamu terdiri dari banyak lembaran yang harusnya kubuka pelan-pelan. Kususuri halaman demi halaman dan kuresapi dalam-dalam. Menikmati prosesnya yang penuh tanda tanya, “Bagaimanakah akhirnya nanti?” Oleh karena itu, secepat apapun aku membaca mana pernah aku langsung membuka halaman terakhir atau mengecek spoiler di Goodreads karena penasaran. Kamu bahkan lebih berharga dibanding buku-buku favoritku itu, then why did I do something that I won’t ever do to my books, to you? Maaf.

      Bagiku kamu itu rumah tempat aku pulang. Tempat aku beristirahat saat lelah. Tempat aku tertawa saat bahagia. Tempat aku bersenang-senang dan menghabiskan energi. Yang terpenting, tempat yang paling aku rindukan saat jauh dan paling nyaman saat dekat. Aku juga ingin menjadi rumah ternyaman bagi kamu, bukan menjadi yang kamu hindari dan jauhi.

      Kemarin aku memesan affogato di salah satu coffee shop favoritku. Lalu aku berpikir, bagaimana bisa ada orang yang membenci kopi dan tidak menyukai es krim? Padahal bagiku keduanya adalah the best inventions in human history. Aku suka keduanya karena enak, baik saat dinikmati bersama atau tidak. Di cuaca dingin atau panas. Tapi aku yakin kalau aku menyukaimu lebih dari itu. Sebab aku menyukaimu bukan karena melainkan walaupun. Walaupun kamu menyebalkan, sangat menyebalkan. 

      Kamu itu spesial. Lebih spesial dari martabak nutella keju favoritku, yang potongan terakhirnya adalah bagian terenak menurutku. Tiap kali potongan terakhir sudah kutelan, rasanya bagaikan ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Sedih. Jika sesedih itu aku saat gigitan terakhir habis, maka sudah pasti aku akan jauh lebih sedih lagi saat ‘potongan terakhir’-mu lenyap. Maka dari itu, jangan!

      Kamu ingat saat aku memberikan pertanyaan based on meme yang aku dapatkan di Instagram? Diantara pil biru yang akan membawamu straight to the future or pil merah yang justru membalikkan waktumu ke masa lalu, kamu memilih pil merah. Sementara saat kamu bertanya padaku, kukatakan bahwa aku tidak akan memilih satu pun, karena pilihan manapun will lead me to lose you. Hahaha. So may I ask you to never ever choose any pill? Cuz I really can’t bear to lose you.

      Aku pernah bilang, aku tidak bisa menjanjikan bahwa perasaanku akan selalu sama. Baik dari sisi kadar maupun kualitas. Kali ini kutambahkan sedikit, aku juga tidak bisa menjanjikan bahwa hubungan kita akan selalu lancar. Yah, bahkan di Yogya saja sekarang susah kan menemukan jalan yang lancar? Tapi seperti kamu yang willing to try aku juga willing to try my best. 

      I am willing to try my best to make you happy. I am willing to try my best to make you smile. And the most important, I am willing to try my best to keep this relationship as the safest place for us. In that case, if I ever make you unhappy and frown (again), I am also willing to try my best to put everything back to places. To make everything’s right. To be what i supposed to be, the best one for you. Because YOU ARE THE BEST ONE FOR ME. Thanks for existing in my life, man!

      Love,


      24th in An Eye of A Hopeless Romantic

      “Errr… What?” (Source: relatably.com)
       

      Saya selalu merupakan seseorang yang hopeless romantic. Sejak kapan? Entah. Saya tidak ingat. Mungkin sejak pertama kali saya menyukai seorang anak laki-laki di umur 10 tahun. Atau sejak pertama kali saya pacar-pacaran di umur 15 tahun (?). Hmm.

      Saya ingat saya pernah membuat scrapbook, menuliskan poem, memasak dan baking, membuat kupon, menulis cheesy words and take pictures of it, randomly kasih hadiah, menyiapkan surprise kecil, dan melakukan hal lain yang saya pikir akan membuat pasangan saya gembira dan feel loved.

      Being a hopeless romantic while you are a total cuek (apa sih bahasa inggrisnya cuek?) and introverted person rasanya kocak. Cuz i’m not good with expressing my feelings verbally, but in other way around i like to do cheesy stuff and of course write cheesy words. Like a really cheesy one. Even my boyfie said, i’m really good with words. Hahaha. It’s only in written form, dude! Saya gak bisa kalau harus mengatakannya in person while he looks at me right in the eyes. It’s hard. So damn hard.

      Once  my ex -yes, when he already my ex pfftt- said, “You’re too busy with lovey dovey stuff.” He said it in negative way, talked about me and my boyfie at that time -not the one i am being with now-. Not that I always post lovey dovey stuff in social media, but i guess that guy was just being a j*rk. Lmao. I can’t help but laugh to hear him. Kenapa? Karena dulu dia selalu bilang saya cuek af, cuma karena saya jarang banget mengekspresikan perasaan saya. With words. Yaaa as we live in a same town, jauh dari orangtua, we rarely text, hampir selalu bersama kok. Minimal 2 jam sehari lah selama 2 tahun-an saya bertemu dalam sehari. Padahal saya sudah tunjukkan in action. Yha gimana, i’m a (wo)man of action. Scrapbook, poem, breakfast delivery service (sebelum ada go-jek, grab, dll loh), pick-up service, foods, sweets, and stuff. Hahaha. Paradoks banget gak sih (?). He asked for words when i gave actions.

      Another ex, the one i was being with ketika mantan saya yang saya sebut sebelumnya bilang saya too busy with lovey dovey stuff justru selalu bilang, “Ngapain sih, kayak anak SMA tahu gak?” Ya sudah, saya jadi malas untuk melakukan hal-hal yang lovey dovey. Lucu kan? Pas saya gak bisa lovey dovey eh malah dibilang sibuk lovey dovey. Pas saya lovey dovey, eh malah dibilang gak cukup lovey dovey. Haaaa… Energi hopeless romantic saya bisa-bisanya loh tidak tersalurkan selama hampir 5 tahun berturut-turut.

      Banyak quotes di instagram yang bilang, setiap orang yang hadir dalam hidup kita pasti ada alasannya. In romantic relationship, kalaupun gak jadi alias putus minimal kamu jadi tahu apa yang kamu gak mau dari seseorang. Like traits apa yang kamu gak suka, jadi kalau next time kamu ketemu orang lain kamu bisa langsung menandai kalau ada tanda-tanda traits yang menyebalkan. Harusnya bisa lebih aware karena sudah pengalaman lah. Lols. Dari pengalaman saya sebelumnya, saya tahu salah satu trait yang harus sekali saya hindari adalah ignorant dengan ke-hopelessromantic-an saya. Lesson learned.

      My current boyfie untungnya berada di spektrum yang betul-betul berbeda dengan 2 (dua) sampel ex-boyfie yang saya sebutkan. Hamdalah! Bersama lelaki ini saya tidak perlu menahan energi hopeless romantic saya karena (katanya) dia justru suka saat saya melakukan hal-hal bodoh-sok-romantis. He considers my cheesy text as menyenangkan. Entah ya itu jujur atau bohong. Bisa jadi cuma sweet talk saja kan (?). But anywaywe’re friggin far and this ldr kills meeee! Positifnya ya saya jadi rajin mengungkapkan perasaan saya melalui cheesy text. Hahaha. Sisi menyenangkannya adalah saya tahu, lelaki ini gak akan mengatakan hal-hal yang menyakitkan seperti, “Ngapain sih sok romantis?” or “Ngapain sih sibuk cinta-cintaan?” or paling sederhananya “Ngapain sih melakukan hal yang gak penting kayak gitu?” over my cheesy text.

      So far, lelaki yang mengklaim tidak bisa bermulut manis ini adalah one of the greatest gift in my life. Yaaaa at least till now lah. Hahaha. Dia belum pernah menahan, menekan, ataupun berusaha merubah saya -dan saya harap jangan pernah-. Dia meng-embrace ke-hopelessromantic-an saya. Dia lelaki yang membuat saya berpikir, oh masih ada ya lelaki macam ini. Dia lelaki istimewa yang membuat saya merasa cukup walau hanya menjadi seorang Aje. No scoring system. Dia lelaki yang magically membuat insecurities saya menghilang. No wonder, he’s a wizard. Lols. And the last, dia lelaki yang saya harapkan menjadi sintesis dalam proses dialektika cinta-cintaan saya. Icikihir. No more tesis anti-tesis, please!

      P.s: Never been in a situation where i think i need to save all of the movie tickets, dinner bill, and stuff. And now, i dunno why but i feel urge to start it. Lol. I just wanna save all of our memories along with all the footprints. Nah kan cheesy (?)

      P.s.s: Gak mau bilang happy anniversary karena itu salah banget. Monthversary juga gak mau karena maksa banget. Cuma mau bilang, terima kasih ya kamu karena sudah membersamai selama 30 hari terakhir. Yuk sama-sama berproses lagi untuk 30, 180, 365, 730, dan hari-hari selanjutnya. Ayufyu!

      Jarak aku dan rindu

      “Seriously?” (Source: Pinterest)

      *Dedicated to D.H. yang mungkin mulai lelah menanggapi kerewelanku kala rindu.

      Sejak dulu aku selalu tertawa jika ada yang mengeluhkan jarak. Bagiku, jarak bukanlah masalah. Justru jarak berarti lebih banyak momen yang dapat kunikmati sendiri, kata sebagian diriku yang egois. Jarak juga berarti lebih banyak waktu untuk menabung rindu dan cerita yang dapat dibagi saat bertemu, kata sebagian lain dari diriku yang melankolis.

      Namun entah sejak kapan jarak menjadi terasa menyesakkan. Aku yang sekarang payah dengan jarak, sebab jarak membuatku kesulitan untuk menggenggam tanganmu. Kau tahu? Aku mulai khawatir aku akan lupa rasanya genggamanmu sebab terlampau lama kita tak bertemu.

      Aku menjadi benci dengan jarak, karena jarak membuat senyummu hanya dapat kulihat di layar kecil yang datar itu tanpa dapat kurasakan dan kusentuh setiap bagian dari wajahmu. Bahkan kurasa wajahmu mulai samar-samar dalam ingatan. Ah seharusnya kusentuh banyak-banyak dan kusimpan dengan baik dalam ingatan. Tapi kala itu manalah kuperhitungkan akan semerana ini aku dengan jarak. Jarak tidak pernah semenyebalkan ini, tahu!

      Rindu itu berat dan jarak jelas-jelas membuatnya berkali lipat lebih berat karena tak dapat kulihat wajahmu secara live kapanpun aku mau. Sering aku harus menerka bagaimana ekspresimu saat mengatakan ini dan itu di telepon. Ah sial, bahkan saat mengetik ini pun kepalaku penuh dengan dirimu. Kurang berat apa? 

      Aku sadar saat rindu itu datang aku seringkali bersikap menyebalkan. Ya bagaimana lagi, namanya juga rindu. Kan sudah kubilang, rindu itu berat. Jadi maklumi saja, lah!

      With love,


      Entah sementara atau selamanya…

      “Hold it, don’t let me go…” (Source: Pinterest)

      *I dedicate this post to D.H, a guy which came to my life and makes it a lot brighter. Thanks for all the smile you’ve made, Bhabie 🙂

      Sudah lama pagi begitu kelam. Malam begitu muram. Kosong. Begitu kurasakan saat membuka dan menutup mata.

      Kucoret setiap tanggal di kalendar dengan gemas, seakan berupaya menyadarkan diri bahwa sudah waktunya aku berjalan lagi. Tapi apa? Nihil.

      Sudah banyak malam kulalui dengan membaca tanpa henti. Hingga matahari tampak di sela-sela ventilasi. Bahkan aku tidak ingat sudah berapa pagi kulalui dengan penuh kerisauan yang ku tak yakin tentang apa.

      Lalu kamu datang menawarkan entah apa. Teman? Ujarmu dulu kala. Yang kusambut dengan tangan terbuka. One extra friend wouldn’t hurt, pikirku.

      Entah sejak kapan aku mulai sibuk mencarimu saat kehadiranmu tak tertangkap oleh indera. Lalu tersenyum lega saat pesanmu singgah di ponselku. Ajaib. Satu pesan singkat darimu cukup untuk membuatku tersenyum sepanjang hari. Kau ini makhluk apa?

      Ketika aku dan kamu akhirnya menjadi kita, aku masih dipenuhi keheranan mengapa semua terasa mudah. Mengenalmu, menyukaimu, bahkan memutuskan mencoba bersamamu terlepas dari segala pasang surut dan maju mundurnya terasa begitu casual.

      Jika aku bisa memilih ending, tentu akan kupilih saat ini menjadi penutup. Seperti putri-putri dalam dongeng, and they live happily ever after (?). Tapi aku tahu sayang, hidup tidak sesempurna itu.

      Jujur, ketakutanku akan hal yang nampak indah dan baik masih ada. Sisi pesimisku terus berkata, “Ah, semua memang selalu nampak indah pada awalnya. Tunggu saja, nanti juga hancur.

      Tapi, bolehkah aku bersandar dan melupakan semua yang seharusnya dilupakan sejak beberapa purnama lalu? 

      Entah sementara atau selamanya.

      Kuharap sih selamanya…